Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Pembekalan KKN TK Unigoro 2026: Bahas Strategi Analisis Potensi Desa dan Mitigasi Kekeringan di Bojonegoro

Yuan Edo Ramadhana • Senin, 8 Juni 2026 | 11:54 WIB
---
---

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Lembaga dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Unigoro) secara beruntun menggelar pembekalan kuliah kerja nyata (KKN) tematik kolaboratif (TK) di Hall Suyitno, Jumat (5/6/26). Dengan menghadirkan akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unigoro, M. Miftahul Huda, MA., serta ahli klimatologi Unigoro, Dr. Heri Mulyanti, S.Si., M.Sc. Pembekalan kali ini membahas strategi analisis potensi desa sekaligus mitigasi kekeringan di Kabupaten Bojonegoro.

Menurut dosen yang akrab disapa Miftah, identifikasi potensi desa dapat dilakukan menggunakan analisis situasi. Agar dapat dipetakan secara detail masalah serta potensi di desa tersebut secara partisipatif. Sedangkan untuk menyusun rencana strategi pengembangan potensi desa bisa menggunakan metode analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, dan Threats).

“Setelah memetakan analisis SWOT, selanjutnya membuat tabel matriks dan ditentukan sebagai tabel informasi SWOT. Lalu dilakukan pembandingan antara faktor internal yang meliputi Strength dan Weakness, dengan faktor luar Opportunity dan Threats. Setelah itu kita bisa melakukan strategi alternatif untuk dilaksanakan. Strategi yang dipilih merupakan strategi yang paling menguntungkan dengan resiko dan ancaman yang paling kecil,” paparnya.

Baca Juga: Unigoro Paparkan Program Strategis Pendidikan, Pengembangan SDM, dan Pembangunan Daerah, Pemkab Bojonegoro: Dukung Kolaborasi dengan Lintas OPD

KKN TK Unigoro 2026 akan dilaksanakan di 11 kecamatan dekat kawasan hutan. Kedungadem, Sugihwaras, Temayang, Gondang, Bubulan, Ngasem, Sekar, Ngraho, Tambakrejo, Margomulyo dan Bojonegoro. Titik lokasi tersebut acapkali terdampak bencana kekeringan serta mendapatkan atensi khusus dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro. 

Heri menerangkan, masyarakat perlu melakukan persiapan untuk menghadapi bencana kekeringan guna mencegah dampak yang lebih besar. Desa atau kecamatan yang terdampak biasanya akan diupayakan dengan dropping air bersih. “Pilihannya adalah mau adaptasi atau mitigasi? Kalau adaptasi aartinya masyarakat harus berhemat air bersih. Sedangkan mitigasi adalah mencari langkah-langkah untuk mendapatkan lebih banyak air, menyimpan lebih banyak,” terangnya.

Mitigasi jangka panjang dapat berupa menyesuaikan dengan sistem alam serta membangun infrastruktur pendukung. Sedangkan mitigasi jangka pendek berupa memproduksi tempat penampungan air. “Untuk mengurangi risiko kekeringan sejak awal langkah mitigasinya bisa dimulai dari membuat penampungan air, mencari sumber air baru, rencana distribusi air dalam keadaan darurat, konservasi mata air dan menjaga hutan, serta menabung,” papar dosen Prodi Ilmu Lingkungan Unigoro.

Heri menekankan pada kondisi infrastruktur kurang, dana kurang, serta tidak ada penyimpan air maka harus mendahulukan adaptasi. Sebab proses mitigasi membutuhkan teknologi dan dana. (*/din/edo/cho)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kuliah kerja nyata #kekeringan #unigoro #Kawasan Hutan #KKN