RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pasukan penjaga perdamaian PBB (UN Peacekeeper) asal Indonesia yang tergabung dalam satuan penjaga sementara di Lebanon (UNIFIL) kembali menerima serangan saat bertugas pada Kamis (3/4). Akibatnya, tiga personel tentara yang bertugas di wilayah El Addasieh tersebut diketahui mengalami luka-luka.
Insiden tersebut terjadi tak lama setelah tiga anggota pasukan UNIFIL asal Indonesia meninggal dalam serangan terpisah pada Minggu dan Senin lalu (29-30/3). Satu prajurit meninggal saat bertugas di wilayah Adchit Al Qusayr, sementara dua lainnya meninggal setelah diserang di wilayah Bani Hayyan.
Tentu, hal tersebut menjadi sorotan kritis bagi pemerintah Indonesia. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mendesak Dewan Keamanan (DK) PBB untuk mengusut kejadian tersebut dan kejadian lain yang menimpa pasukan secara umum, serta mempertimbangkan langkah penguatan perlindungan pasukan UNIFIL.
“Serangan atau insiden yang terjadi berulang kali seperti ini tidak dapat diterima. Terlepas dari apapun penyebabnya, kejadian ini menggarisbawahi pentingnya penguatan segera perlindungan bagi pasukan perdamaian PBB di tengah situasi konflik yang semakin berbahaya,” bunyi pernyataan resmi Kemlu RI pada Sabtu (4/4).
Selain itu , Kemlu RI juga menuntut keterbukaan internasional atas kejadian yang menimpa pasukan Indonesaia yang tergabung dalam satuan UNIFIL. “Indonesia juga kembali menyerukan dilakukannya penyelidikan segera, menyeluruh, dan transparan untuk mengungkap fakta, termasuk kronologi kejadian serta pihak yang bertanggung jawab, dan menegaskan bahwa akuntabilitas penuh harus ditegakkan,” lanjut pernyataan tersebut.
Di luar insiden terbaru, Kemlu RI juga mengkonfirmasi proses repatriasi atau pemulangan tiga jenazah tentara meninggal dunia telah dilakukan bersama komando UNIFIL.
Jenazah ketiga tentara tersebut, yakni Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur, dan Praka Farizal Rhomadhon, telah menjalani penghormatan terakhir di Bandara Internasional Rafic Hariri Beirut, dan bakal segera diterbangkan kembali ke tanah air dengan mempertimbangkan menghindari wilayah udara yang masuk dalam konflik bersenjata.
“Dalam kondisi normal, perjalanan dari Beirut ke Jakarta memerlukan waktu setidaknya 17 jam. Namun, saat ini, intensitas kontak senjata di berbagai titik kawasan, termasuk akibat meningkatnya serangan Israel di Lebanon Selatan, tidak hanya menimbulkan keterbatasan pergerakan, tetapi juga menjadikan setiap langkah sebagai pertaruhan keselamatan,” jelas pihak Kemlu. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana