Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengenal Chengdu J-10, Pespur Tiongkok yang Bakal Perkuat TNI AU: Naga yang Serupa dengan F-16 Tapi Tak Sama, Kok Bisa?

Yuan Edo Ramadhana • Jumat, 17 Oktober 2025 | 01:19 WIB
Pesawat Tempur Chengdu J-10 lepas landas. (Dok. National Interest)
Pesawat Tempur Chengdu J-10 lepas landas. (Dok. National Interest)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) bakal memperoleh pesawat tempur baru di samping Dassault Rafale. Pada Rabu (15/10), melalui pernyataan singkat, mengkonfirmasi bahwa Chengdu J-10 bakal jadi anggota baru hangar TNI AU.

“Sebentar lagi terbang di Jakarta,” ujar Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin kepada awak media di kantornya, sebagaimana dikutip dari Jawa Pos.

Selain itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga sudah menyiapkan anggaran untuk mengimpor burung besi asal Tiongkok tersebut. Sama seperti saat sepakat mendatangkan Rafale, Indonesia berencana memborong 42 unit J-10, dengan anggaran total USD 9 miliar (sekitar Rp 148 triliun).

"USD 9 miliar kalau nggak salah atau lebih, saya lupa angkanya. Tapi sudah disetujui, jadi harusnya udah siap semua," jelas Purbaya pada hari yang sama.

Chengdu J-10 telah diproduksi oleh Tiongkok sejak 1996 hingga sekarang, dan menjadi salah satu ujung tombak angkatan udara negeri tirai bambu. Semula diproduksi oleh AVIC yang berasal dari kota Chengdu, sejak 2024 produksi pesawat juga ditangani oleh anak perusahaan mereka, yakni GAIC yang didirikan di kota Guiyang, provinsi Guizhou.

Meskipun sudah diproduksi sejak 1996, J-10 baru dapat digunakan oleh angkatan udara Tiongkok untuk kebutuhan militer sejak 2005. Menurut laporan International Institute for Strategic Studies 2024 silam, sudah ada lebih dari 600 J-10 yang diproduksi untuk berbagai negara.

Sesuai dengan kebijakan NATO terhadap alustsista blok timur, J-10 punya kode identifikasi tersendiri di kalangan blok barat untuk menyebut pesawat ini, yakni ‘Firebird’. AVIC dan militer Tiongkok sendiri punya julukan khusus untuk J-10, yakni ‘Menglong’ alias Naga Ganas.

J-10 diciptakan sebagai pesawat multiperan (multirole) yang dapat dipakai untuk kebutuhan serangan udara maupun serangan darat, terutama serangan bom. Dengan ini J-10 memiliki cukup banyak pesaing di bidangnya, seperti  Lockheed Martin F-16, Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale, Saab JAS37 Gripen, dan banyak lagi. J-10 menggantikan pendahulunya, yakni Shenyang J-7 yang merupakan versi Tiongkok dari MiG-21, untuk kebutuhan tersebut.

Berbeda dengan kebanyakan pesawat tempur Tiongkok yang merupakan ‘jiplakan’ berizin dari pesawat-pesawat Rusia, Chengdu J-10 punya asal-usul yang agak simpang siur. Pihak militer Tiongkok (PLA dan PLAAF) mengklaim bahwa J-10 merupakan salah satu pespur modern pertama yang sepenuhnya dirancang oleh putra bangsa mereka, namun Rusia mengklaim bahwa desain J-10 meniru proyek pespur IAI Lavi milik Israel yang batal diproduksi. IAI Lavi sendiri merupakan tiruan dari F-16 saat masih diproduksi General Dynamics.

Dalam wawancara terbitan humas PLA pada 2007, desainer J-10, Song Wencong mengaku rancangan sayap pespur pendahulunya, J-9 mengikuti tren pespur blok barat yang menggunakan bilah sayap depan (canard) sejak era 1960-an. Namun saat dirinya mengerjakan J-10, Song mengklaim bahwa rancangan keseluruhan pesawat J-10 merupakan karyanya dan tim pimpinannya, termasuk mempertahankan bilah sayap depan dari J-9.

“Desain eksternal dan aerodinamika pesawat tempur baru kami sepenuhnya kami rancang, tanpa bantuan pihak asing, yang merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan bagi saya. Selain itu rancangan sayap depan kami sudah ada sejak 1960-an silam, sehingga tuduhan bahwa J-10 merupakan tiruan dari IAI Lavi merupakan hal yang tidak masuk akal,” jelas Song saat itu.

Tuduhan bahwa J-10 meniru rancangan Israel berasal dari setahun sebelumnya, yakni pada 2006. Dalam wawancara bersama majalah AIN tahun tersebut, Institut Riset Dirgantara Siberia (SibNIA) yang merancang berbagai pespur milik Sukhoi, termasuk keluarga Su-27 (Su-27 hingga Su-35, plus Su-37 yang batal produksi), mengklaim J-10 merupakan ‘gado-gado’ dari pesawat pada zamannya, termasuk IAI Lavi, dan mereka turut membantu Tiongkok membuat pesawat tersebut sebagai konsultan.

“Pesawat ini kurang lebih merupakan IAI Lavi versi mereka sendiri. Namun ada banyak pula peranti dan teknologi dari pesawat-pesawat dari negara lain yang mereka peroleh dari berbagai sumber, yang kemudian mereka gunakan dalam pesawat tersebut,” klaim peneliti SibNIA yang enggan disebut namanya dalam wawancara tersebut.

Sehingga dengan banyak pengaruh desain dari blok barat, J-10 memiliki hasil desain akhir yang serupa dengan F-16, namun dengan tambahan sayap depan di dekat kokpit pesawat. Penggunaan sayap depan juga populer digunakan untuk pesawat multirole, termasuk Rafale yang juga bakal dibawa ke Indonesia. Menariknya, F-16 dan versi produksi Jepangnya, Mitsubishi F-2  malah tidak punya sayap depan tersebut.

Saat ini J-10 diproduksi dalam empat varian, yakni J-10, J-10S yang memiliki dua kursi, J-10AH sebagai model pesawat kapal induk, dan J-10Y sebagai model khusus aerobatik. J-10 sendiri telah memiliki dua varian update, yakni J-10B dan J-10C. Sebagai model paling baru, diyakini Indonesia bakal memborong J-10C, atau J-10CE sebagai varian ekspor.

Selain Tiongkok sendiri, Pakistan juga menggunakan Chengdu J-10 sejak 2012 lalu. Pakistan jadi negara pertama yang menunjukkan kemampuan J-10di medan perang, yakni dalam konflik wilayah Lembah Kashmir pada pertengahan tahun ini. Dalam peperangan tersebut, J-10 milik Pakistan diklaim menembak jatuh setidaknya dua Dassault Rafale milik pasukan India.

Sementara itu, selain Indonesia, Bangladesh juga memulai pembahasan kesepakatan untuk berbelanja J-10 untuk pasukan udara mereka. Arab Saudi dan Mesir juga dikabarkan tertarik menambahkan J-10 untuk armada mereka, dan Mesir telah melakukan uji terbang.

Jika pembelian Chengdu J-10 untuk TNI AU berhasil terwujud, keragaman pespur Indonesia bakal bertambah, dan menambah koleksi pesawat blok timur dan Asia yang dimiliki oleh mereka. Tentu, keragaman tersebut juiga masih bisa bertambah jika proyek kerjasama KF-21 Boramae (Korea Selatan) dan KAAN (Turki) berbuah manis bagi Indonesia dan masing-masing negara sahabat dalam kedua proyek tersebut. (edo)

Spesifikasi Chengdu J-10C

Diperoleh dari berbagai sumber

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#tni au #Sjafrie Sjamsoeddin #militer #pesawat #Rafale #Purbaya Yudhi Sadewa #Tentara Nasional Indonesia #angkatan udara #chengdu #hangar #J 10C #Israel #tni #tiongkok #alutsista #Chengdu J 10 #Dassault Rafale #rusia #pesawat tempur