RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Penganugerahan Nobel Perdamaian pada Jumat sore (10/10) mengundang banyak kejutan. Donald Trump yang digadang-gadang meraih penghargaan tersebut ternyata gagal meraih penghargaan tersebut.
Nobel Perdamaian edisi 2025 dianugerahkan kepada Maria Corina Machado, seorang politisi asal Venezuela. Maria diberi anugerah tersebut berkat usahanya memerjuangkan demokrasi dan kebebasan bersuara di negeri yang terletak di Amerika Selatan tersebut.
Secara spesifik, Venezuela terkenal sebagai negara diktator di bawah kepemimpinan Nicolas Maduro, yang tidak hanya abai terhadap kemiskinan ekstrem warganya sendiri, namun juga hobi memenjarakan dan bahkan mencabut nyawa oposisi. Sehingga momentum pemilihan presiden Venezuela 2024 silam menjadi ajang bagi Maria untuk mencoba mengembalikan demokrasi ke tanah airnya.
Caranya cukup simpel, yakni mengerahkan masyarakat dan relawan sebagai pengawas pemilu independen, demi memastikan suara yang diperoleh tidak memiliki campur tangan. Sepintas cara ini lumrah digunakan di Indonesia, namun karena tindakan tersebut dapat berujung kematian atau penjara di Venezuela, tindakan tersebut dinilai berani, inspiratif dan sesuai dengan asas demokrasi.
Usai penganugerahan, selain menerangkan alasan mengapa Maria mendapat penghargaan tersebut, ketua panitia Nobel Perdamaian, Jørgen Watne Frydnes juga menyempatkan diri membahas soal usulan agar Donald Trump mendapat anugerah tersebut.
Menurut Jørgen, alasan kenapa Donald tidak menerima penghargaan tersebut cukup sederhana. Tanpa secara blak-blakan, Jørgen berisyarat bahwa seluruh dukungan untuk Trump malah menjadi bumerang baginya.
“Setiap tahun, kami menerima banyak surat dan pernyataan dari berbagai pihak yang menyatakan apa itu perdamaian bagi mereka. Kami duduk di sebuah ruangan berisi foto para penerima penghargaan, dan ruangan tersebut berisi keberanian dan integritas. Yang jelas, kami hanya mengambil keputusan sesuai karya dan wasiat dari Alfred Nobel,” jelas Jørgen sebagaimana dikutip dari New York Post.
Selain itu ada pula alasan teknis yang juga sederhana, yakni Trump telat sedikit dalam mencapai tujuan programnya. Kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang ditengahi Trump tercapai pada Kamis (9/10), sementara panitia sudah memutuskan penerima penghargaan pada Senin (6/10).
Berkaitan hal tersebut, Direktur Peace Research Institute Oslo, Nina Graeger juga beranggapan perlu waktu lebih dulu untuk memastikan apakah Trump dapat benar-benar mewujudkan perdamaian di Jalur Gaza. “Tentu dia patut dipuji untuk usahanya mengakhiri peperangan, namun masih terlalu dini untuk melihat apakah kesepakatan damai benar-benar dijalankan, apalagi mencapai perdamaian secara utuh,” jelasnya kepada The Guardian.
Menariknya, Trump dan Maria sama-sama mendukung satu sama lain. Saat Maria diculik oleh pemerintah Venezuela Januari lalu, Trump menyatakan dukungan terhadapnya, serta calon presiden Edmundo Gonzalez yang diusung oleh Maria.
“Mereka secara damai menyuarakan suara dan keinginan masyarakat Venezuela, dengan bantuan ratusan ribu masyarakat berdemo melawan rezim. Jangan sampai mereka tersakiti dan biarkan mereka hidup!” seru Trump melalui media sosialnya saat itu.
Sementara Maria memuji Trump karena melindungi perusahaan AS di Venezuela dari raihan tangan Maduro, dengan menjaga aset minyak bumi milik swasta. “Terima kasih atas komitmen anda terhadap demokrasi dan perdamaian. Dengan langkah tersebut, aset AS tetap terjaga tanpa memberikan keuntungan bagi Maduro,” ucap Maria di media sosialnya pada Juni lalu. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana