Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mantan PM Israel Kritik Rencana Netanyahu Ambil Paksa Jalur Gaza: Mau Perang Untuk Negara Atau Kepentingan Pribadi?

Yuan Edo Ramadhana • Senin, 11 Agustus 2025 | 02:09 WIB
(Dok. UNRWA)
(Dok. UNRWA)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tidak hanya dikritik oleh Perstauan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai negara adidaya di luar Amerika Serikat, rencana Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu untuk mengambil alih paksa wilayah Gaza juga mendapat kritik keras dari dalam negerinya sendiri.

Salah satunya datang langsung dari pendahulunya, Ehud Olmert. Pria yang duduk di kursi PM periode 2006-2009 tersebut menyebut konflik antara Israel dan Hamas harusnya sudah lama selesai, karena dalam pandangannya, tujuan utama peperangan, yakni pelemahan kepemimpinan Hamas sudah tercapai .

“Memang benar perang bertujuan untuk melemahkan Hamas pasca serangan terhadap warga sipil Israel pada 2023 lalu, sehingga kala itu banyak yang mendukung agresi ini. Namun sekarang tujuan perang sudah tercapai, sehingga tidak perlu diperpanjang,” jelas Olmert kepada Independent Arabia Jumat (8/8).

Sehingga Olmert menuduh Bibi (panggilan Netanyahu) sengaja memperpanjang peperangan untuk kepentingan pribadi, termasuk kepentingan kelompok sayap kanan yang menyokong Bibi. Pandangan Olmert, Netanyahu ingin menghindari konsekuensi politik dan pengadilan melalui pengambilan paksa Jalur Gaza.

“Mayoritas masyarakat Israel tidak setuju dengan agenda tersebut (pengambilan paksa wilayah). Kami semua berupaya sekuat tenaga menghentikan rencana ini, karena jika tidak, maka berpotensi menyebabkan bencana dahsyat,” papar Olmert.

Olmert juga mengklaim tidak hanya warga sipil, berbagai purnawirawan militer negeri yahudi tersebut juga tidak setuju dengan rencana pengambilan Jalur Gaza. “Banyak yang menginginkan perang diakhiri, berhubung sudah tidak ada tujuan militer yang perlu dicapai,” lanjutnya.

Sepengetahuan Olmert, total terdapat korban sebanyak 60,000 jiwa warga Palestina di Jalur Gaza sejak 2023, dan jumlah tentara Israel yang gugur juga tidak sedikit.

“Yang perlu dilakukan sekarang adalah mengakhiri tindak kekerasan dan membawa para sandera dan tahanan pulang kembali. Caranya adalah dengan menghentikan peperangan, bukannya malah dilanjutkan, apalagi di hadapan penolakan masal internasional,” tambah Olmert.

Selain respon keras secara verbal dari berbagai negara, Jerman juga bertindak lebih dulu dengan menghentikan ekspor senjata ke Israel pada Sabtu (9/8). (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#amerika serikat #militer #jalur gaza #netanyahu #pbb #Ehud Olmert #palestina #Israel #hamas #gaza #benjamin netanyahu #jerman