RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kebijakan tarif impor yang diberlakukan pemerintah Amerika Serikat (AS) bakal mulai berlaku pada Jumat (1/8). Jelang berjalannya kebijakan tersebut, Presiden AS, Donald Trump mulai melancarkan aksi kembali.
Pada Rabu (30/7), Donald merilis beberapa perubahan dan tambahan ketetapan tarif impor untuk beberapa material dan negara. Sama seperti Indonesia sebelumnya, tarif-tarif tersebut ditetapkan untuk memancing negara yang jadi ‘korban’ untuk negosiasi.
Salah satu yang sukses menurunkan tarif impor mereka adalah Korea Selatan (Korsel), yang turun dari 25 persen menjadi 15 persen. Menurut Reuters, Korsel dan AS menyepakati investasi sebesar USD 350 milyar dari Negeri Gingseng ke AS, plus belanja energi sebesar USD 100 milyar.
Kemudian dari investasi tersebut, Korsel berinvestasi USD 150 milyar untuk teknologi dan jasa pembangunan kapal. Sementara USD 200 milyar sisanya digunakan untuk berbelanja chip komputer, baterai, bioteknologi dan teknologi nuklir.
Sama seperti Indonesia, produk pertanian AS kini dapat masuk ke Negeri Gingseng tanpa batasan apapun, kecuali beras dan daging sapi. Selain itu, kendaraan darat asal Negeri Paman Sam juga dapat diperjualbelikan dengan bebas di pasar otomotif Korsel selama memenuhi peraturan keselamatan setempat.
“Akhirnya kita dapat melewati sebuah rintangan besar. Kesepakatan ini memberi kejelasan bagi kegiatan impor dan ekspor di Korea Selatan,” komentar Presiden Korea Selatan, Lee Jae-Myung.
Sementara itu, India dikenai tarif sebesar 25 persen oleh Trump, dan sedang menjalani negosiasi detik-detik akhir per Kamis sore. “Mereka dikenai salah satu besaran tarif terbesar, sehingga bakal melakukan negosiasi,” ujar Trump.
Selain itu Trump juga mengenakan denda ekonomi terhadap India, berhubung India punya hubungan kental dengan Rusia dalam bidang minyak bumi dan militer melalui keanggotaan BRICS. Namun tidak disebutkan berapa besaran denda tersebut.
“Meskipun India sahabat kami, akhir-akhir ini kami jarang berbisnis dengan mereka akibat tarif perdagangan mereka mahal sekali. Selain itu, mereka juga menjadi pelanggan terbesar Rusia dalam bidang persenjataan dan migas,” tambah Trump.
Yang paling mengejutkan, Trump dan pemerintahan AS menampar Brazil dengan tarif impor setinggi langit, yakni 50 persen dari tarif awal sebesar 40 persen. Gedung Putih mengklaim tarif sengaja ditinggikan sebagai tanggapan dan hukuman atas pemerintahan dan pengadilan Brazil yang diduga menekan kebebasan berpendapat.
Secara spesifik, Gedung Putih menuduh ketua majelis hakim dalam pengadilan mantan Presiden Brazil Jair Bolsonaro, yakni Alexandre de Moraes melakukan penangkapan tersangka tanpa izin serta mengancam hukum kebebasan berpendapat dalam penanganan kasus Bolsonaro.
Bolsonaro sendiri dikenal sebagai sohib kental Trump saat menjabat sebagai presiden, terutama dengan gaya kepemimpinan yang serupa. Jair diseret ke pengadilan Brazil dengan tuduhan mencoba melengserkan penggantinya, Luiz Inacio Lula da Silva setelah kalah dalam Pilpres Brazil 2022.
Tentu, Lula yang kini menjabat sebagai presiden tak mau menerima keputusan tersebut, dan siap memberikan kebijakan balasan.
“Terlebih AS punya surplus dagang dengan Brazil. Kedaulatan ekonomi, kehormatan, dan pertahanan atas kepentingan masyarakat Brazil adalah prinsip kami dalam melaksanakan hubungan antar negara,” jelas Lula dalam media sosial pribadinya.
Meskipun demikian, AS juga menetapkan pengecualian atas kebijakan tarif impor tersebut, dengan keutamaan barang ekspor utama Brazil. Besi, baja, pesawat terbang, jus jeruk, kacang dan migas menjadi beberapa barang penting yang lolos dari jerat tarif impor AS di Brazil. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana