RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Setelah cukup lama berselisih paham mengenai perbatasan negara, perseteruan antara Thailand dan Kamboja meningkat menjadi konflik bersenjata. Thailand mulai melepaskan serangan ke tanah Kamboja pada Kamis Siang (24/7).
Diketahui, angkatan militer Thailand pada Rabu siang telah menerbangkan enam jet tempur F-16 milik mereka, dengan salah satu diantara mengangkut bom yang dijatuhkan ke pos komando militer Kamboja. "Kami telah menggunakan kekuatan udara terhadap target-target militer sebagaimana telah direncanakan," kata Wakil Juru Bicara Angkatan Darat Thailand, Richa Suksuwanon sebagaimana dikutip dari Reuters.
Menurut pihak militer, tindakan ini dilakukan sebagai bentuk pembalasan tindakan tentara Kamboja, yang diduga menembak warga sipil di dekat Kuil Ta Moan Thom, Provinsi Surin, yang ikut dalam wilayah perbatasan yang disengketakan pada Kamis pagi. Selain itu, rudal BM-21 milik Kamboja juga dilepaskan hingga mengenai sebuah SPBU di Thailand, menewaskan dua warga setempat.
Gubernur Provinsi Surin, Sutthirot Charoenthanasak menyebut dua warga sipil meninggal dunia dan sebagian kecil terluka akibat penembakan tersebut. “Usai kejadian tersebut, sekitar 40.000 warga di wilayah perbatasan telah dievakuasi,” ujarnya.
Di luar konflik perang, Thailand juga memanggil kembali duta besar (dubes) mereka di Kamboja pada Rabu (23/7), serta berencana mengusir duta besar Kamboja untuk Thailand. Tidak hanya itu, warga Thailand yang tinggal di Kamboja turut dihimbau untuk pulang, kecuali ada kepentingan mendesak, serta melarang sementara perjalanan ke Kamboja.
“Kami memutuskan untuk menurunkan hubungan diplomatik kami dengan Kamboja hingga tingkat paling rendah,” sebut rilis resmi Kementerian Luar Negeri Thailand.
Sementara itu, pihak militer Kamboja, serta Perdana Menteri Kamboja Hun Manet menuduh Thailand lebih dulu menyerang dan tentara Kamboja hanya berusaha membela diri. Sehingga mereka meminta Thailand untuk menghentikan agresi.
“Kamboja selalu berusaha menyelesaikan konflik secara diplomatis, naun dalam kasus ini, Kamboja tidak punya pilihan lain selain membela diri,” ujar Manet dalam media sosial pribadinya, sebagaimana dikutip dari Phnom Penh Post.
Tidak hanya itu, Manet juga meminta bantuan Persatuan Bangsa-Bangsa untuk menyelesaikan konflik. “Berkaca pada situasi agresi Thailand yang mencederai perdamaian perbatasan, saya meminta pembukaan rapat darurat badan keamanan PBB untuk menghentikan agresi tersebut,” ungkap Manet melalui surat tertulis untuk PBB.
Sebelum peperangan meletus, konflik terakhir antara kedua negara terjadi pada Senin
(21/7), setelah Thailand menuduh Kamboja menanam ranjau di jalur patroli perbatasan. Akibat insiden tersebut tiga tentara Thailand terluka, satu diantaranya harus menjalani amputasi kaki.
Tentu, Kamboja menolak tuduhan tersebut, dan sebaliknya menuduh para Thailand tersesat dan berjalan menuju daerah yang memang dipenuhi ranjau dalam wilayah Kamboja, yang telah lama tersembunyi sejak dulu. Tanggapan ini juga menjadi latar belakang Thailand untuk menarik dubes mereka. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana