RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Konflik India dan Pakistan adalah salah satu konflik berkepanjangan yang paling kompleks di dunia. Perseteruan ini tidak hanya melibatkan isu teritorial, tetapi juga identitas, agama, dan geopolitik regional.
Wilayah yang menjadi titik panas utama adalah Jammu dan Kashmir, daerah pegunungan yang secara geografis strategis dan kaya akan budaya serta sumber daya alam.
Konflik antara India dan Pakistan bermula dari peristiwa pemisahan India oleh Inggris pada tahun 1947. Saat itu, lebih dari 560 kerajaan kecil diberi pilihan untuk bergabung dengan India atau Pakistan. Maharaja Hari Singh, penguasa Jammu dan Kashmir—wilayah mayoritas Muslim namun diperintah oleh seorang Hindu—awalnya ingin tetap netral. Namun, ketika terjadi invasi oleh pasukan bersenjata dari Pakistan, Hari Singh akhirnya menandatangani Instrument of Accession untuk bergabung dengan India. Langkah ini menjadi pemicu utama ketegangan yang berlangsung hingga kini.
Sejak 1947, India dan Pakistan telah terlibat dalam beberapa konflik besar, termasuk:
-
Perang 1947–1948: Perang pertama antara India dan Pakistan yang berakhir dengan intervensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Gencatan senjata menghasilkan pembentukan Line of Control (LoC), yang membagi wilayah Kashmir menjadi dua bagian: satu dikuasai India dan lainnya oleh Pakistan.
-
Perang 1965: Dimulai oleh infiltrasi pasukan Pakistan ke wilayah Kashmir India, yang dibalas oleh serangan besar-besaran oleh India. Konflik ini berakhir melalui mediasi Uni Soviet dan Amerika Serikat lewat Deklarasi Tashkent.
-
Perang 1971: Fokus utamanya adalah kemerdekaan Bangladesh, namun perang ini semakin memperburuk hubungan kedua negara.
-
Perang Kargil 1999: Konflik terbuka terjadi setelah pasukan Pakistan dan militan menyusup ke wilayah Kargil di Kashmir. India berhasil mengusir mereka, namun tensi politik dan militer terus membara.
Pada April 2025, serangan teroris di kawasan wisata Pahalgam, Kashmir, menewaskan sedikitnya 27 orang, termasuk turis. Dilansir dari The Wall Street Journal, India menuduh kelompok militan Lashkar-e-Taiba yang berbasis di Pakistan sebagai dalang serangan tersebut. India membalas dengan melancarkan serangan udara terhadap kamp militan di wilayah Pakistan.
Pakistan menanggapi dengan menembak jatuh pesawat tempur India, sehingga memicu kekhawatiran internasional akan eskalasi konflik. Seperti dikutip dari The Australian, meningkatnya ketegangan ini memunculkan kekhawatiran global akan potensi konflik nuklir, mengingat kedua negara memiliki persenjataan nuklir aktif.
Pada Mei 2025, Amerika Serikat turun tangan sebagai mediator. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Wakil Presiden JD Vance menengahi gencatan senjata antara India dan Pakistan. Namun, meski gencatan senjata disepakati, kedua pihak saling menuduh pelanggaran kesepakatan, menunjukkan bahwa perdamaian masih rapuh.
Beberapa faktor yang memperpanjang konflik ini meliputi:
-
Status Wilayah: India menganggap Jammu dan Kashmir sebagai bagian integral dari negaranya, sedangkan Pakistan mengklaim wilayah tersebut berdasarkan demografi Muslim yang dominan.
-
Revokasi Otonomi: Pada tahun 2019, India mencabut status otonomi khusus Jammu dan Kashmir, langkah yang memicu protes luas dan meningkatkan ketegangan dengan Pakistan.
-
Aktivitas Militan: India kerap menuding Pakistan mendukung kelompok militan bersenjata yang beroperasi di wilayah Kashmir, tuduhan yang dibantah oleh Pakistan.
(kam/cho)
Editor : Hakam Alghivari