Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Baru Kembali ke Sekolah, Guru di Purwosari Diduga Memukul Siswa Hingga Memar

Dhani Wahyu Alfiansyah • Rabu, 28 Januari 2026 | 07:45 WIB
Ilustrasi Aniaya Anak (Ainur Ochiem/R.Bjn)
Ilustrasi Aniaya Anak (Ainur Ochiem/R.Bjn)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Seorang siswa SMK Diponegoro, Desa Kuniran, Kecamatan Purwosari, berinisial SW, diduga menjadi korban kekerasan oleh oknum guru.

Akibat kejadian tersebut, SW mengalami luka memar di bagian punggung usai diduga dipukul menggunakan stik drum karena tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, Senin (26/1).

Menurut keluarga korban Khalimatus Sa’diyah, peristiwa itu terjadi saat adiknya baru kembali masuk sekolah setelah beberapa hari tidak masuk akibat kecelakaan lalu lintas. “Sebelumnya sudah izin tidak masuk sekolah karena disrempet motor (21/1), tabrak lari di tinggal di jalan,” terangnya.

Namun, saat kembali ke sekolah, SW justru mendapat hukuman berdiri oleh oknum guru saat kegiatan ekstrakurikuler Pramuka. Saat menjalani hukuman tersebut, korban diduga dipukul menggunakan stik drum. Kejadian itu sontak membuat ibu korban menangis.

Sa’diyah menambahkan, sejak kejadian tersebut telah dilakukan tiga kali mediasi di Polsek Purwosari. “Sejak kejadian Senin sudah dilakukan tiga kali mediasi di Polsek, terakhir tadi siang,” ungkapnya kemarin (27/1).

Saat ini, kondisi SW disebut sudah memungkinkan untuk kembali bersekolah. Namun, pihak keluarga masih menahan karena alasan tertentu. “Sudah bisa sekolah, tapi belum boleh sekolah karena mau bertemu Pak Camat,” jelasnya.

Selain itu, trauma masih dialami korban. “Masih trauma, karena adik saya lahirnya prematur,” tambah Sa’diyah. Menurut keluarga, kondisi tersebut telah disampaikan kepada pihak sekolah sejak awal.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Bojonegoro–Tuban, Hidayat Rahman, menegaskan bahwa pihaknya tidak membenarkan adanya tindakan kekerasan di lingkungan sekolah.

“Kami sangat tidak membenarkan. Sudah berulang kali kami sosialisasikan agar tidak ada bullying dan kekerasan. Guru boleh memberi sanksi, tetapi sifatnya mendidik, bukan kekerasan,” tegas Hidayat.

Pihak Cabdindik juga mengaku telah menindaklanjuti laporan dugaan kekerasan tersebut. “Kami sudah menugaskan pengawas dan Kasi SMK untuk berkoordinasi dan langsung melakukan pengecekan di SMK Diponegoro,” pungkasnya. (dan/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Guru #cabdindik #SMK Diponegoro #Kekerasan #Siswa #bojonegoro #oknum guru #kecelakaan #Sekolah #pramuka #korban kekerasan #purwosari #Trauma