BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Kesenian Sandur di Bojonegoro semakin langka berdasar jumlah pelaku yang semakin berkurang. Meski telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sejak 2018. Namun, sejarah panjang sandur di Bojonegoro, semakin terkikis oleh zaman. Perlu ada regenerasi peduli seni teater rakyat ini.
Salah satu kelompok sandur tertua di Bojonegoro yaitu Sandur Sekar Sari, masih tetap konsisten tumbuh bersama kearifan lokal di Kelurahan Ledok Kulon. Meski hampir punah, kesenian sandur ini masih punya peminatnya sendiri. Bahkan Rabu (22/6) malam, pendokumentasian sandur oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan di Bojonegoro, menjadi upaya mengabadikan sandur.
Supriyono salah satu pegiat Sandur Sekar Sari mengatakan, pertunjukan sandur kemarin pendokumentasian setelah ditetapkan warisan budaya. Namun, menurutnya kesenian tersebut semakin hari kian berkurang pelakunya. Bentuk sandur hari ini pun tentu berbeda dibanding sandur dahulu, karena telah melalui berbagai perubahan,” ujarnya.
Oki Dwi Cahyo pegiat sandur mengatakan, sandur sebagai ritual pertunjukan diadakan di tanah lapang wujud rasa syukur atas hasil panen dicapai. Namun, semakin berkurangnya masyarakat agraris, sandur hari ini mencoba bertahan dengan mengikuti perkembangan zaman. Tentu untuk tetap bertahan, harus mengikuti perkembangan. Karena setiap zaman punya tradisinya,” ujarnya. (dan/rij)
Editor : M. Yusuf Purwanto