Kesenian tradisional jaranan Taruno Budoyo Dusun Puguh Rejo, Desa/Kecamatan Gondang ini menjadi satu-satunya warisan budaya Jawa yang masih terjaga di tengah derasnya arus modernisasi.
LENNY NANDA, Bojonegoro
JARANAN Taruno Budoyo Dusun Puguh Rejo, Desa/Kecamatan Gondang berdiri sejak 1996, di bawah kepemimpinan Suparji (66), masih bertahan hingga kini.
Jaranan Taruno Budoyo telah menjadi hiburan rakyat yang kerap ditampilkan dalam acara hajatan, bersih desa, hingga peringatan hari besar.
Para anggota kesenian Taruno Budoyo terdiri dari kalangan remaja sampai dewasa.
"Sudah berdiri dari 1996 Jaranan Taruno Budoyo yang main juga dari anak muda sampai orang dewasa ya sekitar 50-an lah" ujar pengurus kesenian Taruno Budoyo, Suyatim selasa (2/9).
Dia menceritakan, kesenian Jaranan Taruno Budoyo terdiri dari Kuda Kepang, Celeng, Ganongan, Barong, Bantengan, Anoman, Barongan kucing, Bopo, dan Club Gamelannya.
Tantangan perjalanan kesenian jaranan Taruno Budoyo adalah mulai banyaknya kesenian jaranan yang baru muncul dengan budget di bawah Taruno Budoyo. Namun, keaslian dan pakem turun temurun tidak dapat ditemukan di manapun.
"Walau banyak jaranan yang mulai muncul kecil-kecilan dengan lebih murah sewanya, tapi kami tetap berdiri dan membawa warisan asli milik kita," tambahnya.
Masyarakat Puguh Rejo pun antusias mendukung keberadaan kelompok seni ini. Tidak hanya sebagai hiburan, Jaranan Taruno Budoyo juga dianggap sebagai identitas dan perekat sosial warga.
Dengan menjadi satu-satunya kesenian jaranan yang tersisa di Kecamatan Gondang, Taruno Budoyo Dusun Puguh Rejo diharapkan dapat terus eksis dan mendapatkan perhatian lebih, baik dari masyarakat maupun pemerintah daerah, agar warisan budaya lokal ini tetap hidup di tengah generasi muda. (len/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana