Konsisten meneliti mengantarkan Heri Septya Kusuma kembali masuk daftar Top 2% Scientists in the World. Akademisi asal Bojonegoro itu mencatatkan pencapaian selama lima tahun berturut-turut.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
Heri Septya Kusuma kembali tercatat dalam daftar ilmuwan berpengaruh dunia edisi 2026. Pencapaian tersebut bukan hasil yang dibangun dalam semalam. Di balik deretan publikasi dan capaian akademik, ada proses panjang yang menuntut ketekunan, ketelitian, serta kesiapan menghadapi kegagalan.
“Penelitian membutuhkan waktu panjang, kesabaran menghadapi kegagalan eksperimen, ketelitian dalam mengolah data, hingga kesiapan menerima kritik dan memperbaiki karya ilmiah,” bebernya.
Baca Juga: Rizky Andreawan, Salah Satu Fotografer Bojonegoro: Gugup saat Potret Khofifah hingga Pratikno
Kebiasaan membaca literatur ilmiah, merangkum temuan, mengembangkan gagasan, membimbing mahasiswa, hingga membangun kolaborasi menjadi bagian dari aktivitas akademiknya. Berbagai persoalan di sekitar juga dapat menjadi pintu masuk untuk melahirkan penelitian yang bermanfaat.
Bidang yang digeluti meliputi teknologi ekstraksi bahan alam, minyak atsiri, pengolahan limbah, pemisahan, teknologi pengeringan, serta pemanfaatan biomassa menjadi produk bernilai tambah.
Bersama tim peneliti di kampusnya, dia turut mengembangkan semen ramah lingkungan berbahan cangkang telur dan eceng gondok, serta pemanfaatan minyak jelantah menjadi bahan bakar padat.
Baca Juga: Muhammad Hanif Habibullah, Juara 1 Single Fairway Piala Bakorwil: Cemas saat Melakukan Kesalahan
Perjalanan Heri dalam daftar tersebut menunjukkan konsistensi sekaligus persaingan yang terus berkembang. Pada edisi 2021–2022, dia berada di urutan ke-68 dari 98 akademisi Indonesia. Posisinya kemudian naik ke-16, ke-10 pada 2023–2024, dan ke-9 pada 2024–2025.
Kemudian, edisi terbaru, tahun 2026 dirinya berada di posisi ke-12, saat jumlah akademisi Indonesia yang tercantum bertambah menjadi 272 orang.
Bagi pria kelahiran Bojonegoro itu, yang dicapai saat ini tidak hanya berkaitan dengan perjalanan akademiknya sendiri. Dia juga berharap keberhasilan tersebut dapat memberi dampak positif bagi daerah asalnya.
“Semakin mendorong generasi muda Bojonegoro untuk percaya, mereka juga memiliki kesempatan mengembangkan pengetahuan, menghasilkan inovasi, dan memberikan manfaat kepada masyarakat luas,” katanya.
Daftar Top 2% Scientists in the World disusun berdasarkan indikator bibliometrik, termasuk sitasi dan indeks publikasi ilmiah. Pencantuman dalam daftar tersebut menjadi salah satu indikator dampak sitasi penelitian, bukan penilaian mutlak atas seluruh aspek kualitas seorang ilmuwan.
Kiprah akademik Heri dapat menjangkau panggung internasional. Lebih dari mempertahankan posisi dalam daftar, perjalanan itu menggambarkan pentingnya menjaga proses belajar dan meneliti agar ilmu pengetahuan terus memberi manfaat bagi masyarakat. (*/msu)
Editor : Hakam Alghivari