Yusuf Susilo Hartono, Pelukis dan Wartawan Senior Kelahiran Bojonegoro Pamerkan Tubuh Urban

Dewi Safitri • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 09:45 WIB
TERUS BERKARYA: Yusuf Susilo Hartono pameran tunggal Negosiasi Tubuh Urban: Tradisi, Warisan dan Gaya Hidup, di Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum, Menteng, Jakarta Pusat, pada 9–18 Oktober 2026. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
TERUS BERKARYA: Yusuf Susilo Hartono pameran tunggal Negosiasi Tubuh Urban: Tradisi, Warisan dan Gaya Hidup, di Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum, Menteng, Jakarta Pusat, pada 9–18 Oktober 2026. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

Melalui lukisan, sketsa, ilustrasi, dan gambar. Yusuf Susilo Hartono membaca tubuh urban. Di dalamnya ada tradisi yang diwariskan hingga gaya hidup yang terus berubah.

DEWI SAFITRI, Bojonegoro


TUBUH bisa menjadi ruang tawar-menawar. Medan pertarungan. Bahkan, tempat suara manusia perlahan dibungkam oleh kenikmatan yang datang. Modernitas, tradisi, dan gaya hidup saling berhadapan.

Baca Juga: Maryam Aisyah Putri Permatasari: Peraih Medali Perunggu Orion Tingkat Nasional 2026

Gagasan itulah yang dihadirkan pelukis sekaligus wartawan senior berasal dari Bojonegoro,Yusuf Susilo Hartono (YSH) melalui pameran tunggal bertajuk Negosiasi Tubuh Urban: Tradisi, Warisan dan Gaya Hidup.

Pameran tunggal ke-14 YSH tersebut berlangsung di Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum, Menteng, Jakarta Pusat, pada 9–18 Oktober 2026.

Lukisan, sketsa, ilustrasi, dan gambar dari beragam medium serta tahun dipamerkan dalam satu rangkaian. Pameran akan diresmikan Maya Saraswati Rizano, profesional komunikasi korporat dan pecinta seni.

Bagi kurator pameran, Dr. Citra Smara Dewi, pameran tunggal YSH ke 14 ini bukan sekadar sublimasi visual atas dinamika ketubuhan dan keurbanan. Melainkan muara dari perenungan batin dan perjalanan spiritual seorang YSH.

Baca Juga: Rahmad Aziz Saputra, Pemenang Lomba Desain Logo HJB 2026: Pernah Gagal sejak Lomba Logo HJB 344

“Melukis dan menulis bagi YSH, yang juga dikenal sebagai wartawan senior, telah menyatu menjadi satu tarikan napas kontemplatif untuk mengendapkan nilai-nilai moralitas dan kebajikan,” ujar Dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tersebut.

Lebih lanjut Citra, yang juga anggota Tim Kurator Galeri Nasional Indonesia mengatakan, melalui pertaruhan estetis dan etis dalam pameran Negosiasi Tubuh Urban ini, YSH mengajak publik untuk memandangi cermin sosial perkotaan kita sendiri.

“Sebuah ajakan untuk mengevaluasi wacana ketubuhan, identitas, dan jiwa kita di tengah riuh rendah zaman yang kian terasing dari esensinya,” tandasnya.

Tubuh sebagai medan pertarungan ideologis, menurut Citra, YSH menjadikan Jakarta dan dinamika megalopolis sebagai ruang spekulasi dan kontemplasi  konseptual.

Tubuh dalam karya-karya terbarunya bukan dibaca dan dinikmati  sebagai representasi anatomis ketubuhan,  melainkan sebuah medan pertarungan ideologis tempat berlangsungnya tawar-menawar atau negosiasi antara modernitas yang hegemonik, jejak tradisi, dan godaan gaya hidup konsumeris.

 Baca Juga: Kapolda Jatim Irjen Pol Dekananto Eko Purwono di Mata Keluarga: Dikenal Suka Diskusi Bukan Instruksi

“Kota besar hadir sebagai struktur yang terus bergolak tempat individu dipaksa melakukan kompromi eksistensial di tengah himpitan sosial, ekonomi, dan politik perkotaan,” ujarnya.

Wacana tersebut mengkristal secara kuat pada karya-karyanya dengan sejumlah pendekatan konsep. Di antaranya, tubuh konsumtif; di samping tubuh sekuler, tubuh adaptif/kreatif, tubuh religius, dan tubuh mengalam.

Melalui penggambaran objek wajah-wajah yang dibungkam oleh aneka komoditas pangan seperti ikan, telur, sate, hingga minuman beralkohol. YSH secara kritis mendedahkan bagaimana gaya hidup urban membelenggu artikulasi manusia.

Bungkaman makanan tersebut menjadi metafora ganda, menelanjangi fetisisme gaya hidup perkotaan sekaligus menyenggol secara tajam dinamika politik-ekonomi kontemporer.

Baca Juga: Muchamad Asyam Rafisqi Juara Kyorugi Provinsi: Berawal dari Coba-Coba

Seperti, persaingan perebutan ruang dan wacana kekuasaan di balik program kebijakan publik seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Wajah-wajah yang dibungkam oleh santapan lezat ini menandaskan bahwa dalam masyarakat konsumtif, artikulasi kritis sering kali dilumpuhkan oleh pemanjaan instan,” tuturnya.

Pameran terbuka untuk umum dan gratis. Sejumlah program publik juga disiapkan selama pameran berlangsung. Berupa diskusi dengan pembicara Citra Smara Dewi dan Dhianita Kusuma Pertiwi mengangkat tema Kedaulatan Tubuh dan Budaya Urban, pada Jumat (14/10) dengan moderator Hilmi Faiq yang merupakan jurnalis atau seniman.

YSH juga akan memberikan klinik sketsa, bagi para sketser pemula, selama berlangsungnya pameran. (*/msu)

Editor : Hakam Alghivari
Cemara 6-Toeti Heraty Museum yusuf susilo hartono Pelukis bojonegoro