Maryam Aisyah Putri Permatasari: Peraih Medali Perunggu Orion Tingkat Nasional 2026

Dewi Safitri • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 07:00 WIB
Maryam Aisyah Putri Permatasari: Peraih Medali Perunggu Orion Tingkat Nasional 2026
BERPRESTASI : Maryam Aisyah Putri Permatasari menunjukkan medali dan piagam juara.(DEWI/RADAR BOJONEGORO)

Bagi Maryam Aisyah Putri Permatasari, matematika adalah sesuatu yang berbeda. Dari angka-angka itu, dia belajar tentang keberanian, kesabaran, sekaligus ketekunan.


Dewi Safitri, Bojonegoro


Usianya baru 11 tahun. Namun, sederet kompetisi telah dilalui. Dari satu perlombaan ke perlombaan berikutnya, Maryam terus melangkah. Tidak selalu membawa pulang medali, tetapi selalu membawa pengalaman baru.

Ketertarikannya terhadap dunia olimpiade matematika bermula ketika duduk di kelas IV. Sang bunda mengikutsertakannya dalam sebuah kompetisi. Awalnya, perlombaan itu hanya dianggap sebagai pengalaman baru. Tidak lebih.

“Matematika memang pelajaran yang paling saya sukai,” ujarnya.

Baca Juga: Nauval Rasyaad, Berharap Lolos Pelatnas untuk Ikut International Geography Olympiad

Dia belajar memecahkan soal dengan cepat dan tepat. Belajar menjaga konsentrasi ketika berada di bawah tekanan. Juga belajar menghadapi peserta lain yang memiliki kemampuan tidak kalah hebat.

Pengalaman mengikuti kompetisi tingkat nasional menjadi salah satu yang paling berkesan. Di sana, Maryam bertemu dengan anak-anak seusianya dari berbagai provinsi. Mereka datang membawa kemampuan, pengalaman, dan semangat masing-masing.

Pertemuan itu membuat Maryam menyadari satu hal. Dunia olimpiade begitu luas. Selalu ada anak-anak hebat yang bisa menjadi teman sekaligus pemacu untuk terus belajar.

“Dari lomba, saya bisa bertemu banyak teman dan belajar dari mereka,” tuturnya.

Tidak semua perlombaan dilalui bersama kedua orang tuanya. Salah satunya ketika Maryam mengikuti kompetisi di Jogjakarta. Saat itu, dia hanya ditemani sang ayah.

Sebenarnya, Maryam berharap ayah dan bundanya bisa mendampingi bersama. Namun, ada kesibukan yang membuat sang bunda tidak dapat meninggalkan aktivitasnya.

Situasi tersebut justru menjadi pengalaman tersendiri. Maryam belajar memahami keadaan sekaligus belajar mandiri. Dia menyadari bahwa dukungan orang tua tidak selalu harus hadir dalam bentuk pendampingan secara langsung.

“Saya harus bisa terbiasa menyelesaikan tantangan soal,” ujarnya.

Bagi anak seusianya, mengikuti lomba di luar daerah tanpa didampingi kedua orang tua tentu bukan pengalaman sederhana. Namun, Maryam berusaha menjadikannya sebagai bagian dari proses tumbuh.

Dia datang ke ruang perlombaan dengan satu tugas: mengerjakan soal sebaik mungkin.

Baca Juga: Rahmad Aziz Saputra, Pemenang Lomba Desain Logo HJB 2026: Pernah Gagal sejak Lomba Logo HJB 344

Setelah itu, tibalah bagian yang paling mendebarkan. Menunggu pengumuman.

Rasa penasaran bercampur dengan degup jantung yang semakin cepat. Apakah jawabannya cukup untuk membawa pulang medali? Apakah usahanya hari itu membuahkan hasil?

“Saat menunggu pengumuman, terkadang saya merasa dag-dig-dug. Penasaran tentang hasil yang telah saya lakukan,” katanya.

Apa pun hasilnya, Maryam berusaha menerimanya sebagai bagian dari perjalanan. Kerja keras itu perlahan menunjukkan hasil. Pada 2025, Maryam meraih medali perunggu Komperasia tingkat kabupaten.

Prestasinya semakin berkilau pada 2026. Sejumlah penghargaan berhasil diraih. Di antaranya medali perunggu Komperasia tingkat nasional, medali perak Orion tingkat kabupaten, medali perunggu Orion tingkat nasional, juara I Piala RA tingkat kabupaten, medali emas IMSEO tingkat kabupaten, medali perunggu IMSEO tingkat provinsi dan nasional, serta juara III KMSI tingkat kabupaten. (*/zim)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
IMSEO maryam olimpiade matematika KMSI Juara