Rahmad Aziz Saputra, Pemenang Lomba Desain Logo HJB 2026: Pernah Gagal sejak Lomba Logo HJB 344

Dewi Safitri • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 07:20 WIB
DESAINER LOGO HJB 349: Rahmad Aziz Saputra, pemenang lomba desain logo HJB 349. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
DESAINER LOGO HJB 349: Rahmad Aziz Saputra, pemenang lomba desain logo HJB 349. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

Jatah gagal menjadi juara desain logo Hari Jadi Bojonegoro (HJB) tampaknya sudah habis, setelah lima kali gagal, akhirnya Rahmad Aziz Saputra juara pertama. 


DEWI SAFITRI, Bojonegoro.


KEGAGALAN berulang, rasa penasaran tak kunjung padam, dan keberanian untuk terus mencoba lagi dan lagi menjadi bekal Rahmad Aziz Saputra kembali mengikuti lomba desain logo Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349.

Lima tahun lamanya, pemuda asal Desa Tulungrejo, Kecamatan Trucuk, itu mengetuk pintu yang sama. Sejak HJB ke-344, tak pernah absen dari lomba desain logo.

Berkali-kali mengirim karya, berkali-kali pula belajar dari hasil yang didapat. Pernah masuk 10 besar. Tahun lalu, langkahnya berhenti sebagai juara tiga.

Baca Juga: Candra Aulia Fawwaz Ashari Langganan Juara: Ditekankan Menjaga Kejujuran

Tahun ini, penantian itu menemukan jawabannya. Nama Aziz berada di posisi pertama. Karyanya dipilih menjadi logo HJB ke-349. Sebuah kemenangan yang jauh lebih berarti daripada sekadar angka di papan pengumuman.

Sebab di balik logo itu, ada waktu yang disisihkan, ada gagasan yang berkali-kali dibongkar, juga ada perjalanan panjang seorang pemuda yang sebenarnya bukan berasal dari dunia desain.

Aziz adalah sarjana Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Desain, baginya bermula dari hobi. Dari rasa suka, kemudian tumbuh menjadi ruang untuk terus belajar, mengeksplorasi, dan menguji kemampuan.

Pria 25 tahun tersebut mengerjakan logo HJB ke-349 hampir sebulan. Sekitar dua pekan digunakan untuk memikirkan konsep. Sepekan berikutnya untuk menerjemahkan gagasan itu ke dalam visual.

Pada awalnya, hanya ada tiga angka, yakni 3, 4, dan 9. Angka-angka itu berderet. Namun berkali-kali diolah, proporsinya tak kunjung terasa pas. Sampai berhenti sejenak pada satu kata dalam tagline HJB ke-349, transformasi.

Dari sana, bentuk melingkar mulai menemukan jalannya. Angka 349 tidak dibiarkan menjadi sekadar angka. Di dalamnya Aziz menyelipkan cerita tentang Bojonegoro.

Figur masyarakat menjadi gambaran pilar utama pembangunan. Riak Bengawan Solo membawa simbol kehidupan. Padi berbicara tentang swasembada pangan dan kesejahteraan. Sementara motif batik menjadi penanda identitas budaya.

Tidak ada unsur yang sengaja dipaksakan. Ia memilih apa yang sudah hidup dan tumbuh di Bojonegoro, kemudian menyederhanakannya agar mudah dikenali.

 Baca Juga: Nauval Rasyaad, Berharap Lolos Pelatnas untuk Ikut International Geography Olympiad

"Intinya, ketika melihat logo ini, langsung bisa mengenali unsur-unsur Bojonegoro, tanpa harus  melihat penjelasan yang terlalu panjang," ujarnya.

Tantangannya itu memasukkan banyak makna tanpa membuat sebuah logo kehilangan kesederhanaannya.

Di sisi lain, Aziz juga harus membagi waktu dengan pekerjaan. Ia sedang merantau ketika proses pembuatan logo berlangsung. Belum lagi dunia desain yang terus berubah dengan hadirnya kecerdasan buatan atau AI.

Baginya, AI boleh membantu mencari referensi dan mengeksplorasi kemungkinan. Tetapi gagasan dan karakter karya tetap harus memiliki identitas penciptanya.

Sebab sebuah karya, barangkali, tidak hanya berbicara tentang apa yang terlihat. Ia juga menyimpan siapa yang membuatnya, dari mana gagasan itu datang, dan untuk apa dipersembahkan.

Itulah yang membuat kemenangan tahun ini terasa begitu personal bagi Aziz. Ia tidak sekadar memenangkan lomba. Ia merasa lima tahun belajarnya menemukan tempat untuk pulang.

Lebih dari itu, ada kebanggaan karena untuk pertama kalinya karyanya dipercaya menjadi bagian dari perayaan daerah tempat ia lahir.

Kini, ia ingin melangkah lebih jauh. Kompetisi tingkat provinsi, nasional, maupun lomba-lomba kreatif lain sudah masuk dalam bayangannya.

Dia berharap, logo HJB ke-349 ini bisa menjadi milik masyarakat bersama. Apa yang dituangkan, benar-benar dapat menggambarkan Bojonegoro yang bertransformasi, berdaya saing, dan bersama-sama menuju Bojonegoro yang adil dan sejahtera.

Paling penting, lanjutnya, logo ini bisa diterima dan memberikan kebanggaan bagi masyarakat Bojonegoro.

Baca Juga: Muchamad Asyam Rafisqi Juara Kyorugi Provinsi: Berawal dari Coba-Coba

"Terima kasih kepada semua pihak yang sudah memberikan kesempatan dan apresiasi terhadap karya saya. Terutama, Allah SWT, orang tua, dan pasangan yang memberi dukungan serta insight tambahan. Juga kepada diri sendiri, karena sudah mau terus berusaha, belajar, dan mendedikasikan waktu untuk bisa mengambil bagian dari kegiatan di daerah tempat saya lahir," tuturnya.

Dia juga mengajak, teman-teman kreator lainnya untuk berani berkarya dan mengambil bagian dari kegiatan-kegiatan selanjutnya.

"Jangan takut mencoba karena mungkin dari satu karya yang kita buat, ternyata bisa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Bojonegoro muda, berkarya," pungkasnya. (*/msu)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Desa Tulungrejo HJB ke-349 hari jadi bojonegoro HJB desain