Tak selalu mudah, tapi Nauval Rasyaad tidak memilih menyerah. Dengan tekad berbalut semangat kuat. Ia berhasil membuktikan, bahwa prestasi dapat bertengger untuk mereka yang tiada lelah berusaha
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
TIDAK sekadar menunjukkan garis batas negara. Lebih dari itu, ada peta yang diam-diam membuka pintu menuju cita. Bagi Nauval Rasyaad, atlas bukan sekadar kumpulan halaman penuh warna. Dari buku itulah, sejak duduk di bangku sekolah dasar, rasa ingin tahunya terhadap dunia tumbuh perlahan.
Baca Juga: Muchamad Asyam Rafisqi Juara Kyorugi Provinsi: Berawal dari Coba-Coba
Atlas pemberian itu menjadi buku favoritnya. Ibu kota negara, bendera, hingga nama-nama tempat di berbagai penjuru dunia dihafalnya. Ketertarikan itu terus bersemi, sampai akhirnya pada awal 2024, ketika duduk di penghujung kelas IX, Nauval mulai menekuni geografi secara lebih serius.
Kini, siswa kelas XII SMA Plus Ar Rahmat tersebut memetik salah satu buah terbaik dari perjalanan panjang itu. Nauval meraih medali perunggu Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026 bidang Geografi tingkat Dikmen.
Bagi Nauval, geografi bukan sekadar mengingat nama kota, negara, gunung, atau sungai. Ilmu itu begitu luas dan kompleks, sekaligus dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di dalamnya ada ruang untuk membaca fenomena, memahami hubungan manusia dengan lingkungan, hingga mengurai berbagai persoalan melalui analisis kritis.
Baca Juga: Perjalanan Iffa Masruroh, Merintis Usaha Kuliner Udang Keju: Dari Lapak CFD hingga Punya Outlet
Jalan menuju podium tentu tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika semangat harus dipaksa menyala. Materi olimpiade yang luas dan tingkat soal yang jauh lebih rumit membuat konsistensi belajar menjadi tantangan tersendiri. Lelah, buntu saat mengerjakan soal, hingga hasil latihan yang belum sesuai harapan pernah datang silih berganti.
Namun, Nauval memilih tidak berhenti pada kegagalan. Setiap kesalahan dievaluasi. Konsep yang belum dikuasai dipelajari kembali. Soal-soal kembali dikerjakan. Begitu seterusnya. “Geografi bukan sekadar hafalan, tetapi tentang kemampuan menganalisis fenomena secara kritis,” ujarnya.
Di arena OSN, perjuangan itu juga mempertemukannya dengan peserta-peserta hebat dari berbagai daerah. Ada soal-soal menantang, ada pengalaman baru, dan ada kawan-kawan dari kontingen provinsi lain yang memperkaya perjalanan.
Prestasinya pun tidak lahir dalam satu malam. Sebelumnya, Nauval telah mengoleksi berbagai capaian, di antaranya juara 1 LCC IPS Dies Natalis Politeknik ATK Yogyakarta 2026, juara 2 AECIVEST UPN Veteran Jawa Timur 2026, juara 3 Student Business Plan Competition (SBPC) STIM YKPN Yogyakarta 2026, Bronze Medal Kossmi ABAK Academy 2026, serta sejumlah penghargaan lain di bidang kebumian, geografi, kewirausahaan, dan pengetahuan umum.
Di balik langkah tersebut, ada orang tua dan guru yang menjadi bagian penting dari perjalanan Nauval. Kini, satu harapan kembali menunggu di depan mata, lolos Pelatihan Nasional (Pelatnas) dan melanjutkan langkah ke International Geography Olympiad (iGeo) yang tahun ini digelar di Latvia.
"Saya berharap lolos dari tahap Pelatnas ke tahap internasional yaitu IGeo yang tahun ini diadakan di Latvia," harapnya. (*/bgs)
Editor : Hakam Alghivari