Janitra Alka Gayatri, Peraih Gold Medals International Equlibrium Science Olympiad 2026

Dewi Safitri • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 07:30 WIB
MENDUNIA: Janitra Alka Gayatri  berhail meraih Gold Medals International Equlibrium  Science Olympiad 2026 (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
MENDUNIA: Janitra Alka Gayatri  berhail meraih Gold Medals International Equlibrium  Science Olympiad 2026 (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

Tidak hanya bersinar di dalam negeri. Berulang kali, nama Janitra Alka Gayatri terpanggil sebagai juara olimpiade internasional.


DEWI SAFITRI, Bojonegoro.


Prestasi gemilang kembali diraih Janitra Alka Gayatri. Setelah bersaing dengan peserta dari 12 negara dalam babak final International Equilibrium Science Olympiad (IESO) di Clark, Filipina pada 5–6 September kemarin.

Siswa akrab disapa Alka ini, sukses meraih Gold Medals, 1st Runner Up di IESO 2026. Mengikuti olimpiade internasional bukan sekadar mengejar medali. Ada kesempatan mengasah kemampuan sains, menguji cara berpikir, sekaligus bertemu dengan peserta dari berbagai negara.

Soal-soal olimpiade sains  internasional yang logic thingking dan analisis juga turut berperan dalam menambah kognitif anak.

Baca Juga: Chasya Fazila Kenar Pawestri, Pemanah Cilik Berprestasi: Ingin Masuk Sekolah Kedinasan Jalur Atlet

Ketertarikan Alka pada sains tumbuh dari kebiasaannya membaca, bertanya, dan mengeksplorasi berbagai hal. Sejak kelas 1 SD, dia mulai menekuni bidang tersebut. Buku ensiklopedia dan komik sains menjadi bagian dari kesehariannya belajar bersama sang mama.

Proses belajar pun tidak hanya berlangsung dengan membaca. Alka dengan didampingi mamanya terbiasa membuka ruang diskusi, membahas materi, kemudian mengerjakan soal beserta pembahasannya berdasarkan bab. Konsep sains juga diupayakan tidak berhenti sebagai hafalan.

Alka diajak menggunakan pancaindra dan menghubungkan materi dengan berbagai hal yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

“Tidak hanya text book, tetapi harus diusahakan merasakan pancaindra agar konsepnya masuk ke aplikasi kehidupan,” tutur Siswa SDI Lukman Al Hakim 

Persiapan menuju kompetisi dilakukan secara bertahap. Setiap perlombaan tidak dibebani target harus menjadi juara. Fokus utama justru pada persiapan matang, latihan soal, penguasaan materi, dan konsistensi belajar.

“Setiap lomba tidak pernah menargetkan hasil, yang ditarget adalah persiapan matang menjelang lomba, drill soal dan materi,” lanjutnya.

Perjalanan menuju prestasi itu tidak selalu berjalan dengan fasilitas yang ideal. Keterbatasan akses belajar dan praktikum menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Untuk menunjang pembelajaran Alka, orang tua kerap membeli sendiri berbagai alat peraga. Mulai model tubuh manusia, perangkat kelistrikan, hingga cermin.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika Alka harus berhadapan dengan peserta dari sekolah internasional maupun International Baccalaureate (IB).

Tidak sekadar menguji hafalan. Kemampuan berpikir logis, analisis, dan berpikir kritis menjadi bagian penting dalam kompetisi. Alka harus mampu memahami konsep dan menerapkannya dalam persoalan yang diberikan.

Baca Juga: Harya Susiana, Pemilik Toko Kopi Djadoel: Awal Usaha Dikira Toko Tembakau

“Tentu fasilitas pendidikan sangat jauh dibanding anak-anak yang bersekolah di sekolah internasional atau IB,” katanya.

Namun, keterbatasan fasilitas tidak membuat proses belajar berhenti. Dukungan keluarga justru menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Orang tua berusaha memberikan wadah belajar sekaligus menjaga agar semangat Alka tidak berubah menjadi beban.

Sebab, Alka masih berada dalam usia tumbuh kembang. Menjaga mood dan mental menjadi tantangan tersendiri. Orang tua ingin Alka memiliki mental juara, tetapi tetap memahami bahwa proses belajar dan berkompetisi harus dijalani dengan konsisten.

“Masih bertumbuh, sehingga mood harus terus dijaga. Jangan sampai semangatnya patah, mentalnya harus juara. Pantang menyerah, tidak mudah putus asa dan konsisten,” ujarnya.

Bagi keluarga, hasil perlombaan juga tidak dijadikan satu-satunya ukuran. Alka diajarkan bahwa usaha dan kerja keras merupakan bagian terpenting dari setiap proses yang dijalani.

“Apapun hasilnya, semua tergantung usahanya. Sehingga anak akan sadar bahwa usaha dan kerja keras lebih akan membuahkan hasil yang lebih baik,” tuturnya.

Perjalanan ke Filipina juga menyisakan cerita tersendiri. Tidak adanya penerbangan langsung membuat Alka dan rombongan harus transit di Singapura. Perjalanan tersebut semakin menantang karena kondisi bencana alam yang sempat menjadi perhatian.

Di tengah perjalanan panjang dan persaingan dengan peserta dari berbagai negara, Alka tetap menemukan kesenangan tersendiri.

“Senang, happy jalan-jalan,” katanya.

Baca Juga: M. Aditiya Putra Setyawan Juara 1 Poster Internasional: Ingin Menjadi Sarjana Pertama di Keluarga

Medali emas dan predikat 1st runner-up dari IESO belum menjadi akhir perjalanan. Alka kini dipersiapkan mengikuti Einstein Olympiad di Berlin, Jerman, pada 26–30 Oktober 2026 mendatang. Proses pengurusan visa untuk keberangkatan tersebut saat ini tengah dilakukan.

Bagi orang tua, setiap kompetisi bukan hanya tentang piala dan medali. Ada proses panjang yang diharapkan membentuk karakter Alka. Apa pun hasilnya, mereka ingin putrinya tumbuh sebagai anak yang mau berusaha, pantang menyerah, dan tidak mudah putus asa.

“Apapun hasilnya mama papa akan selalu sayang Alka, terima kasih sudah bertahan dan berjuang,” ujar Sang Mama, dr. Shinta Sarasati. (*/msu)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
IESO olimpiade internasional SDI Lukman Al Hakim medali emas