DEWI SAFITRI, Bojonegoro.
Di tengah keterbatasan, Muhammad Aditiya Putra Setyawan memilih untuk tidak menundukkan kepala. Remaja 17 tahun asal Desa Bakung, Kecamatan Kanor, itu tumbuh dari keluarga sederhana dan broken home.
Di balik sederet prestasi desain yang diraihnya, tersimpan satu mimpi sederhana, menjadi sarjana pertama di keluarganya.
Adit, sapaan akrabnya, kini duduk di kelas XII MAM 2 Banjaranyar, Baureno. Dunia desain menjadi ruang baginya untuk menyemai harapan. Poster, infografis, video, hingga media menjadi medium untuk menuangkan imajinasi yang sejak kecil bersemayam dalam pikirannya.
Ketertarikan itu mulai digarap lebih serius ketika duduk di kelas XI MA. Berawal dari mencoba mengikuti lomba desain poster yang ditemukan melalui media sosial, Adit perlahan mengenal dunia kompetisi. Namun, jalan yang dilaluinya tidak serta-merta bertabur kemenangan.
Baca Juga: Aldian dan Aldan, Saudara Kembar Jadi Atlet Woodball Berprestasi: Awalnya Gugup Berselimut Takut
Justru kegagalan lebih dulu menjadi teman akrabnya. Berkali-kali mengikuti lomba, berkali-kali pula namanya belum tercatut sebagai juara. Ada masa ketika keinginan untuk berhenti tumbuh. Namun, memilih kembali membuka aplikasi desain, memperbaiki karya, dan mencoba sekali lagi.
“Perjalanan saya lebih banyak dimulai dari kegagalan. Dari situ saya belajar untuk tidak mudah menyerah,” katanya.
Ketekunan itu akhirnya berbuah. Adit berhasil mengoleksi sejumlah prestasi. Di antaranya Juara 1 Poster Contest PENMAS Competition Volume 4 tingkat internasional pada 2026.
Juga Juara 1 Lomba Desain Poster Infografis Nasional bertema “Yang Tampak Aman Belum Tentu Aman” oleh HMJ DIII Anafarma Universitas Setia Budi Surakarta 2026.
Prestasi lainnya diraih dalam berbagai kompetisi baik di tingkat lokal, nasional, hingga internasional. Ada pula prestasi di bidang video kampanye lingkungan dan puisi. Salah satu pencapaiannya bahkan mengantarkan beasiswa kuliah selama satu semester di Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Namun, bagi Adit, penghargaan bukanlah garis akhir. Di balik piagam dan medali, ada perjuangan yang jauh lebih panjang. Tentang bagaimana melanjutkan pendidikan setelah lulus madrasah.
Kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu tantangan. Berasal dari keluarga menengah ke bawah dan tumbuh dalam keluarga broken home, biaya kuliah bukan perkara sederhana. Untuk membantu keluarga, di sela waktu luang ia turut berjualan bensin.
Meski begitu, keadaan tidak ingin dijadikannya alasan untuk berhenti bermimpi. Ada cita-cita yang terus dijaganya erat-erat. Ia ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dengan beasiswa atau biaya terjangkau.
Baca Juga: Maritza Khaira Lubna, Sering Juarai Turnamen Bela Diri: Gugup di Laga Pertama, Demam Usai Bertanding
“Saya ingin menjadi sarjana pertama di keluarga,” ujarnya.
Di belakang langkah Adit, ada ibu, nenek, serta guru-guru yang menjadi sumber kekuatan. Dukungan mereka membuatnya tetap percaya bahwa keterbatasan bukan akhir dari perjalanan.
Kelak, ingin menjadi desainer, videografer, YouTuber, sekaligus bekerja secara profesional. Tetapi untuk sekarang, satu mimpi ingin dituntaskannya lebih dulu. Menjadi sarjana pertama dalam keluarga. Membuktikan bahwa dari rumah yang sederhana sekalipun, sebuah mimpi bisa tumbuh tinggi. Asal terus dirawat dengan keberanian, ketekunan, dan kerja keras. (*/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko