Maritza Khaira Lubna menganggap setiap pertandingan bukan sekadar mengejar medali, tetapi belajar menjadi pribadi tangguh dan rendah hati.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
DEGUP jantung berdetak lebih kencang ketika kaki pertama kali menjejak gelanggang. Rasa gugup bercampur takut menjadi bagian dari perjalanan yang tak terlupakan bagi Maritza Khaira Lubna. Namun, bocah 11 tahun itu memilih tetap melangkah. Menyimpan keberanian di balik seragam Tapak Suci yang dikenakannya.
Khaira, sapaan akrabnya, mulai tertarik pada dunia pencak silat saat duduk di kelas III. Kala itu, dia sering melihat kakak kelas berlatih ekstrakurikuler Tapak Suci di sekolah. Ketertarikan tersebut semakin kuat karena dorongan orang tua yang ingin Khaira memiliki bekal bela diri sekaligus melatih mental.
Baca Juga: Ramaikan HUT RI dengan Lomba Pangkas Rambut: Ubah Stigma Razia, Jadi Adu Gaya
Sejak itu, gelanggang latihan menjadi ruang belajar baru baginya. Bukan hanya tentang jurus, pukulan, tendangan, atau strategi bertanding. Tapak Suci juga mengajarkan siswa SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro tersebut tentang disiplin, nilai keagamaan, serta arti persaudaraan.
“Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah,” kata gadis kecil tinggal di Jalang Panglima Polim tersebut.
Perjalanan Khaira di dunia Tapak Suci mulai berbuah prestasi. Pada kejuaraan pertamanya di Semarang, dia mengaku sangat grogi karena belum memiliki pengalaman bertanding. Seusai lomba, rasa lega justru bercampur dengan tubuh yang tiba-tiba terasa sakit dan panas.
Baca Juga: Sakha Wiratama Abiyyu, Juara Catur Bojonegoro Tingkat Provinsi, Belajar Catur sejak TK
Namun, pengalaman itu tidak membuatnya mundur. Sebaliknya, gelanggang menjadi tempat baginya untuk terus menempa keberanian.
Dia mengatakan, kategori tanding menjadi bagian yang paling disukai. Di atas gelanggang, keberanian, strategi, dan kelincahan diuji. Di samping itu, kebersamaan dan saling mendukung saat latihan juga menghadirkan kesenangan tersendiri bagi Khaira.
Hingga 2026, sederet prestasi berhasil dikoleksinya. Di antaranya Juara II Tanding Usia Dini Tugu Muda Championship Semarang 2024, Juara I Tanding Kelas Bebas Putri Usia Dini Dandim Cup Kota Malang 2024, serta Juara II Seni Tunggal Tangan Kosong Tapak Suci Student Malang 2025.
Pada tahun yang sama, Khaira juga meraih Juara I Tanding Usia Dini Bojonegoro Championship dan Juara III Tanding Usia Dini Alisco Bojonegoro.
Sementara pada 2026, dia sukses meraih Juara III Seni Jurus Tunggal Tangan Kosong Putri Usia Dini Ngawi Championship serta Juara II kategori serupa di Bojonegoro Championship.
Di balik medali-medali itu, ada lelah yang harus ditaklukkan. Sepulang sekolah, latihan fisik berat telah menanti. Ada pula rasa takut terkena pukulan atau tendangan lawan dan gugup sebelum bertanding. Tetapi semua dilalui dengan latihan, arahan pelatih, serta doa orang tua.
Baca Juga: Bukan Sarangan, Ini Pesona Senja Waduk Greneng di Tunjungan
Bagi Khaira, kejuaraan bukan hanya tentang medali. Ada teman-teman baru dari berbagai daerah, perjalanan ke luar kota, dan sederet pengalaman berharga tak terlupa.
Ke depan, dia ingin terus konsisten berlatih dan menembus kejuaraan tingkat nasional. Cita-citanya, menjadi atlet pencak silat yang mampu mengharumkan nama daerah dan sekolah, sekaligus tetap rendah hati dan berbudi pekerti luhur.
“Rasa grogi dan takut itu wajar bagi siapa saja. Tetapi saat kita berani melangkah masuk ke atas gelanggang dan melakukan yang terbaik, di situlah kita sudah menjadi seorang pemenang," pungkasnya (*/msu)
Editor : Hakam Alghivari