Radar History: Kekeringan, Warga Makan Nasi Srinthil

M. Irvan Romadhon • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:00 WIB
SEJARAH KEMISKINAN: Arsip Radar Bojonegoro pada 2003 silam menyguhkan fakta, warga Kecamatan Malo susah mengakses beras saat musim kemarau.(DOKUMENTASI RADAR BOJONEGORO)

 
SEJARAH KEMISKINAN: Arsip Radar Bojonegoro pada 2003 silam menyguhkan fakta, warga Kecamatan Malo susah mengakses beras saat musim kemarau.(DOKUMENTASI RADAR BOJONEGORO)  

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kekeringan menjadi bencana musiman yang melanda Bojonegoro. Juga berdampak besar bagi kehidupan masyarakat. Bahkan, pada 2003 lalu kekeringan membuat masyarakat Kecamatan Malo mengalami krisis pangan.

Berdasarkan asrip Jawa Pos Radar Bojonegoro pada 17 Agustus 2003 ketika kemarau mendekati titik kritis, sebagian besar warga Dusun Ledok, Desa Tinawun, Kecamatan Malo, terpaksa makan nasi srinthil (ubi kayu yang dikeringkan lalu dicampur jagung). Bahkan berlangsung selama dua bulan.

Nasib warga dusun yang berada kawasan Hutan Tinawun itu benar-benar bertolak belakang dengan pernyataan yang selama ini digembar-gemborkan para pejabat pemkab setempat kala itu. Sejumlah pejabat menjamin bahwa warga Bojonegoro tidak akan mengalami krisis pangan pada kemarau 2003 lalu.

Supangat warga Dusun Ledok, Desa Tinawun, Kecamatan Malo mengatakan sejak kemarau makan nasi srinthil menjadi kebiasaan. Terlebih untuk mendapatkan beras susah. Nasi srintil terbuat dari ubi kayu kering lalu dicampur dengan jagung.

‘’ Mau bagaimana lagi? Untuk mendapat beras susahnya setengah mati,” ungkapnya kala itu.

Proses untuk membuat nasi srinthal cukup panjang. Warga harus menjemur ubi kayu dan jagung lebih dulu selama kurang lebih tiga sampai enam hari. Setelah itu, ubi kayu dan jagung yang telah kering dimasak sama seperti menanak nasi.

Bagi Supangat, makan nasi srinthil merupakan kenyataan yang harus dihadapi setiap musim kemarau tiba. Sebab, dia dan sebagian besar warga lainnya tidak mampu lagi membeli beras. Kondisi ini kian diperparah dengan minimnya lahan pertanian penduduk setempat, hanya 2 hektare. Apalagi, pada 2003 lalu, mereka gagal panen.

‘’Karena berbagai kesulitan itulah, warga harus makan nasi srinthil," jelas bapak dua anak ini.

Pengakuan serupa disampaikan Surani, 28, tetangga Supangat. Dia dan keluarganya terpaksa makan nasi srinthil karena kondisi yang serba sulit. Karena tidak mampu lagi membeli bahan makanan lain, sehingga mengandalkan ubi kayu yang ditanam sendiri serta membeli dari tetangganya.

"Yang penting perut terisi daripada tidak makan sama sekali," tuturnya saat itu.

Kepala Urusan Pembangunan Dusun Ledok, Desa Tinawun, Suwarno, mengakui bahwa kesulitan yang alami warganya tersebut disebabkan kondisi geografis dusun yang tidak menguntungkan. Menurut dia, dusun ketika itu berpenduduk sekitar 32 kepala keluarga (KK) tau sekitar 107 jiwa itu berada di mosisi yang serba kesulitan. Yakni, diapit kawasan hutan.

‘’Sehingga kesannya kami sangat terisolasi dan jauh dari pembangunan," kata Suwarno.

Dia memaparkan, pada musim hujan, warga dusun yang terletak di kawasan hutan yang termasuk KRPH Tinawun, RPH Malo, KPH Parengan, itu gagal panen. Begitu juga pada musim kemarau. Tanaman mereka diserang hama tikus dan dilanda kekeringan.

"Akibat itu semua, warga kesulitan pangan hingga tidak mempunyai daya beli," imbuhnya. (irv/msu)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
kecamatan malo kekeringan bojonegoro Kemarau jawa pos radar bojonegoro