AKBP Yenni Diarty, Kapolres Perempuan Pertama di Bojonegoro: Lahir dari Ibu Penjual Pempek dan Ayah

Yana Dwi Kurniya Wati • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 07:51 WIB
SINERGI: Kapolres Bojonegoro AKBP Yenni Diarty (tengah) saat berkunjung di rumah dinas Bupati Bojonegoro Setyo Wahono yang juga didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah, Senin (3/8). (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
SINERGI: Kapolres Bojonegoro AKBP Yenni Diarty (tengah) saat berkunjung di rumah dinas Bupati Bojonegoro Setyo Wahono yang juga didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah, Senin (3/8). (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

Tidak pernah terlintas dalam benak Yenni Diarty bahwa suatu hari dirinya akan mengenakan seragam perwira polisi dan dipercaya memimpin kepolisian di sebuah kabupaten jauh dari tanah kelahiran. Jauh sebelum pangkat dan jabatan melekat pada namanya, ia tumbuh dari keluarga sederhana di Palembang.


YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro


SENYUM tipis dan mata bersinar tampak di raut wajah petinggi polisi wanita (polwan) di Bojonegoro, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Bojonegoro AKBP Yenni Diarty. Ia resmi menjadi Kapolres Bojonegoro menggantikan AKBP Afrian Satya Permadi usai mengikuti serah terima jabatan (sertijab) di Gedung Mahameru Polda Jawa Timur, Selasa (28/7). Perjalanan panjang menuju puncak karier hingga saat ini. Ayahnya seorang guru, sementara ibunya berjualan pempek di kantin sekolah.

Bercerita dengan bangga, perempuan akrab dipanggil AKBP Yenni ini mengorek perjalanannya di ruang pimpinan tertinggi kepolisian di Bumi Angling Dharma ini. Kehidupannya dulu, ia memiliki cita-cita menjadi dokter.

Namun, keinginan tersebut terbentur persoalan biaya. Di tengah keterbatasan itu, tumbuh keinginan lain yang tak kalah kuat, yakni mengangkat derajat orang tua. Jalan menjadi polisi sebenarnya bukan pilihan yang sejak awal ia inginkan. "Dulu saya sebenarnya tidak mau masuk polisi,” kata AKBP Yenni, mengenang perjalanan hidupnya.

Baca Juga: Yanuar Andika, Pelatih Linsensi B Diploma Asal Purwosari: Bangun Karakter Anak lewat Sepak Bola

Pada 1998, perempuan kelahiran Palembang, 25 Juni 1980, itu akhirnya mendaftar sebagai Bintara Polri. Ia menjalani pendidikan di Sekolah Polwan (Sepolwan) Lebak Bulus, Jakarta, hingga lulus pada 1999. Di sanalah jalan hidupnya mulai berubah.

AKBP Yenni justru menunjukkan kemampuan yang menonjol dalam menembak. Ia meraih peringkat pertama kemampuan menembak saat pendidikan Bintara. Prestasi itu kemudian membuatnya dipercaya menjadi instruktur menembak di lembaga pendidikan Polri.

Kemampuan tersebut bukan sekadar keterampilan teknis. Menembak kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya di kepolisian.

Ia dikenal mampu menembak dengan berbagai posisi, mulai dari berdiri, jongkok, dan kayang. Bahkan, ceritanya, dia mampu membidik sasaran tembak menggunakan cermin. Padahal, dalam salah satu pengalaman yang paling diingatnya, ia pernah mengalami luka sobek pada telapak tangannya akibat salah posisi ketika menangkap senapan yang dilempar oleh pelatihnya saat menjalani sesi menembak.

Namun rasa sakit itu tidak membuatnya mundur. Ia tetap mengambil posisi dan menyelesaikan tugasnya. Hasilnya, ia justru keluar sebagai juara pertama. Pengalaman-pengalaman tersebut turut membentuk julukan yang melekat pada dirinya “perempuan tempur.”

Bagi AKBP Yenni, kemampuan seorang polisi perempuan tidak semestinya dipandang berbeda hanya karena dirinya perempuan. Ketangguhan harus dibangun melalui latihan, disiplin, dan keberanian menghadapi situasi. Perjalanan kariernya kemudian berlanjut. Ketika rekrutmen Taruni Akpol angkatan pertama melalui jalur Bintara dibuka pada 2002, Yenni kembali mengikuti seleksi.

Ia diterima dan menjalani pendidikan selama 2,5 tahun. Pada 2005, Yenni resmi lulus sebagai perwira pertama dengan pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda). Dari pendidikan Bintara hingga Akpol, perjalanan AKBP Yenni menunjukkan bahwa kesempatan yang semula tidak pernah dibayangkan justru membawanya semakin jauh.

Di balik perjalanan karier tersebut, ada cerita keluarga yang tidak banyak diketahui orang. Ia mengenang bagaimana dirinya pernah menangis sendirian di kandang kambing karena mengetahui kenyataan bahwa ia akan masuk kepolisian. "Jadi waktu itu saya nangis di kandang kambing sampai dicari-cari (orang tua)," tuturnya.

Baca Juga: Elsyaralle Adonia Ramadhan, Juara 3 Tenis Nasional 2025: Tantangannya Menjaga Konsistensi Latihan

Ia mengaku datang dari keluarga sederhana. Ayah bekerja sebagai guru, sedangkan ibunya berjualan pempek di kantin sekolah tempat ayahnya mengajar. "Saya lahir dari ayang seorang guru dan ibu penjual pempek di kantin sekolah. Bahkan, saat saya diumumkan lolos masuk kepolisian, ibu saya sampai membagikan gratis pempeknya ke siswa-siswa," tuturnya.

Rekam jejak Yenni kemudian membentang di berbagai penugasan. Pada September 2025, ia dipercaya menjadi Perwira Koordinator (Pakor) Polwan Polda Sumatera Selatan setelah memenangkan pemilihan. Kepercayaan itu diberikan oleh sesama Polwan yang melihatnya sebagai figur mentor sekaligus pemimpin yang mampu mengayomi anggotanya.

Kini, perjalanan tersebut membawanya ke Bojonegoro. Di daerah yang baru menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya itu, AKBP Yenni mengaku memiliki kesan tersendiri terhadap masyarakat.

Ia melihat masyarakat Bojonegoro sebagai orang-orang yang bisa disebut “neriman”—menerima dan menjalani kehidupan dengan apa yang dimiliki. Kesan tersebut justru membuatnya merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga daerah yang kini dipimpinnya dari sisi keamanan dan ketertiban. "Ada tanggung jawab untuk memastikan daerah tempat bertugas tetap aman dan kebaikan masyarakatnya terjaga," ucapnya.

Di rumah, AKBP Yenni juga menjalani kehidupan sebagai seorang ibu dan istri. Ia menikah dengan sesama anggota Polri, AKBP Andi Baso Rahman, yang kini menjabat sebagai Dosen Kepolisian Madya Tingkat III STIK Lemdiklat Polri. Keduanya memiliki dua anak perempuan. (*/bgs)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Kapolres Bojonegoro AKBP Yenni Diarty AKBP Yenni polwan kapolres bojonegoro