1.500 Ayam Dipanggang Bersama Sepanjang 100 Meter di Ledok Kulon

Yana Dwi Kurniya Wati • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 07:00 WIB
MERIAH : Festival ayam bakar yang diselenggarakan pada Sabtu malam. (YANA/RADAR BOJONEGORO.)

 
MERIAH : Festival ayam bakar yang diselenggarakan pada Sabtu malam. (YANA/RADAR BOJONEGORO.)  

Malam Minggu lekat dengan waktu santai bersama keluarga, tak sedikit banyak memilih jalan-jalan dan menikmati waktu bersama. Salah satunya memanggang ayam ramai-ramai di Festival Ayam Panggang Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Kota.


YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro


 ASAP tipis perlahan mengepul dari bara arang. Aroma ayam panggang menguar, menyusuri Jalan Letda Suradji, Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Kota, Bojonegoro, Sabtu (8/8) malam.

Baca Juga: Melihat Gelaran Festival Film Dokumenter Pelajar Bojonegoro: Angkat Kisah Lokal, Dari Pawon Krecek hingga Gipang

Di ruas jalan sepanjang sekitar 100 meter itu, tungku-tungku panggang berjajar. Bara merah menyala di antara tumpukan arang. Di atasnya, potongan ayam berbumbu diletakkan. Sesekali terdengar suara gemerisik saat lemak ayam menetes dan menyentuh bara.

Malam itu, jalanan bukan sekadar menjadi ruang lalu lintas warga. Ruas jalan tersebut berubah menjadi dapur besar.

Sekitar 2.000 orang tumpah ruah. Tua, muda, hingga anak-anak datang. Mereka tidak hanya menjadi penonton. Sebagian ikut memegang penjepit, membolak-balik potongan ayam di atas bara, lalu menunggu hingga kulitnya berubah kecokelatan.

Inilah Festival Ayam Panggang.

Baca Juga: 108 UMKM Ramaikan Wastra Batik Festival di Bojonegoro, ASN Diwajibkan Berkunjung

Sedikitnya 1.500 potong ayam disiapkan dalam festival tersebut. Mulai paha, dada, sayap, hingga bagian lainnya. Pengunjung cukup membeli kupon seharga Rp 10 ribu untuk mendapatkan satu potong ayam, lengkap dengan nasi dan sambal.

Setelah menerima ayam, pengunjung bebas memanggangnya sendiri.

Seketika suasana menjadi riuh. Bara dan potongan ayam memenuhi panggangan yang membentang panjang. Aroma ayam bakar bercampur dengan suara percakapan dan gelak tawa warga.

Di tengah keramaian itu, warga tidak hanya menikmati makanan. Mereka juga menikmati sebuah pengalaman: memasak bersama, makan bersama, dan merayakan kampungnya sendiri.

Festival tersebut tidak hanya menarik warga Ledok Kulon. Pengunjung datang dari berbagai kelurahan dan kecamatan di Bojonegoro, bahkan dari luar kabupaten.

Di antara kerumunan warga, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah turut hadir. Ia datang bersama suami dan saudarinya. Dua kepala organisasi perangkat daerah (OPD) juga terlihat mendampingi, yakni Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Elzadeba Agustina serta Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disdagkopum) Bojonegoro Moh. Akhmadi.

Bagi Nurul, festival tersebut bukan sekadar pesta kuliner. Ada cerita tentang kehidupan ekonomi masyarakat Ledok Kulon yang ikut tersaji di atas panggangan.

"Acara ini luar biasa. Suatu kebanggaan bagi Ledok Kulon dan kami," ujarnya.

Baca Juga: Matangkan Persiapan Festival Salak Wedi, Panitia Siapkan Salak Gratis untuk Pengunjung

Menurut perempuan asal Kecamatan Dander itu, Festival Ayam Panggang mencerminkan budaya sekaligus denyut perekonomian masyarakat Ledok Kulon. Banyak warga setempat menggantungkan penghidupan dari perdagangan ayam segar di sejumlah pasar.

"Masyarakat di sini benar-benar punya kemandirian ekonomi. Menggambarkan nek ora obah ora mamah (kalau tidak bergerak tidak makan, Red.)," katanya.

Karena itu, Nurul mendorong Festival Ayam Panggang tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Menurut dia, festival tersebut layak dikembangkan dan digelar secara rutin.

Salah satu gagasannya adalah mengemas kegiatan tersebut seperti car free night (CFN) atau menjadikannya bagian dari rangkaian Haul Ki Andong Sari.

"Saat ini, Haul Ki Andong Sari sudah masuk di kalender event tahunan pemkab," imbuhnya. (*/zim)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
festival ayam panggang Ledok Kulon disbudpar bojonegoro ayam panggang