RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sapar, 40, warga Desa Ngrancang, Kecamatan Tambakrejo, tewas di hutan setelah ditembak polisi hutan (polhut) KPH Perhutani Padangan pada Sabtu (9/8/2003).
Berdasarkan arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro, sekitar pukul 16.00, korban bersama beberapa temannya sedang mencari kayu (mblandong) di hutan KR-PH Ngrapak, petak 73 C, Blok Sendang Gunting, Dukuh Ngambah, Desa Ngrancang.
Namun, aksi mereka itu dipergoki oleh empat anggota polhut, yakni Mulyono, 49; Sarif, 39; Madiono, 30; dan Suwarlan, 40. Para polhut ini mendekati korban dan teman-temannya kemudian memberi tembakan peringatan.
Baca Juga: Radar History: Sarankan Cari Investor Lain
Mendengar tembakan itu, beberapa blandong langsung melarikan diri. Namun, Sapar tertinggal, kemudian terkena peluru petugas yang nyasar.
Setelah itu, keempat anggota polhut tersebut menghampiri korban yang akhirnya tewas di tempat kejadian tersebut.
Kapolres Bojonegoro AKBP Coki Manurung melalui Kabag Bina Mitra Kompol Warsilan Hs. membenarkan adanya kejadian itu. Korban tewas karena ketidaksengajaan oknum polhut. "Sebab, peluru yang mengenai tubuh korban adalah dari tembakan peringatan yang diarahkan ke atas," ujarnya.
Namun pernyataan Warsilan itu berbeda dengan dr Soepadjar, tim medis RSUD dr Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro. Menurut dokter yang mengautopsi korban, leher bagian kiri korban tertembak menembus paru-paru kemudian mengenai tulang iga kanan.
Baca Juga: Radar History: Perpanjangan Kontrak Exxon Alot
Lebar luka di leher korban 0,8 cm. Peluru itu ditemukan di belakang kulit sebelah iga bagian kanan korban.
Benarkah peluru yang menewaskan blandong itu dari tembakan peringatan? Soepadjar tidak mau menyimpulkan. Hanya, kondisi luka korban dan letak peluru ditemukan, tembakan tersebut dari jarak dekat.
''Kalau dari jarak jauh, rasanya nggak mungkin," katanya.
Kini, tersangka penambakan itu, Suwarlan, diamankan di Mapolres Bojonegoro untuk diperiksa. Sedangkan barang bukti yang juga diamankan antara lain kapak, gergaji, dan benang sipat untuk mengukur kelurusan kayu.
Sementara itu, barang bukti kayu jati yang sudah terpotong tujuh sampai kini masih berada di hutan.
Paman korban, Dasiman, 55, ketika ditemui di rumah sakit mengaku tidak tahu persis peristiwa yang menewaskan keponakannya itu. Dia hanya tahu korban sudah membujur kaku di rumah.
Baca Juga: Radar History: Rombongan DPR RI Turun Gunung
"Dia pamit hanya mau ke hutan. Apa yang dilakukan di hutan, saya tidak tahu persis. Dengar-dengar dia sudah mati kena tembak," ujarnya.
Kepala Desa Ngrancang Suparno, 37, juga mengaku tidak mengetahui pasti kejadian tersebut. Dia baru mendapat informasi adanya penembakan dari warganya beberapa saat setelah kejadian. Namun, dia menolak memaparkan informasi lengkap yang dia terima dari warganya itu. (irv/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah