Berawal dari menekuni bulu tangkis sejak Taman Kanak-Kanak (TK), Ghossan Al-Faruq Tuansyah sudah meraih berbagai prestasi. Meski sebenarnya memiliki darah sepak bola dari sang ayah Aries Tuansyah legenda Persibo.
M. IRVAN RAMADHON, Bojonegoro
BANGGA Ghossan Al-Faruq Tuansyah memarmerkan medali yang diraih dalam Student Badminton Surabaya 2026 lalu. Aufar sapaan akrabnya terlihat bahagia pencapaian diraih dalam kejuraan yang belangsung di GOR Itikminton Surabaya tersebut. Terlebih medali tersebut diraih berkat kerja keras dalam latihan selama ini.
Baca Juga: Ardia Dwi Khairinniswa Afsari, Baru Sepekan Latihan, Sabet Juara Tingkat Jawa Timur
Bakat Aufar di olahraga bulu tangkis sudah terlihat sejak berusia 3 tahun. Kemudian ketika duduk di bangku TK mulai menekuni olahraga yang dimainkan dengan raket dan kok tersebut. Tepatnya dengan bergabung ke persatuan bulu tangkis (PB).
Minat dan bakat anak terakhir dari tiga bersaudara tersebut muncul seiring seringnya Aufar ikut sang kakak pertama Ilham Pratama Tuansyah berlatih dan bertanding. Walau sebenarnya darah sepak bola mengalir kental dari sang ayah Aries Tuansyah legenda Persibo Bojonegoro.
Aufar merasa di bulu tangkis jalan kesuksesan terbuka lebar. Sehingga memilih olahraga tersebut dibandingkan menekuni sepak bola seperti sang ayah. Bahkan bercita-cita menjadi juara dunia di olahraga bulu tangkis.
‘’Menjadi juara dunia,” ungkapnya penuh semangat.
Berbagai prestasi sudah diraih oleh Aufar. Mulai dari Juara 1 Kejurkab Bojonegoro 2025, Juara 1 Kajari Cup Bojonegoro 2025, Juara 1 Popkab Bojonegoro 2025, hingga Juara 1 Student Badminton Surabaya 2026 yang berlangsung Mei lalu.
Siswa SDN Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo tersebut senang melalui bulu tangkis bisa memiliki banyak teman. Juga jalan-jalan ke berbagai wilayah dengan mengikuti kejuaran. Dan paling membahagiakan ketika juara naik podium serta mendapatkan hadiah.
‘’Senang, bulu tangkis sudah menjadi hobi,” ungkap atlet asal Desa Kacangan, Kecamatan Tambakrejo itu.
Namun prestasi yang diraih Aufar melalui kerja keras dan disiplin tinggi. Setiap pagi dan sore atlet 10 tahun tersebut rutin berlatih bersama PB Mannah di GOR Dolokgede.
Tentu bukan sesuatu yang mudah dijalani atlet cilik tersebut. Meski begitu dengan melihat idola seperti Shi Yu Qi, Axelsen, hingga Jonathan Christie menambah semangat untuk berlatih dan bisa menjadi seperti mereka.
Aufar juga mendapatkan dukungan penuh dari orang tua dan keluarga besar. Mulai dari mengantar latihan hingga bertanding di luar kota. Tentu menjadi bukti kasih sayang yang diberikan untuk masa depan yang baik.
‘’Orang tua dan lingkungan keluarga sangat mensupport,” jelasnya.
Kini Aufar ingin terus mengasah bakat dan kemampuan. Tentu untuk bisa meraih prestasi lebih banyak dan mengapai cita-cita menjadi juara dunia. (*/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah