Mariana Rusilia Handayani: Sering Juarai Kompetisi Sastra Tingkat Nasional, Berkesan Menulis Puisi Di Batu dan Genting

Dewi Safitri • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 10:20 WIB
SERING JUARA: Mariana Rusilia Handayani pamerkan piala dan piagam beraneka kompetisi sastra yang ia juarai. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
SERING JUARA: Mariana Rusilia Handayani pamerkan piala dan piagam beraneka kompetisi sastra yang ia juarai. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

Tidak sekadar menjadi hobi yang membahagiakan. Lebih dari itu, bagi Mariana Rusilia Handayani, dunia sastra dan public speaking merupakan ruang menebar inspirasi. Sekaligus, tempatnya meraih rentetan prestasi.

DEWI SAFITRI, Bojonegoro


RENTETAN kata tertulis indah dalam setiap karyanya. Mengalir penuh makna, menjelma doa, mengukir semangat, juga menghubungkan hati dengan hati para penikmatnya. Di tangan Mariana Rusilia Handayani, kata bukan sekadar deretan huruf yang terangkai. Melainkan, caranya untuk mengenal dan dikenal dunia.

Siswi SMAN 1 Sugihwaras itu menemukan rumahnya di dunia sastra, panggung bicara, dan dakwah. Tiga hobi yang dihubungkan untuk menemukan jati diri dan kebahagiaan. Tempatnya belajar, bahwa setiap kalimat memiliki kekuatan untuk mengubah cara pandang seseorang.

Perjalanannya bermula pada 2022. Saat masih duduk di bangku SMP, gadis asal Desa Nglajang, Kecamatan Sugihwaras, itu dipercaya menjadi pembawa acara dalam sebuah kegiatan. Kesempatan sederhana tersebut justru membuka pintu yang lebih besar. Ia jatuh hati pada seni berbicara, lalu menyelami dunia puisi, pidato, ceramah, hingga public speaking dengan kesungguhan yang tak pernah surut.

Baca Juga: Mohamad Rizky Tri Nugroho, Peraih Medali Emas Kejurnas Atletik: Sempat Minder Menghadapi Pelari se-Indonesia

Baginya, sastra bukan hanya tentang keindahan bahasa. Melainkan, ruang untuk menyampaikan keresahan, menebarkan harapan, sekaligus menitipkan nilai-nilai kehidupan. Sementara dakwah menjadi cara lain untuk menghadirkan pesan-pesan kebaikan melalui tutur kata yang santun dan menyejukkan. Dua dunia itu kemudian berpadu, membentuk karakter Mariana yang gemar belajar sekaligus berbagi manfaat.

Tidak hanya sekadar hobi yang dijalani, tiga dunia tersebut juga menjadi tempatnya mengukir rentetan prestasi. Di antaranya, Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori SMA/MA/SMK oleh Creativity Competition Tingkat Nasional 2026; Juara 1 Lomba Baca Puisi SMA oleh Tema Creative Tingkat Nasional 2026; Juara 2 Lomba Cipta & Baca Puisi oleh BA Manajemen Tingkat Kabupaten 2026; Juara 1 Lomba Pildacil Festival Ramadhan 1447H oleh Gema Prestasi Anak Tingkat Nasional 2026; Dan Juara 3 Medali Perunggu oleh Asosiasi Olimpiade Nusantara tingkat Nasional 2026.

Baca Juga: Mengenal Kelas Jalanan Sombat Sambat, Ajak Warga Mengenal Akar Lokal: Mengusung Tema Lokalogi, Belajar dari Alam dan Lingkungan Sekitar

Di balik sederet prestasi tersebut, tersimpan cerita sederhana yang sulit ia lupakan. Suatu hari, inspirasi datang begitu saja hingga ia menuliskan puisi di atas genting dan sepotong batu. Kini genting itu telah pecah, batunya pun entah ke mana. Namun, kenangan tersebut tetap hidup dalam ingatannya. Dari pengalaman itu, ia percaya bahwa inspirasi tidak pernah memilih tempat. Ia hadir kapan saja bagi mereka yang mau mendengarkan suara hati.

‘’Walaupun benda-benda itu sudah tidak ada. Tapi, kenangannya tetap tersimpan dalam hati saya. Sebagai simbol bahwa inspirasi dapat hadir dari mana saja,’’ kata gadis 16 tahun tersebut.

Berdiri di depan banyak orang menjadi bagian yang paling ia nikmati. Membacakan puisi, memandu acara, menyampaikan pidato, hingga berceramah menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Ada kepuasan ketika setiap kalimat yang diucapkan mampu mengetuk kesadaran, menghibur, atau sekadar memberi secercah semangat bagi pendengarnya.

Jalannya tidak selalu mulus. Gugup sebelum tampil, membagi waktu antara belajar dan latihan, hingga menerima hasil yang belum sesuai harapan pernah ia rasakan. Namun, setiap kegagalan justru menjadi ruang belajar yang menguatkan langkahnya untuk terus bertumbuh.

Di balik semua capaian yang diraihnya, ada satu kekuatan yang tak pernah absen mengiringi langkahnya. Yakni, doa orang tua dan bimbingan guru. Dari sanalah ia belajar bahwa keberhasilan bukan hanya milik mereka yang berbakat, tetapi juga mereka yang tekun, rendah hati, dan tak pernah berhenti memperbaiki diri.

Baca Juga: Sabrina Maulani Syahadah, Peraih Juara Rugby Piala Rektor Unesa : Terkesan Bermain Rugby dengan Bule

Kelak, ia ingin dikenal bukan sekadar sebagai peraih prestasi, melainkan sebagai penulis yang menghadirkan karya penuh makna, pembawa acara yang berkelas, dan pribadi yang mampu menginspirasi melalui kata-kata yang lahir dari hati.

‘’Saya ingin menjadi seorang penulis nasional yang mampu menghasilkan karya-karya inspiratif dan dikenal oleh masyarakat luas. Selain itu, saya juga bercita-cita menjadi MC yang dapat membawakan berbagai acara resmi di tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional,’’ pungkasnya. (*/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
Mariana Rusilia Handayani Kompetisi Sastra SMAN 1 Sugihwaras tingkat nasional bojonegoro