Kalau sebagian orang memanfaatkan waktu akhir pekan untuk hal lain selain rutinitas, tak terkecuali para mahasiswa, buruh, hingga ibu-ibu. Di Minggu (12/7) lalu, pojok sisi barat Taman Lokomotif tak seperti biasanya, ada mereka yang berdiskusi dan membaca.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
SORE itu suasana begitu cerah. Anak-anak berlarian dan bermain di ruang terbuka, sementara para pedagang mulai menata dagangannya. Namun, ada pemandangan yang berbeda. Poster-poster berjejer rapi, sebagian berwarna, sebagian hitam putih. Sebuah lapak buku terbuka untuk siapa saja yang ingin membaca. Di sudut lain, belasan orang duduk melingkar dengan antusias mengikuti sebuah diskusi dalam kegiatan bertajuk kelas jalanan.
Diskusi sore itu mengangkat tema Lokalogi, sebuah gagasan yang mengajak masyarakat kembali mengenali lingkungan dan kearifan lokal sebagai sumber pengetahuan.
"Disadari atau tidak, ada satu kejanggalan dalam dunia pendidikan kita. Para pelajar dibuat mengenal luar angkasa sebelum mengenal halaman rumahnya sendiri. Mereka hafal berbagai hal tentang dunia luar, tetapi asal-usul nama kampungnya sendiri justru tidak tahu. Lokalogi lahir dari kejanggalan itu," ujar Wahyu Rizkiawan, pemantik diskusi.
Peserta kelas jalanan berasal dari berbagai latar belakang. Mereka tergabung dalam aliansi sekaligus komunitas cair yang dikenal dengan nama Sombat Sambat. Anggotanya terdiri atas pelajar yang aktif di lembaga pers mahasiswa (LPM), pekerja, pegiat literasi, guru les, jurnalis, hingga dosen yang juga tergabung dalam Solidaritas Perempuan (SP).
Rizkiawan menjelaskan, Lokalogi merupakan metode belajar yang menempatkan kearifan lokal sebagai subjek pengetahuan, bukan sekadar pelengkap muatan lokal dalam kurikulum. Menurutnya, pengetahuan lokal memiliki nilai yang setara dengan disiplin ilmu lain seperti biologi, geologi, maupun sosiologi.
"Lokalogi hadir karena ada yang hilang. Kurikulum sekolah selama ini nyaris tidak memberi ruang bagi konteks lokal. Akibatnya, suara lokalitas tersisih. Anak-anak sekolah sangat pandai memetakan benua lain, tetapi sering kali tidak tahu arah menuju rumahnya sendiri," ujar jurnalis Jurnaba.co tersebut.
Ia menambahkan, Lokalogi bukan sekadar slogan, melainkan sebuah metode belajar yang memiliki tahapan sederhana, yakni mengendus, menyimak, menyentuh, menuturkan, dan merawat. Melalui tahapan itu, peserta diajak memahami lingkungan sekitar secara lebih dekat dan mendalam.
Lokalogi hanyalah satu dari beragam tema yang dibahas dalam kelas jalanan. Salah seorang peserta sekaligus anggota Sombat Sambat, Siti N., mengatakan bahwa kelas jalanan lahir sebagai ruang belajar alternatif yang memberi tempat bagi pengalaman-pengalaman yang selama ini kerap terpinggirkan dalam pendidikan formal.
Menurutnya, setiap tema diskusi dipilih berdasarkan kebutuhan dan kesepakatan peserta. Dengan demikian, materi yang dibahas selalu relevan dengan kehidupan sehari-hari maupun isu-isu publik yang sedang berkembang.
"Kami berharap kelas jalanan menjadi ruang untuk saling belajar, saling menyapa, dan saling mengenal. Semoga semakin banyak orang yang merasa memiliki ruang ini serta berani berbagi pengalaman maupun pengetahuannya," ujarnya.
Baca Juga: Upaya Ciptakan Ruang Diskusi yang Sehat, Belasan Anak Muda Melimgkar di Kedai Kopi
Siti berharap kelas jalanan dapat menjangkau lebih banyak kalangan dan menjadi ruang perjumpaan bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk bertukar gagasan, pengalaman, serta pengetahuan secara setara.
Ia menambahkan, kegiatan Sombat Sambat tidak hanya berupa kelas jalanan. Komunitas tersebut juga menghadirkan lapak buku, panggung atau mimbar bebas sebagai ruang berekspresi. Kegiatan digelar rutin setiap dua pekan dengan lokasi yang berpindah-pindah agar dapat menjangkau lebih banyak warga. (*/zim)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah