Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Saat Tayub Bojonegoro Bertemu Kèjhung Madura: Suguhkan Pertunjukan Kontemporer, Inkubasi Tayub Madura dan Bojonegoro

Yana Dwi Kurniya Wati • Senin, 29 Juni 2026 | 11:18 WIB
BERLATIH : Para penari Nèat Project sedang berlatih sebelum pentas. (YANA)
BERLATIH : Para penari Nèat Project sedang berlatih sebelum pentas. (YANA)

Bojonegoro menjadi bidikan para seniman. Tak hanya band-band besar yang datang, kesenian tayub juga bergeliat di Kota Ledre ini. Salah satunya dengan pertunjukan kontemporer yang memadukan tayub Madura dengan Bojonegoro oleh Nèat Project besutan Sri Cicik Handayani. 

YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro


BANYAK cara untuk menjaga tradisi tetap hidup. Tidak selalu dengan mempertahankannya dalam bentuk lama, tetapi juga dengan mempertemukannya dengan pengalaman dan cara pandang baru tanpa melepaskan akar budayanya. Gagasan itulah yang dibawa Nèat Project melalui tur Kèjhung Lintas Terop yang singgah di Bojonegoro pada 18–19 Juni lalu.

Kolektif seni yang berbasis di Yogyakarta tersebut memulai perjalanan seninya sejak 12 Juni. Banyuwangi, Pasuruan, Bojonegoro, hingga Sumenep menjadi titik persinggahan. Di setiap kota, mereka tidak sekadar mementaskan karya, tetapi lebih dulu membuka ruang dialog dengan kesenian setempat melalui lokakarya dan riset lapangan.

Baca Juga: Perjalanan Reihan Menembus Paskibraka Nasional 2026 Latihan Pagi-Sore, Jaga Asupan Makanan

Di Bojonegoro, perjumpaan itu terjadi dengan Tayub, seni tradisi yang telah lama menjadi bagian dari identitas budaya Kota Ledre.
Di balik pertunjukan Kèjhung Lintas Terop terdapat sosok koreografer sekaligus inisiator Nèat Project, Sri Cicik Handayani. Perempuan yang akrab disapa Cici itu telah meneliti tradisi Tayub Madura sejak 2021.

Ketertarikannya lahir dari kedekatan personal. Ia tumbuh bersama tradisi tersebut dan menjadikannya sebagai pijakan dalam menciptakan karya tari kontemporer.

Selama empat tahun terakhir, Cici mendalami sosok perempuan Tandhak—penari sekaligus penyanyi dalam Tayub Madura. Dari perjalanan riset itu lahir enam karya tari yang mengupas beragam sisi kehidupan Tandhak, Penayub, hingga dinamika sosial yang mengelilinginya.

Namun, menurut Cici, Kèjhung Lintas Terop bukan sekadar membawa pertunjukan yang sama ke berbagai daerah.

"Kami tidak hanya memindahkan karya dari satu kota ke kota lain. Di setiap daerah, karya ini diolah kembali melalui riset terhadap tradisi setempat. Seperti yang kami lakukan di Bojonegoro," tuturnya.

Baca Juga: BPN Kebut Pembebasan Dua Bendungan PSN

Bersama tim Nèat Project, Cici mengamati langsung praktik Tayub Bojonegoro. Pengetahuan yang diperoleh dari Tayub Madura kemudian dipertemukan dengan karakter Tayub Bojonegoro. Dari perjumpaan dua tradisi itu lahirlah sebuah pertunjukan yang memadukan akar budaya berbeda dalam bahasa tari kontemporer.

Sebelum pementasan digelar, Nèat Project juga membuka lokakarya gerak tari bagi para seniman muda Bojonegoro. Ruang belajar itu menjadi wadah berbagi metode penciptaan gerak yang selama ini dikembangkan Cici dalam proses kreatifnya.

Yang menarik, lokakarya tersebut tidak berhenti sebagai forum diskusi. Sejumlah peserta terpilih justru mendapat kesempatan menjadi kolaborator dan tampil bersama dalam pementasan Kèjhung Lintas Terop di Gedung Maharani.

Baca Juga: Berawal dari Media Sosial, Jessy Lolos ICBL 2026 di Malaysia, Rancang Program Khusus Implementasi SDGs

Bagi Cici, seni akan terus hidup ketika tradisi tidak hanya diwariskan, tetapi juga dipertemukan dengan gagasan-gagasan baru. Pertemuan Tayub Bojonegoro dan Kèjhung Madura menjadi bukti bahwa warisan budaya mampu melahirkan percakapan lintas daerah tanpa kehilangan identitasnya.

"Mari menjadi saksi bagaimana seni pertunjukan kontemporer dapat menjadi ekspresi jujur dari pertemuan seni tradisi lintas daerah," pungkasnya.(*/zim)

Editor : Hakam Alghivari
#Kejhung Madura #seni #Tayub #bojonegoro