Langkah Azalea Wahyu Callista tidak selalu mulus, namun tidak pernah berhenti. Buah dari perjuangan menghasilkan rentetan prestasi yang membanggakan.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
KERINGAT yang menetes di arena latihan menjadi saksi perjalanan Azalea Wahyu Callista dalam mengejar mimpi. Di usianya yang baru menginjak 10 tahun, bocah yang akrab disapa Alea itu telah menemukan ruang untuk menumbuhkan mimpi melalui dunia pencak silat Tapak Suci.
Lebih dari sekadar bela diri, melalui Tapak Suci, ia belajar arti keberanian, disiplin, dan semangat pantang menyerah.
Siswi kelas 4 SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro tersebut pertama kali jatuh hati pada bela diri saat melihat kakak-kakak kelas berlatih. Dari kejauhan, menyaksikan gerakan yang lincah dan penuh percaya diri.
Lebih dari itu, ia melihat bagaimana prestasi mampu membuat seseorang tersenyum bangga. Sejak saat itu, Alea ingin berada di tempat yang sama, berdiri di atas gelanggang, membawa pulang kebanggaan untuk dirinya dan keluarga.
‘’Sejak kelas 3 ikut silat,’’ terang gadis kecil asal Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro tersebut.
Di balik tubuh mungil Alea, tersimpan tekad yang tak kalah besar. Ia memilih silat sebagai bekal untuk menjaga diri sekaligus membangun keberanian menghadapi berbagai tantangan. Baginya, latihan bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi tentang belajar menghormati orang lain, mengendalikan emosi, dan membangun persahabatan.
Perjalanannya tidak selalu dipenuhi tepuk tangan. Pernah ia melakukan kesalahan saat latihan hingga harus menjalani hukuman push up 50 kali dan berlari mengelilingi lapangan sekolah. Saat itu lelah terasa begitu berat. Namun dari sanalah Alea belajar bahwa setiap kesalahan selalu membawa pelajaran.
Pengalaman lain yang tak pernah ia lupakan terjadi ketika bertanding. Di tengah pertandingan, napasnya sempat sesak dan membuat panik. Beruntung pelatih segera memberikan pertolongan. Dari kejadian tersebut, ia belajar bahwa kesiapan fisik dan mental merupakan dua hal yang sama pentingnya.
‘’Pernah sesak napas ketika tanding, alhamdulilah pelatih sigap dan dilakukan pertolongan,’’ kisahnya.
Meski masih sering menangis saat kalah, Alea tidak pernah larut dalam kesedihan. Dukungan dari orang tua menguatkan. Sekaligus menjadi semangat tersendiri untuk bangkit dan tampil lebih hebat lagi.
Tidak sia-sia, segala tekad yang tertanam dalam diri Alea berbuah manis. Rentetan prestasi menghiasi jalannya.
Diantaranya, Juara 1, Medali Emas Tanding Usia Dini/Kejuaraan Silat Dandim Cup Kota Malang Tingkat Nasional 2024; Juara 2, Medali Perak Tanding Usia Dini/Kejuaraan Pencak Silat Tapak Suci Astudent National Championship 2025; Juara 2, Medali Perak Tanding Usia Dini/Kejuaraan Pencak Silat Bojonegoro Championship 2025 Tingkat Nasioanal, Dan Juara 3, Medali Perunggu Tanding Usia Dini/Kejuaraan Pencak Silat Ngawi Champhionship IV 2026.
Selain bersinar di bidang bela diri. Alea juga menaruh cinta pada dunia literasi dan bahasa. Prestasi dalam lomba baca puisi, pildacil, hingga bertutur menjadi warna lain dalam perjalanan tumbuhnya.
Kelak, Alea ingin menjadi dokter spesialis anak. Sebuah cita-cita yang tinggi. Sementara itu, ia akan terus melangkah, mengumpulkan pengalaman, menambah medali, dan menjaga mimpinya tetap hidup dengan jurus-jurus yang ditempa oleh latihan serta doa yang tak pernah putus dipanjatkan. (*/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko