Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Berawal dari Media Sosial, Jessy Lolos ICBL 2026 di Malaysia, Rancang Program Khusus Implementasi SDGs

Yana Dwi Kurniya Wati • Senin, 22 Juni 2026 | 13:00 WIB
MEMBUKA JENDELA DUNIA: Jessy Nora Sandy saat di Menara Patronas Kuala Lumpur, Malaysia.
MEMBUKA JENDELA DUNIA: Jessy Nora Sandy saat di Menara Patronas Kuala Lumpur, Malaysia.

 

Masa menjadi pelajar adalah peluang meningkatkan skill dan kompetensi. Ikut berbagai program layaknya Jessy Nora Sandy. Tahun ini, ia lolos International Community Based-Learning (ICBL) 2026 di Malaysia. 

YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro


Siapa bilang tinggal di desa menjadi penghalang untuk meraih mimpi besar? Anggapan itu perlahan runtuh seiring semakin banyaknya anak-anak muda dari pelosok yang mampu menembus panggung nasional bahkan internasional. Salah satunya adalah Jessy Nora Sandi.

Mahasiswa berusia 20 tahun asal Desa Woro, Kecamatan Kepohbaru, Bojonegoro, itu membuktikan bahwa kesempatan bisa datang dari mana saja. Bahkan, langkah pertamanya menuju dunia internasional berawal dari sesuatu yang sangat sederhana: sebuah unggahan di media sosial.

Baca Juga: Ki Trio Wahyu Aji, Dalang Wayang Thengul Asal Kecamatan Kedungadem: Sering Ikut Bapaknya Mendalang hingga Tidur di Belakangnya

Saat menjelajahi Instagram, Jessy menemukan informasi mengenai Program International Community Based-Learning (ICBL) 2026 yang diunggah melalui akun @pmmaunesa. Rasa penasaran mendorongnya mencari tahu lebih jauh hingga akhirnya memberanikan diri mendaftar.

Keputusan itu mengubah banyak hal.

Program yang diselenggarakan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bekerja sama dengan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dan komunitas Gugusan Adela di Kota Tinggi, Johor, Malaysia, membawanya keluar dari zona nyaman. Bukan sekadar bepergian ke luar negeri, tetapi belajar hidup bersama masyarakat dari budaya yang berbeda.

Baca Juga: Aidan Syahm Firman Bhaskara, Pesilat Terbaik Putra Usia Dini: Bermimpi Menjadi Atlet Internasional

"Saya tertarik karena program ini tidak hanya tentang pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga memberikan kesempatan belajar lintas budaya dan memperluas wawasan," tutur Jessy.

Perjalanan menuju Malaysia tentu tidak diraih dengan mudah. Ia harus melewati dua tahapan seleksi. Mulai seleksi administrasi dengan melampirkan curriculum vitae, kartu hasil studi (KHS), serta sertifikat kemampuan bahasa Inggris, hingga mengikuti wawancara bersama tim Direktorat Pendidikan dan Transformasi Pendidikan (DPTP) Unesa.

Kerja kerasnya membuahkan hasil. Jessy dinyatakan lolos dan menjadi salah satu mahasiswa yang diberangkatkan ke Johor.

Di sana, ia dipercaya bergabung dalam divisi acara. Bersama tim, ia menyusun berbagai program yang berorientasi pada Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Beragam kegiatan dijalankan bersama masyarakat setempat. Mulai program Jom Kita ke Ladang yang mengajak peserta belajar langsung di perkebunan sawit, Pesta Sukan Rakyat yang menghidupkan kembali olahraga tradisional, hingga Jalinan Sahabat Serumpun yang mempertemukan mahasiswa Indonesia dengan siswa sekolah di Malaysia.

Baca Juga: Perjalanan Janitra Alka Gayatri Menaklukkan Panggung: Merangkai Nada, Menumbuhkan Percaya Diri Sejak Belia

Tak berhenti di situ, mereka juga menggelar program digitalisasi masjid, penyuluhan parenting, penghijauan kampung, hingga penanaman hidroponik untuk mendukung ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan.

Di tengah padatnya agenda, pengalaman yang paling membekas justru lahir dari hal-hal sederhana.

Keramahan warga Gugusan Adela membuatnya merasa seperti berada di rumah sendiri. Senyum, sapaan, dan keterbukaan masyarakat setempat menghapus sekat yang selama ini dibangun oleh batas negara.

"Yang paling saya sukai adalah saat berinteraksi langsung dengan masyarakat Malaysia. Kami bisa melihat secara nyata bagaimana program yang dirancang bersama dapat memberikan manfaat bagi warga," ujarnya.

Baca Juga: Muhammad Arfan Hashif, Langganan Juara Panahan: Tetap Fokus dalam Suasana Ramai

Kesempatan itu juga membawanya menjelajahi sejumlah destinasi bersejarah di Kuala Lumpur dan Singapura. Bangunan-bangunan ikonik, situs sejarah, hingga kehidupan modern di dua negara tersebut menjadi pengalaman yang sebelumnya hanya ia kenal melalui buku dan ruang kuliah.

Meski demikian, perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus.

Perbedaan logat bahasa, istilah dalam percakapan sehari-hari, hingga kebiasaan masyarakat setempat sempat membuatnya harus beradaptasi. Namun, tantangan itu justru menjadi proses belajar yang berharga.

"Tantangan itu melatih saya menjadi pribadi yang lebih mandiri dan mudah beradaptasi," ungkapnya. (*/zim)

Editor : Hakam Alghivari
#ICBL 2026 #malaysia #features #bojonegoro #mahasiswi