Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Ki Trio Wahyu Aji, Dalang Wayang Thengul Asal Kecamatan Kedungadem: Sering Ikut Bapaknya Mendalang hingga Tidur di Belakangnya

Dewi Safitri • Jumat, 19 Juni 2026 | 10:51 WIB
LESTARIKAN BUDAYA: Dalang Ki Trio Wahyu Aji kenalkan seni budaya daerah hingga mancanegara. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
LESTARIKAN BUDAYA: Dalang Ki Trio Wahyu Aji kenalkan seni budaya daerah hingga mancanegara. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

Kecintaan Trio Wahyu Aji terhadap seni tradisi sudah melekat. Dalang muda ini menunjukan keahliannya hingga ke luar kota.


DEWI SAFITRI, Bojonegoro


SUARA gamelan dari kejauhan terus mengalun, mengisi suasana malam dengan irama menggetarkan. Sepasang tangan muda tampak menari dengan temaram sorot lampu pada layar pertunjukan. 

Jemarinya luwes memegang setiap tokoh wayang. Memainkannya dengan gerak penuh rasa. Menghidupkan kembali kisah-kisah lama yang terwariskan. Ia adalah Trio Wahyu Aji, dalang muda yang dengan semangat menjadi penerus tradisi.

Dunia dalang bukan hal yang asing bagi Trio, sapaan akrabnya, pemuda 25 tahun tersebut sudah jatuh hati pada seni pedalangan sejak kecil. Bahkan, telah menekuni Wayang Thengul sejak duduk di bangku kelas 4 SD.

Bukan sekadar menjadi hobi, kesenian tersebut telah menyatu dalam darah yang mengalir dalam diri Trio. Bermula dari orang tuanya yang berprofesi sebagai dalang Wayang Thengul.

Laki-laki bertempat tinggal di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kedungadem tersebut kerap ikut bapaknya mendalang dan tidur di belakangnya.

Dari kebiasaan tersebut, tidak sedikit pengalaman baru yang didapatkan. Salah satunya, merasa dekat dengan masyarakat yang belum dikenal melalui cerita, canda, dan tawa dalam setiap pertunjukan kesenian wayang. 

‘’Saya cinta dan wayang adalah bagian dari hidup saya,’’ ujar alumni S-1 Seni Pedalangan ISI Surakarta tersebut.

Baca Juga: Olivia Rinjani Alya Susanti, Juara Double Mix Woodball Jatim Open 2026: Berawal Melihat Konten Pelatih Woodball di Media Sosial

Dari pengalaman yang didapatkan melalui malam-malam panjang yang dihabiskan bersama Bapaknya. Tumbuh kecintaan dalam diri Trio yang kian mengakar dan membesar hingga kini.

Profesi tersebut diam-diam meresap ke jiwanya. Membentuk garis hidup yang kini ditapaki dengan keyakinan yang utuh. Menjadi denyut yang menyertai di setiap perjalanan usianya. 

Tidak hanya berpentas mendalang di dalam kota. Trio juga kerap mendalang wayang thengul dan wayang kulit pada sebuah event di berbagai daerah. Seperti, di Lamongan, Tuban, Jombang, Nganjuk, Mojokerto, Surabaya, hingga Solo.

Sederet prestasi membanggakan juga berhasil diukirnya. Meliputi, Anugrah Kebudayaan Dan Mastro Seni Tradisi 2018; Piagam Mentri Pendidikan dan Kebudayaan 2018 atas Dedikasi dan Pengabdian dalam Bidang Seni Pedalangan; Piagam Bupati 2018 sebagai Peraih Penghargaan Dalang Tingkat Nasional; dan Piagam Bupati Bojonegoro Pemuda Pelopor Terbaik 1 Bidang Seni Budaya 2025.

Baca Juga: Aidan Syahm Firman Bhaskara, Pesilat Terbaik Putra Usia Dini: Bermimpi Menjadi Atlet Internasional

‘’Saya juga mendirikan Thengul Art Center,’’ tambahnya.

Tekad kuat melekat dalam diri Trio untuk melestarikan seni tradisi. Menjujung tinggi Kabupaten Bojonegoro melalui seni tradisi. Menurutnya, nenek moyang yang membuat, anak muda yang harus meneruskan.

Memperkenalkan wayang thengul sebagai seni budaya khas Bojonegoro ke seluruh Nusantara, bahkan manca negara. Dengan harapan, tetap Lestari dan lahir dalang-dalang baru yang dicintai masyarakat.

‘’Menjulang tinggi itu wajib, tapi berakar itu yang utama. Dengan seni budaya, menjunjung tinggi bangsa Indonesia,’’ pungkasnya. (*/msu)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#trio wahyu aji #wayang #Thengul #dalang #Tradisi