Tak gentar arus globalisasi, Aida Meilina membawa penelitiannya tentang dialek Jonegoroan ke kancah internasional. Menegaskan bahasa daerah tak hanya jadi alat komunikasi, tapi juga media pembelajaran.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
Genyo. Satu kata yang begitu akrab di telinga masyarakat Bojonegoro. Bersama kata-kata khas lain seperti matoh, ambek, bereng, nggoem, bukunem, hingga wek'em, istilah itu telah lama menjadi bagian dari percakapan sehari-hari warga Kota Ledre.
Bagi sebagian besar masyarakat Bojonegoro, kata-kata tersebut mungkin terdengar biasa. Namun, bagi Aida Meilina, dialek yang selama ini lekat dalam kehidupan sehari-hari justru menjadi jalan yang mengantarkannya ke panggung akademik internasional.
Perempuan asal Desa Bakung, Kecamatan Kanor, itu tak pernah membayangkan bahasa yang tumbuh bersamanya sejak kecil akan menjadi objek penelitian yang menarik perhatian para akademisi dari berbagai negara.
Saat ini, Aida sedang menempuh pendidikan Magister (S-2) Pendidikan Dasar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Pada semester kedua, ia memilih meneliti dialek Jonegoroan sebagai bagian dari tesisnya. Ide tersebut lahir bukan dari laboratorium atau teori-teori akademik yang rumit, melainkan dari pengalaman sederhana sebagai wong Bojonegoro.
Ketika aktif dalam organisasi kepemudaan tingkat provinsi, Aida kerap berinteraksi dengan peserta dari berbagai daerah. Dari situlah ia mulai menyadari bahwa logat dan cara berbicara masyarakat Bojonegoro memiliki karakter yang berbeda dibandingkan daerah lain di Jawa Timur.
“Banyak teman yang bertanya mengapa logat dan dialek Bojonegoro terdengar berbeda dibanding daerah lain di Jawa Timur,” kenangnya.
Pertanyaan itu kemudian memunculkan rasa penasaran. Semakin diamati, semakin terlihat bahwa dialek Jonegoroan memiliki kekhasan linguistik yang unik. Salah satu ciri yang paling menonjol adalah penggunaan akhiran -em atau -nem sebagai pengganti -mu dalam bahasa Jawa standar.
Misalnya, kata bukumu berubah menjadi bukunem. Bagi masyarakat Bojonegoro, bentuk tersebut terasa sangat akrab. Namun, dari sudut pandang linguistik, fenomena itu menyimpan kekayaan budaya yang menarik untuk diteliti.
Berbekal rasa ingin tahu tersebut, Aida mulai melakukan penelitian secara mandiri. Ia melibatkan siswa sekolah dasar, guru, serta lingkungan pembelajaran di Bojonegoro untuk melihat bagaimana dialek Jonegoroan dapat dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar.
Hasilnya cukup mengejutkan. Anak-anak menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi ketika pembelajaran dikaitkan dengan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari. Mereka menjadi lebih percaya diri, aktif berdiskusi, dan lebih mudah memahami materi yang disampaikan.
Tak hanya itu, penggunaan kosakata khas seperti genyo, matoh, dan ambek mampu menghadirkan kedekatan emosional antara siswa dan materi pelajaran. Bahasa yang selama ini dianggap sekadar alat komunikasi ternyata dapat menjadi jembatan pembelajaran yang efektif.
“Ketika guru menggunakan dialek lokal dalam situasi tertentu, siswa terlihat lebih nyaman dan tidak takut untuk bertanya maupun menyampaikan pendapat,” ujar Aida.
Menurutnya, temuan tersebut sekaligus mematahkan anggapan bahwa bahasa daerah menjadi penghambat pembelajaran modern. Sebaliknya, bahasa lokal dapat menjadi sarana pembelajaran yang lebih kontekstual, humanis, dan bermakna bagi peserta didik.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Penelitian Aida berhasil diterima dalam jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus Q4. Tak hanya itu, riset tersebut juga memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 2026.
Pencapaian itu menjadi bukti bahwa kajian budaya lokal memiliki nilai akademik yang tidak kalah penting dibandingkan berbagai isu global lainnya.
Puncak perjalanan itu terjadi pada pertengahan Mei 2026. Aida mendapat kesempatan mempresentasikan hasil penelitiannya dalam konferensi internasional yang digelar di Mindanao State University, Filipina.
Di hadapan para akademisi dan peneliti dari berbagai negara, ia memaparkan bagaimana dialek Jonegoroan dapat berkontribusi dalam pengembangan pendidikan berbasis budaya lokal.
Awalnya, rasa gugup tak bisa dihindari. Namun, kebanggaan karena dapat membawa identitas budaya Bojonegoro ke forum internasional jauh lebih besar. Dalam kesempatan tersebut, ia berdiskusi, menjawab berbagai pertanyaan, sekaligus bertukar pandangan tentang pendidikan dan pelestarian budaya di era global.
Bagi Aida, pengalaman itu menjadi pengingat bahwa budaya lokal memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada yang sering dibayangkan.
“Dulu saya menganggap dialek Jonegoroan hanyalah bahasa yang biasa saya gunakan sehari-hari. Ternyata, ketika diteliti secara serius, ada banyak nilai yang bisa dipelajari dan dibagikan kepada dunia,” tuturnya.
Kini, di tengah derasnya arus globalisasi yang perlahan menggerus penggunaan bahasa daerah, Aida berharap penelitiannya dapat menjadi salah satu langkah kecil untuk menjaga eksistensi dialek Jonegoroan. (*/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana