Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Rina Ayu Maysaroh, Siswi Sekolah Rakyat Menengah Atas 18 Blora Sabet Juara I YSTC: Angkat Isu Dampak Buruk Terlalu Sering Tonton Video Pendek

Achmad Syaeroyzi • Senin, 27 April 2026 | 20:05 WIB
PRESTASI: Siswi SRMA 18 Blora Rina Ayu Maysaroh menyabet prestasi membanggakan falam ajang YSTC. (ACHMAD SYAEROYZI/RDR.BJN)
PRESTASI: Siswi SRMA 18 Blora Rina Ayu Maysaroh menyabet prestasi membanggakan falam ajang YSTC. (ACHMAD SYAEROYZI/RDR.BJN)

Prestasi membanggakan ditorehkan siswi Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 18 Blora. Rina Ayu Maysaroh sukses meraih juara satu dalam ajang Young Scientist Training Camp (YSTC) berkat ide penelitian bertema brainrot, yang menyoroti dampak penggunaan gawai berlebihan.

Ajang yang diselenggarakan Forum Guru Peneliti Indonesia (FGPI) di Salatiga itu diikuti pelajar SMA dari seluruh Jawa Tengah. Ide penelitian Rina dinilai paling menonjol di kategori sosial humaniora. Bahkan mendapat apresiasi hingga dipublikasikan di media sosial Kementerian Sosial.


ACHMAD SYAEROYZI, BLORA, Blora


JARI-jemari itu mulanya asyik mengusap layar (scrolling). Menikmati rentetan video pendek yang lewat bergantian di beranda TikTok dan Instagram. Namun, Rina Ayu Maysaroh menyadari ada yang tak beres. Semakin sering ia menonton konten berdurasi singkat, semakin sulit baginya untuk fokus pada hal-hal yang membutuhkan durasi panjang.

"Sekarang banyak yang lebih suka video pendek, seperti TikTok atau Instagram. Jadi sulit fokus kalau durasinya panjang,’’ terang siswi SRMA 18 Blora itu.

Keresahan pribadi itulah yang kemudian ia olah menjadi sebuah gagasan ilmiah bertajuk brainrot. Sebuah istilah yang ia gali dari referensi Universitas Oxford, merujuk pada fenomena penurunan fungsi berpikir akibat konsumsi informasi cepat dan berlebihan melalui gawai.

Ide ini rupanya menjadi primadona dalam ajang Young Scientist Training Camp (YSTC) yang digelar Forum Guru Peneliti Indonesia (FGPI) di Salatiga baru-baru ini. Bersaing dengan pelajar SMA se-Jawa Tengah, gagasan Rina di kategori sosial humaniora dinilai paling menonjol. Tak tanggung-tanggung, Juara I berhasil ia bawa pulang ke Blora.

Baca Juga: Melihat Konser Lintas Generasi di Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander: Ari Lasso Nostalgia Zaman SD, Ingat-Ingat Makanan Khas Bojonegoro

Bagi Rina, prestasi ini hanyalah awal. Di balik medali emas yang diraihnya, ada pesan kuat yang ingin ia sampaikan kepada generasinya. ‘’Bahwa dunia memang ada di genggaman, namun jangan sampai genggaman itu justru melumpuhkan pikiran,’’ ujarnya.

Kepala SRMA 18 Blora Tri Yuli Setyoningrum tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Menurutnya, isu yang diangkat Rina sangat relevan dengan realitas hari ini. Di mana daya nalar seringkali kalah cepat dengan kecepatan jempol.

‘’Penelitian ini membahas kecenderungan penggunaan HP secara berlebihan yang berdampak pada kemampuan berpikir kritis dan analitis,” jelas Tri Yuli.

Ia melihat fenomena ini sebagai ancaman serius. Banyak anak muda yang lebih betah bermesraan dengan ponsel ketimbang bersosialisasi secara nyata. Jika dibiarkan, kualitas interaksi sosial dan daya nalar bakal merosot tajam.

‘’Kalau dibiarkan, bisa berdampak pada cara mereka menghadapi masalah,” imbuhnya.

Menariknya, sebelum mantap memilih isu "Brendrod", Rina sempat terpikir untuk meneliti sektor pariwisata, yakni Noyogombal di Blora. Namun, jiwanya sebagai peneliti muda berontak. Ia menginginkan sesuatu yang lebih berdampak dan belum umum dibahas.

Baca Juga: Radar History: Pada 2005 Lalu, Penelitian Tunjukkan 14,23 Persen Pelajar MA Tuban Akui Pernah Lakukan Hubungan Intim

Langkah Rina pun membuahkan hasil manis. Tak sekadar trofi, ide penelitiannya bahkan mendapat apresiasi hingga dipublikasikan di media sosial resmi Kementerian Sosial.

Pihak sekolah pun berkomitmen akan terus mengawal bakat-bakat seperti Rina. ‘’Kami fasilitasi secara gratis dan maksimal,” ucap Tri Yuli. (*/ind)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#sekolah rakyat menengah atas #srma blora #young scientist training camp #forum guru peneliti indonesia #brainrot