RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Menjadi Kartini modern memiliki banyak bentuk, namun juga menuntut keseimbangan. Bagi dr. Nia Herdiana Putri, hal itu berarti mampu menyeimbangkan antara klinik kecantikan yang dikelolanya, keharmonisan keluarga, serta kehadirannya bagi buah hati.
Meski telah berkeluarga, Nia tidak dapat meninggalkan rutinitasnya begitu saja. Ia melihat adanya potensi yang bisa digali di Bojonegoro. Selama ini, ia dan sejumlah rekannya harus pergi ke luar kota untuk melakukan perawatan wajah. Sementara itu, klinik lokal kala itu lebih berfokus pada penawaran produk dengan prinsip “ada harga, ada kualitas”.
“Dalam bisnis pasti ada segmentasi pasar. Orang Bojonegoro tentu memiliki daya beli yang berbeda dengan orang Surabaya,” ujar perempuan asal Ponorogo tersebut.
Karena itu, banyak warga Bojonegoro yang memilih ke luar kota hanya untuk melakukan perawatan. Melihat kondisi tersebut, Nia kemudian menciptakan pasar baru, yakni segmen menengah ke atas dengan konsep yang lebih profesional.
“Tempat harus proper, dan bahan-bahan yang kami gunakan diupayakan berkualitas,” jelas Nia mengenai klinik yang dibukanya pada 2024 tersebut.
Menurut Nia, tantangan utama dalam usahanya adalah menyeimbangkan pengembangan bisnis dengan kehidupan keluarga. Ia harus mampu membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, sekaligus memastikan bisnis yang dijalankan tetap terkendali.
Tidak semua hal dapat dilakukan secara bersamaan. Mau tidak mau, ada yang harus dikorbankan, baik itu bisnis, keluarga, maupun diri sendiri. Untuk menyiasatinya, Nia memanfaatkan waktu luang agar tetap bisa bersama anak-anaknya.
“Misalnya saat tidak ada pekerjaan, saya harus ada untuk anak. Seperti mengantar dan menjemput sekolah, baru kemudian bekerja. Saya juga berusaha sudah kembali ke rumah sebelum Magrib agar bisa mendampingi anak belajar,” tambahnya.
Nia juga meyakini bahwa dirinya berkewajiban memberikan pendidikan dan bimbingan terbaik bagi anak-anaknya. Ia bahkan rela mengikuti pendidikan parenting di luar Bojonegoro demi meningkatkan kapasitas sebagai orang tua.
Dari sana, Nia mulai menanamkan nilai kesetaraan gender kepada anak-anaknya. Ia mengajarkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan harus memiliki kemampuan yang sama, termasuk dalam hal memasak.
Di sisi lain, Nia bersyukur karena sang suami selalu mendukung setiap langkah yang diambilnya, terutama di tengah kesibukan mereka sebagai sesama dokter.
Tak Sekadar Bisnis, Ada Misi Kemanusiaan
Tidak hanya memperindah rupa, Nia juga berupaya memperindah hati melalui usahanya. Sebagian keuntungan yang diperoleh disedekahkan untuk berbagai kegiatan kemanusiaan sejak membuka klinik kecantikan.
“Setiap mempromosikan usaha, saya tidak hanya berfokus pada sisi komersial, tetapi juga aspek kemanusiaan, atau setidaknya bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Dalam menjalankan usaha, Nia menyisihkan sebagian kecil keuntungan untuk disumbangkan ke berbagai wilayah yang membutuhkan. Sebagian margin dipotong untuk kepentingan kemanusiaan, mulai dari donasi untuk Palestina hingga bantuan bagi korban bencana di Aceh dan Sumatera.
Menjalankan usaha di tengah berbagai krisis kemanusiaan di era modern juga membuat Nia semakin mendalami makna kehidupan. Menurutnya, kesuksesan di dunia dapat mempermudah seseorang untuk beramal.
Ke depan, Nia ingin melebarkan sayap layanan di kliniknya. Tidak hanya sebagai klinik estetik, tetapi juga berkembang menjadi pusat dermatologi.
“Saya sudah berdiskusi dengan tim, termasuk para dokter. Kami ingin membuka layanan baru yang dilengkapi dengan kamar operasi,” ujarnya. (edo/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana