Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengenal Siti Tarwi'in, Pelaku UMKM Asal Kalitidu: Branding Ulang Balung Kuwuk, Ubah Camilan Jadul jadi Unggul

Hakam Alghivari • Jumat, 10 April 2026 | 09:30 WIB
UMKM: Camilan balung kuwuk buatan Siti Tarwi’in (paling kiri) semakin dikenal masyarakat luas. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
UMKM: Camilan balung kuwuk buatan Siti Tarwi’in (paling kiri) semakin dikenal masyarakat luas. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

Camilan jadul itu pernah nyaris hilang ditelan zamannya, keras, sederhana, dan perlahan dilupakan. Balung kuwuk, yang dulu tak dilirik, kini menjelma renyah, berwarna, dan dicari banyak orang, melintasi generasi hingga batas pulau.


HAKAM ALGHIVARI, Bojonegoro 


TERLETAK di rumah sederhana di Desa Brenggolo, Kecamatan Kalitidu, aroma singkong goreng kerap menguar sejak pagi. Dari tempat itu, seorang perempuan setempat merintis kembali hidup sebuah camilan lama yang hampir punah.

Perempuan itu adalah Siti Tarwi’in, perintis balung kuwuk merek Af Jozz yang mulai diproduksi sejak 2019.  Tak hanya menjual camilan, melainkan mengubah karakter makanan tradisional yang dulu dikenal keras menjadi lebih empuk dan renyah.

“Sebenarnya dari dulu sudah ada, cuma dulu itu keras sekali dan tidak diminati. Sekarang kami olah dengan tekstur lebih empuk dan varian rasa yang banyak, alhamdulillah banyak yang suka,” ujarnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Sentuhannya menjadi pembeda. Dari yang semula hanya satu rasa, balung kuwuk kini hadir dalam berbagai varian. Mulai dari balado, sapi panggang, BBQ, pedas manis, ekstra pedas, hingga cokelat.

Baca Juga: Usaha Kaos Custom Lokal Bojonegoro Menemukan Pasarnya: Berawal Iseng Saat Kuliah hingga Tumbuh Konsisten

Pilihan rasa itu membuat camilan ini tak lagi terjebak sebagai makanan jadul, tetapi menjelma menjadi kudapan lintas generasi. Di tangan perempuan 48 tahun itu, balung kuwuk menemukan pasar barunya.

Anak-anak, remaja, hingga orang tua kini menikmati camilan yang dulu nyaris dilupakan. Perjalanan itu dimulai dari langkah kecil. Saat pandemi Covid-19 melanda, ia harus menjajakan produknya dari pintu ke pintu.

Sesekali ia menitipkan dagangan ke toko-toko, sambil menampung saran dari pembeli. “Iya, dulu kami antar produk dari pintu ke pintu. Kecil-kecilan, nitip di toko, tapi kami telateni,” tuturnya.

Ketelatenan itu perlahan membuahkan hasil. Dari desa kecil di Kalitidu, balung kuwuk kini menembus pasar luar daerah hingga luar pulau. Produk tersebut sudah dikirim ke Kalimantan, Flores, hingga sejumlah kota di Jawa seperti Malang, Blitar, Ngawi, hingga kawasan Jabodetabek.

Selain itu, ada satu momen yang masih diingatnya ketika usahanya masih dalam tahap berkembang. Pada 2021, seorang teman lama yang merantau di luar Jawa memborong balung kuwuk untuk merayakan ulang tahun sang istri.

Sebuah perayaan sederhana yang diwarnai rasa kampung halaman. “Itu jadi momen yang berkesan, ternyata produk kami bisa sampai ke sana dan dipakai untuk acara spesial,” kenangnya.

Kini, dari dapur produksi di sudut desa itu, sekitar satu kuintal singkong diproduksi setiap hari, setara dengan 2.000 pcs. Usahanya juga telah menyerap tenaga kerja, dengan dua karyawan tetap dan dua karyawan lepas.

Meski memproduksi berbagai camilan lain seperti keripik pisang, sukun, tempe, hingga olahan yuyu, balung kuwuk justru menjadi yang paling menonjol. Produk lama yang menemukan kembali jalannya.

Di tengah arus makanan modern yang terus bermunculan, tradisional tidak selalu kalah. Dengan inovasi dan ketekunan, sesuatu yang hampir hilang justru bisa kembali lebih kuat, lebih diterima, dan lebih dicari. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#balung kruwuk #kalitidu #camilan #makanan tradisional #umkm