Komunitas Sanggarjati kembali melalukan kegiatan berbasis sosial, lingkungan, dan literasi. Cemas kondisi anak-anak lebih sering bermain gawai dan mulai tinggalkan permainan tradisional.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
JAUH dari kota, kepedulian masyarakatnya tetap luar biasa. Menjaga lingkungan dan membudidayakan budaya literasi menjadi asa tersendiri bagi para pemuda Kecamatan Kedungadem. Tepatnya para pemuda-pemudi di komunitas Sanggarjati.
Berangkat dari kepekaan dan rasa yang sama akan khawatirnya masa depan anak-anak di tengah pesatnya digitalisasi membuat para anggota komunitas Sanggarjati berani mengambil langkah.
Dengan persiapan yang matang, komunitas literasi, sosial, dan lingkungan ini mampu menggelar tanam bibit 100 pohon yang diikuti pelajar SD dan MI di Desa Mlideg, Kecamatan Kedungadem.
"Kemarin, pada 28 Maret kami dari Sanggarjati dan teman-teman mengadakan kegiatan lingkungan dan pendidikan," kata Gerdian Irwan Prihandiko, salah satu panitia kegiatan sekaligus anggota Sanggarjati.
Iyan, sapaannya, mengatakan, penanaman 100 bibit pohon itu bukan tanpa sebab. Bermula dari kerisauan para anggota komunitas dengan banyaknya anak-anak yang lebih duka bermain gawai dibanding bermain di luar atau lingkungan sekitar. Membuat interaksi semakin terbatas.
"Kami berharap kegiatan ini sedikit banyak mengedukasi pentingnya menjaga lingkungan, apalagi sekarang banyak anak-anak lebih suka main gadget dibanding bermain di luar. Kondisi lingkungan di sini pun sudah mulai transisi di era digital," kata dia.
Sehingga, lanjut dia, kegiatan dilakukan bisa menanamkan hal yang bersifat edukatif khususnya cinta lingkungan. Juga, membangkitkan gairah bersosialisasi antaranak-anak di desa setempat. Sebab, permainan tradisional pun sudah mulai ditinggalkan. "Permainan tradisional masih ada, tapi berkurang," katanya.
Pelajar 22 tahun itu melanjutkan, kegiatan itu tak hanya menanam bibit pohon. Tapi, juga dibarengi sosialisasi terkait pemilahan sampah untuk masyarakat desa dan pelajar SD-MI setempat.
Serta, pemberian tempat sampah untuk fasilitas umum (fasum) seperti masjid, balai desa, dan sekolah. "Kegiatan juga dibarengi sosialisasi pemilahan sampah," tutur Mahasiswa Teknik Perkapalan Universitas Indonesia (UI) itu. (yna/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana