Rasa malas sering kali jadi halangan, tapi bukan berarti berhenti dan tidak berkembang melainkan harus tetap bisa ditaklukkan. Ini membuat Dila Rosma Mayziatunnada berhasil meraih sejumlah prestasi nasional.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
DILA Rosma Mayziatunnada, pelajar yang menekuni dunia akademik sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Dunianya seakan penuh kedisiplinan. Tertib mengatur waktu antara lomba, organisasi, dan sekolah.
‘’Saat SD saya mencoba di bidang akademik dengan mengikuti lomba MIPA san siswa berprestasi dan memperoleh juara 1,’’ ucap pelajar akrab disapa Dila itu dengan tersenyum.
Kemudian, lanjut dia, prosesnya terus berlangsung di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Ia mengembangkan bakat dan minatnya lagi dengan mengikuti olimpiade di beberapa mata pelajaran (mapel) dan mendapat satu emas serta tiga perak.
‘’Selain akademik, saya juga mencoba di nonakademik. Seperti pidato dan mendapatkan juara 2. Saat SMA (sekolah menengah atas) saya pernah meraih beberapa prestasi,’’ ungkap pelajar SMAN 1 Sumberrejo itu.
Baca Juga: Partini, Perajin Batik di Desa Jono, Kecamatan Temayang: Menggerakkan Ekonomi Ibu Rumah Tangga
Prestasi itu di antaranya, medali perak olimpiade biologi dan medali perunggu olimpiade sains Universitas Airlangga, juara 1 lomba video edukasi kesehatan masyarakat di Universitas Malang, dan juara 1 podcast kesehatan mental dari Universitas Atma Jaya Jakarta. Selanjutnya, juara 3 film pendek di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan juara harapan video kreatif dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
Semuanya merupakan kompetisi tingkat nasional. ‘’Kalau tantangan dan kendala pastinya ada,’’ ucapnya. Menurut dia, halangan paling susah adalah rasa malas dan ketika tidak bisa memanajemen waktu dengan baik.
Sebab, kalau tidak bisa mengatur waktu skala prioritas pastinya keteteran antara lomba, organisasi, dan sekolah. ‘’Cara saya sendiri untuk mengatasi itu dengan harus bisa membagi waktu dengan baik dan tahu skala prioritas. Saya mengatur waktu di mana harus fokus ketiganya dan kegiatan lain,’’ ujar Dila.
Selain itu, tambah dia, rasa minder dan pesimis menjadi tantangan tersendiri. Pernah merasakan gagal dalam perlombaan. ‘’Di situlah saya harus optimistis dan semangat kembali untuk mencari di mana saya bisa berkembang dan berprestasi,’’ tutur pelajar kelas 12 itu.
Dia berpikir, jika gagal berarti harus lebih belajar lagi di lain kesempatan. Dengan ketertarikannya di bidang akademik itu, ia berencana melanjutkan pendidikan di prodi kesehatan masyarakat. Karena ingin memberi banyak ilmu dan manfaat kepada orang lain.
‘’Saya rasa lomba yang saya ikuti pun sangat linear dengan jurusan yang saya inginkan. Dari lomba itu belajar bagaimana bisa menyampaikan suatu ilmu atau edukasi kesehatan dengan berbagai cara agar menarik dan diterima dengan mudah oleh masyarakat awam,’’ inginnya.
Pelajar asal Kecamatan Baureno itu menambahkan, banyak hal yang memengaruhi prestasi. Setidaknya dari pemikiran kita sendiri. Menurutnya, tidak perlu hebat untuk berprestasi. Tapi, berprestasilah untuk menjadi hebat.
‘’Saya lebih ke belajar mencari di mana skill saya dengan berani ikut banyak lomba,’’ ungkap dia.
Dia mengaku, berusaha keras untuk melawan rasa malas. Melaksanakan semua dengan senang hati tanpa rasa terpaksa. Selain itu, kata ia, juga memiliki lingkungan yang mendukung dari orang tua, sekolah, dan teman-teman membuat proses lebih mudah dengan bersama.
‘’Saya sendiri lebih memperbanyak relasi dengan mengikuti beberapa organisasi di sekolah maupun luar sekolah,’’ imbuh pelajar 18 tahun itu. (yna/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana