Jalan menanjak menuju Bukit Janjang di Desa Janjang, Kecamatan Jiken, membawa pengunjung pada suasana yang berbeda. Dari ketinggian bukit itu, hamparan sawah terbentang luas. Deretan pohon jati berdiri rapi di kejauhan, menyatu dengan udara desa yang masih terasa segar.
Sekilas, tempat ini tampak seperti destinasi alam biasa. Namun bagi sebagian orang, Bukit Janjang bukan sekadar tempat menikmati panorama. Ada jejak spiritual yang membuat kawasan ini kerap didatangi peziarah dari berbagai daerah.
RAHUL OSCARRA DUTA, BLORA, Radar Bojonegoro
DI bukit bagian timur, terdapat dua makam yang diyakini sebagai leluhur sekaligus cikal bakal Desa Janjang. Makam tersebut adalah Eyang Jati Kusumo dan Eyang Jati Sworo. Sementara di bukit bagian barat terdapat petilasan dan puncak bukit yang sering dijadikan tempat berkunjung.
Di antara dua bukit itu, rumah-rumah warga berdiri tenang. Seolah menjadi penghubung antara kehidupan sehari-hari masyarakat dengan jejak sejarah yang diyakini telah ada sejak lama.
Bagi warga sekitar, makam Eyang Jati Kusumo dan Eyang Jati Sworo bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Di lokasi itu, warga kerap datang untuk berdoa, membaca Yasin, hingga tahlil.
Tradisi desa pun berpusat di tempat tersebut. Setiap tahun, sedekah bumi atau gas desa digelar di kawasan makam. Biasanya dilaksanakan di pendopo kecil yang berdiri tepat di depan area makam.
Suasana biasanya semakin ramai ketika tradisi itu digelar. Warga berkumpul, membawa doa dan harapan agar desa tetap diberi keselamatan serta keberkahan.
Ahmad Santoso, salah seorang warga setempat mengatakan, kawasan makam keramat di Bukit Janjang memang sering didatangi pengunjung dari berbagai daerah.
‘’Yang datang ke sini itu lintas agama dan kepercayaan. Banyak juga yang dari luar daerah,” ujarnya.
Menurutnya, waktu kunjungan paling ramai biasanya saat tradisi sedekah bumi digelar. Namun di luar itu, peziarah tetap datang, terutama pada malam-malam tertentu.
‘’Kalau hari biasa biasanya malam Jumat yang ramai,” katanya.
Dalam kepercayaan masyarakat yang masih memegang tradisi Jawa, ada waktu-waktu tertentu yang dianggap baik untuk berziarah. ‘’Hari yang sering dimanfaatkan biasanya Kamis Pahing atau malam Jumat Pon. Kalau menurut hitungan Kejawen, itu dianggap waktu yang baik,” jelasnya.
Sebaliknya, ada pula hari yang jarang dipilih pengunjung. ‘’Biasanya yang dihindari itu pasaran Wage dan Legi,” tambahnya.
Meski dikenal sebagai tempat ziarah, Bukit Janjang tetap menawarkan pesona alam yang sederhana. Perpaduan antara lanskap pedesaan, jejak leluhur, dan tradisi masyarakat membuat tempat ini memiliki cerita tersendiri.
Bagi sebagian orang, Bukit Janjang bukan hanya soal pemandangan. Tetapi juga ruang untuk mencari ketenangan di antara doa, sejarah, dan keyakinan yang terus hidup di tengah masyarakat desa. (hul/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana