Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Radar History: Saat 98.883 KK Mendapat Kompensasi BBM Akibat Kenaikan Harga 2005 Silam

Yana Dwi Kurniya Wati • Minggu, 15 Maret 2026 | 09:00 WIB

DISERBU WARGA: Berdasarkan arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro pada 1 Maret 2005, di SPBU Bangkle, Kecamatan Kota Blora, 8 ribu liter bensin ludes dalam waktu dua jam.
DISERBU WARGA: Berdasarkan arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro pada 1 Maret 2005, di SPBU Bangkle, Kecamatan Kota Blora, 8 ribu liter bensin ludes dalam waktu dua jam.

 

Kenaikan harga BBM khususnya solar terjadi di sejumlah wilayah termasuk Tuban dan Bojonegoro. Membuat bahan bakar alternatif lain jadi populer. Per 1 Maret 2005, penjualan bahan bakar irex, yang dikenal dengan kepanjangan irit dan ekonomis.


Omzet penjualan campuran bahan bakar mesin disel terbuat dari minyak tanah dan oli bekas ini meningkat 30 persen. Sejumlah pedagang mengaku omzet naik dalam beberapa terakhir. Sebelumnya, omzet rata-rata 300-400 per liter, setelah BBM naik mereka mampu menjual 390-450 liter irex per hari.

Dua awak truk yang ditemui terpisah saat mengisi irex enggan menjawab pertanyaan. Para penjual irex menerangkan, kenekatan para awak truk mencampur bahan bakar truknya dengan irex karena mereka tak mampu menutup biaya operasional yang dianggarkan oleh perusahaan jasa angkutan.

Kapolres Tuban AKBP Bambang Heru Wismoyo didampingi Kasat Intelkam AKP Suparto menyatakan, penjual irex ini sulit dijerat hukum. Sebab, mereka menjual minyak tanah terpisah dengan oli pengoplosnya.‘’Kalau minyak tanah tersebut dioplos dengan oli bekas baru bisa dijerat dengan pidana,’’ kata Bambang.

Sementara itu, di Bojonegoro, buntut kenaikan BBM subsidi, 98.883 kepala keluarga (KK) diproyeksikan mendapat dana kompensasi. Mereka keluarga miskin menurut sensus terakhir badan pusat statistik (BPS) 2003 lalu. Namun, dana diterima belum ditentukan.

‘’Itu masih melalui beberapa proses karena dana ini dianggarkan dari APBN dan harus disetujui dari DPR pusat, baru kemudian turun ke provinsi dsn kabupaten,’’ kata Kepala Dinas Infokom Bojonegoro Kamsoeni.

Terkait angka kemiskinan di Bojonegoro, Kasi Sosial BPS Bojonegoro Inayah mengatakan, Bojonegoro termasuk daerah merah, juga termasuk 10 besar kabupaten dengan jumlah penduduk miskin terbanyak.

Menurut dia, 98.883 KK yang tergolong miskin tersebut didapatkan dari 308.682 KK yang ada. Dengan demikian, jika dihitung angka kemiskinannya ada 32,03 persen. Tingkat kemiskinan, lanjut dia, ditentukan oleh beberapa variabel. Antara lain, sandang, pangan, dan papan.

Sandang dilihat dari jumlah pakaian yang dimiliki, pangan diukur dari fasilitas air bersih dan persentase pengeluaran rumah tangga untuk makanan, sedangkan papan dilihat dari kepemilikan tanah, jenis dinding rumah dan lantainya, sarana buang air besar, serta sumber penerangan rumah.

Sementara itu, untuk variabel lainnya dilihat dari partisipasi sekolah, sumber keuangan rumah tangga, serta pelayanan kesehatan. ‘’Indikator ini sudah melalui penelitian dari tim ahli dan berlaku untuk seluruh Jawa Timur. Ini masih representatif untuk dipakai saat ini,’’ katanya. (yna/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kemiskinan #kenaikan harga #oli #bbm #kenaikan harga bbm #angkutan #harga bbm #tuban #bojonegoro #minyak tanah #bahan bakar