Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Radar History: Ketika Harga BBM Naik pada 2005 Lalu, Sebabkan 8 Ribu Liter BBM Amblas dalam Dua Jam

M. Irvan Romadhon • Minggu, 15 Maret 2026 | 08:45 WIB

DISERBU WARGA: Berdasarkan arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro pada 1 Maret 2005, di SPBU Bangkle, Kecamatan Kota Blora, 8 ribu liter bensin ludes dalam waktu dua jam.
DISERBU WARGA: Berdasarkan arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro pada 1 Maret 2005, di SPBU Bangkle, Kecamatan Kota Blora, 8 ribu liter bensin ludes dalam waktu dua jam.

 

Sambutan masyarajak terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 2005 lalu luar biasa. Di Blora, aksi beli bahan bakar, khususnya premium (bensin), terjadi besar-besaran di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Berdasarkan arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro pada 1 Maret 2005, di SPBU Bangkle, Kecamatan Kota Blora, 8 ribu liter bensin ludes dalam waktu dua jam. ‘’07.30 SPBU menerima kiriman 8 ribu liter. Namun dua jam kemudian ludes diserbu pembeli,” ungkap Antok karyawan SPBU.


Akibat kehabisan stok sejak pukul 09.30, pihak menjemen SPBU tersebut terpaksa meminta kiriman lagi dari Depo Pertamina. Namun, pembeli masih datang berduyun-duyun. Sebenarnya antrean pembeli terjadi lantaran Minggu lalu tak ada pasokan dari Pertamina.

Bahkan hingga pukul 13.00, antrean panjang pembali masih berjubel di sejumlah SPBU Kota Sate. Hanya kebanyakan pembeli adalah para pedagang bensin eceran. Beberapa di antaranya mengaku kulak untuk mengantisipasi kelangkaan BBM yang biasa terjadi setiap kenaikan harga.

Rerata para pembeli tersebut membawa jeriken berukuran 30 liter. Ada yang mengangkut jeriken itu dengan dengan motor. Namun tak jarang yang membawa mobil. Karena itu, di sekitar SPBU terlihat deretan jeriken.

Sementara itu, Bupati Bojonegoro M. Santoso mengumpulkan kepala badan, dinas, kantor, dan bagian, perwakilan badan usaha milik daerah (BUMD), serta pejabat muspida. Hal yang sama juga dilakukan Pj Bupati Lamongan Agus Syamsudin.

Kepala Dinas Infokom Bojonegoro Kamsoeni usai pertemuan mengatakan bupati dan wakil bupati M. Thalhah sengaja mengundang pejabat dinas dan muspida serta perwakilan DPRD hingga perbankan di Kota Ledre untuk melakukan sosialisasi kenaikan BBM.

‘’Tujuannya untuk menyamakan presepsi mengenai kenaikan harga BBM,” jelasnya.

Sedangkan Kabag Humas dan Protokol Pemkab Lamongan Agus Suyanto mengatakan pertemuan digelar sebagai tindak lanjut pertemuan Gubernur Jatim dengan bupati/walikota pada 26 Februari 2005.

Agus menjelaskan kepala instansi dan camat diminta mengamankan dan mengawasi kenaikan harga serta tarif angkutan umum. Terlebih diperkirakan naik akibat harga BBM naik.

Kenaikan harga BBM per 1 Maret 2005 tersebut juga memicu aksi dari beberapa aktivis mahasiswa di Bojonegoro. Aksi itu menolak kenaikan harga BBM dengan membagikan selebaran dan poster penolakan.

Dalam orasinya, Malikul Amin salah satu aktivis menyatakan bahwa turut berduka cita atas naiknya harga BBM. ‘’Penguasa tidak pernah mendengarkan suara rakyat,” ujarnya.

Pada aksi tersebut mereka juga menuntun sepeda motor sebagai simbol ketidak mampuan rakyat membeli BBM. Sehingga menuntut pemerintah menunjau ulang kenaikan tersebut. (irv/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#spbu #kenaikan harga #bbm #kenaikan harga bbm #arsip #harga bbm #bojonegoro #lamongan #antrean #bahan bakar #blora #Jawa Pos