Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Yura Witsqa Firmansyah, Doktor Termuda dan Tercepat UNS Asal Kecamatan Cepu: Rampungkan Studi 2 Tahun 9 Bulan dengan IPK 3,99

Rahul Oscarra Duta • Sabtu, 7 Februari 2026 | 08:30 WIB
DOKTOR TERMUDA: Dukungan orang tua terhadap Yura Witsqa Firmansyah tak pernah surut, kini ia persembahkan gelar doktor kepada bapak dan ibunya.
DOKTOR TERMUDA: Dukungan orang tua terhadap Yura Witsqa Firmansyah tak pernah surut, kini ia persembahkan gelar doktor kepada bapak dan ibunya.

 

Yura Witsqa Firmansyah memantapkan diri sebagai seorang akademisi. Pria asal Kecamatan Cepu itu berhasil menyandang gelar doktor di usia 27 tahun 6 bulan.


RAHUL OSCARRA DUTA, Bojonegoro


UNIVERSITAS Sebelas Maret Surakarta (UNS) menggelar Wisuda Periode I Tahun 2026, Sabtu (31/1) lalu. Di antara para wisudawan, satu nama mencuri perhatian: Yura Witsqa Firmansyah. Usianya baru 27 tahun 6 bulan, namun gelar doktor sudah resmi disematkan di belakang namanya.

Bagi UNS, Yura tercatat sebagai lulusan Program Doktor (S3) tercepat dan termuda pada Wisuda Periode I Tahun 2026. Namun, bagi keluarganya di Kecamatan Cepu, Kabuapten Blora, momen itu adalah puncak dari perjalanan panjang yang penuh doa, keterbatasan, dan kerja keras.

Yura lahir pada 14 Mei 1998, bukan dari keluarga akademisi. Ayahnya, Darminto, merupakan pensiunan PNS Kementerian ESDM yang semasa aktif bertugas sebagai sopir dan staf biasa. Ibunya, Masniah, sehari-hari berjualan pakaian di Pasar Cepu.

Tak ada perpustakaan besar di rumah mereka. Tak pula diskusi ilmiah di meja makan. Namun, ada satu hal yang tak pernah absen, dukungan orang tua agar anak-anaknya terus sekolah setinggi mungkin.

“Kami bukan keluarga yang berlebihan. Tapi, dari kecil Yura memang punya kemauan belajar yang kuat,” ujar Masniah lirih, mengenang perjuangan putranya. Di UNS, Yura menempuh Program Doktor Ilmu Lingkungan.

Ia menyelesaikan studi hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dengan IPK nyaris sempurna 3,99, sebuah capaian langka untuk jenjang doktoral. Yang membuat prestasinya semakin istimewa, Yura lulus tanpa ujian terbuka disertasi.

Ia memilih jalur publikasi ilmiah internasional, dengan riset yang berhasil menembus jurnal bereputasi terindeks Scopus Q2. Sejak itu, namanya resmi tercatat sebagai Dr. Yura Witsqa Firmansyah, S.K.M., M.Kes.

Disertasi Yura mengangkat persoalan pelik di TPA Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, tempat pembuangan akhir yang kerap dilanda penumpukan sampah, longsor, hingga kebakaran.

Lewat judul “Model Mitigasi Risiko Kesehatan Lingkungan terkait Polusi Udara di TPA Sarimukti”, Yura meneliti dampak polusi udara terhadap kesehatan masyarakat sekitar.

“Penelitian ini menggunakan analisis risiko kesehatan lingkungan, lalu dikembangkan menjadi prototipe sistem deteksi dini polutan berbahaya seperti metana, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida,” jelasnya, dikutip dari laman resmi UNS.

Penelitian tersebut tak hanya berhenti di ruang akademik. Yura bahkan sempat menerima Beasiswa Riset Program Doktor dari BAZNAS, sebagai bentuk dukungan atas riset yang dinilai bermanfaat langsung bagi masyarakat.

Di balik prestasi itu, Yura bukan hanya mahasiswa. Selama menempuh S3, ia juga aktif mengajar sebagai dosen di STIKES Adi Husada Surabaya. Waktu menjadi barang mahal. Namun, Yura punya satu prinsip: disiplin tanpa kompromi.

“Saya menargetkan lulus cepat sejak awal. Kuncinya disiplin dan rutin berdiskusi dengan promotor,” tuturnya. Ia dibimbing oleh para akademisi senior, yakni Prof. Dr. Prabang Setyono, M.Si. sebagai promotor, serta Prof. Ari Natalia Probandari dan Prof. Bhisma Murti sebagai ko-promotor.

Kesuksesan Yura ternyata bukan cerita tunggal. Di keluarga kecil itu, semangat pendidikan menular. Kakak Yura kini telah bergelar S2 dan menjadi dosen di perguruan tinggi negeri di Kendal. Sementara, adiknya masih menempuh pendidikan S1 di UIN Semarang.

Bagi Darminto dan Masniah, pencapaian anak-anak mereka adalah kebahagiaan yang tak ternilai. “Kami hanya bisa mendoakan. Semoga ilmunya bermanfaat dan membawa berkah,” ujar Masniah.

Kisah Yura Witsqa Firmansyah bukan hanya tentang gelar doktor termuda UNS. Ini adalah cerita tentang anak sopir dan pedagang pasar yang membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari rumah sederhana.

Dari lorong pasar Cepu hingga podium wisuda UNS, Yura mengajarkan satu hal penting: asal-usul boleh sederhana, tapi cita-cita tak boleh dibatasi. (hul/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kementerian esdm #s3 #uns #akademisi #Ilmu lingkungan #cepu #publikasi ilmiah #blora #Doktor #program doktor #universitas sebelas maret