Banjir menjadi musibah langganan bagi masyarakat Bojonegoro. Seperti yang terjadi pada Februari 2003 lalu. Hujan deras yang mengguyur pada 2 Februari 2003 mengakibatkan puluhan desa di 13 kecamatan terendam banjir. Penyebabnya sungai Bengawan Solo meluap di sepanjang daerah aliran sungai (DAS).
Berdasarkan arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro yang terbit pada 3 Februari 2003, lahan yang terendam mencapai 4.000 hektare. Meliputi lahan pertanian dan pemukiman warga.
Puluhan desa itu berada di wilayah barat. Di antaranya Desa Kalangan dan Sugihwaras (Kecamatan Margomulyo); Tebon, Dengok, dan Kuncen (Padangan); Betet dan Tulungagung (Kasiman); Purwosari (Purwosari); Cengungklung, Manukan, Talok, Mlaten, Sukoharjo, dan Panjunan (Kalitidu); serta Trucuk, Tulungrejo, Mori, Padang, dan Kanten (Malo).
Sementara di wilayah timur meliputi Desa Ngablak dan Ngulanan (Dander); Ledokwetan (Kota Bojonegoro); Semenpinggir (Kapas); Sarirejo, Kedungdowo, dan Kedungbondo (Balen); Kanor, Prigi, Kedungprimpen, dan Gedungarum (Kanor); serta Gajah (Baureno).
Menurut Shodiqun warga Ledak Wetan mengatakan air datang dari utara pemukiman warga kelurahan setempat sekitar pukul 06.00. Karena turunnya air dari tangkis sungai Bengawan Solo itu mendadak, sejumlah warga tidak sempat mengemasi perabot rumah tangga. ''Saat bangun tidur, air sudah masuk rumah," katanya.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro kala itu, papan petunjuk ketinggian air di sekitar Taman Bengawan Solo (TBS), Jalan Jaksa Agung Suprapto, hingga pukul 14.00 menunjukkan ketinggian air mencapai 14,78 skala peilschall atau hampir setinggi 15 meter dari atas permukaan air laut.
Kasubdin Humas dan Media Informasi Dinas Infokom dan Pengelolaan Data Elektronik Bojonegoro Muntoro mengatakan genangan tidak merusak padi. Berbeda ketika sudah merendam selama sepekan.
Muntoro menjelaskan kondisi belum bisa dikatakan darurat. Terlebih kondisi permukaan air baru 14 skala peilschall. Namun berstatus siaga III.
Muntoro mengaku menyiagakan tim penanggulangan bencana alam (TPBA) yang tersebar ke kecamatan-kecamatan. Tim tersebut telah menyediakan obat, sembako, serta posko.
Setelah sehari, tepatnya pada 3 Februari 2003 ketinggian air Bengawan Solo menurun. Pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro di beberapa daerah luapan air masih menggenang di sejumlah pemukiman warga. Ketinggian air mencapai 20 sentimeter (cm) hingga 60 cm.
Pada pukul 10.30, ketinggian permukaan air sempat menyentuh angka 14,95 peilschall. Namun pada pukul 14.00 turun hingga 14,95 peilschall.
''12.560 haktare lahan padi terancam musnah. Selain itu, sekitar 14.630 rumah milik 79.440 penduduk terancam rusak," ungkap Kepala Dinas Infokom dan PDE Bojonegoro Kamsoeni. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana