Endang Winarti, lebih akrab disapa Wina Bojonegoro tetap setia merawat dunia literasi sejak 1988. Penulis asal Bojonegoro yang kini menetap dan berkarya di Surabaya.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
Di usia 63 tahun, Endang Winarti, lebih dikenal sebagai Wina Bojonegoro, masih menyebut kampung halaman dengan nada yang sama hangatnya seperti ketika pertama kali mengenal kata. Pulang, baginya, bukan sekadar kembali ke tempat, melainkan kembali ke akar.
“Masih sering pulang, seperti Desember kemarin saya pulang untuk reuni kecil SMA,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Wina lahir dan menghabiskan masa kecil hingga lulus SMP di Desa/Kecamatan Ngasem. Setelah itu, melanjutkan pendidikan SMA dan tinggal di Jambean, Desa Sukorejo, Kecamatan Kota Bojonegoro.
Jejak-jejak itulah yang diam-diam membentuk kepekaannya pada cerita tentang rumah, tentang manusia, tentang kenangan.
Minat menulis Wina tumbuh dari kebiasaan sederhana di rumah. Ayahnya gemar membaca dan berlangganan koran. Dari lembar-lembar itulah, dunia perlahan terbuka. “(Menjadi penulis) karena Bapak suka membaca langganan koran,” kenangnya.
Ia mulai menulis sejak SMP dan SMA. Bahkan, sebelum mengenal dunia kerja, tulisannya sudah memberinya penghasilan. Namun selepas lulus SMA, Wina memilih merantau dan bekerja di Surabaya.
Kota itu kemudian menjadi tempatnya menetap, bekerja, sekaligus terus berkarya, tanpa pernah benar-benar meninggalkan Bojonegoro dalam ingatan.
Sejak 1988, cerpen demi cerpen lahir dari tangannya. Konsistensi puluhan tahun itu akhirnya berbuah pengakuan. Pada 2024, Wina menerima Anugerah Sutasoma, penghargaan sastra dari Balai Bahasa Jawa Timur, yang diserahkan di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya.
Namun bagi Wina, menulis tak berhenti pada pencapaian personal. Ia melangkah lebih jauh, membangun ruang bagi penulis lain. Lewat penerbit yang didirikan, Perempuan Penulis Padma (Perlima), Wina terus menyalakan api literasi.
Karya terbaru terus hadir dalam bentuk buku cerita anak berjudul Fantasia, yang diluncurkan pada 18 Januari lalu di Surabaya. Buku ini merupakan hasil kolaborasi Perlima dengan sejumlah komunitas penulis, berisi sekitar dua puluh cerita anak yang lahir dari rangkaian kegiatan literasi sepanjang 2025.
Pemilihan genre cerita anak bukan tanpa alasan. Wina melihat ruang yang masih luas, sekaligus kebutuhan yang belum terpenuhi. “Melalui cerita anak kita bisa masuk ke mana saja dan mendidik secara tidak langsung. Anak-anak juga masih kekurangan bahan bacaan,” katanya.
Bagi Wina Bojonegoro, menulis adalah perjalanan panjang—berangkat dari rumah, berkelana ke kota, lalu kembali dalam bentuk cerita. Pulang mungkin sesekali, tetapi kata-kata yang ia tinggalkan terus menetap, tumbuh, dan menyapa generasi demi generasi. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana