Waktu sekolah menjadi masa-masa indah. Kesempatan mengukir prestasi Cakra Buana Syamsudin Khatulistiwa. Awalnya sering berganti cabang olahraga (cabor), kini menekuni pencak silat dan mengumpulkan banyak medali.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
"Saya sudah tertarik di dunia olahraga saat masih kecil dulu," ucap Cakra Buana Syamsudin Khatulistiwa, pelajar kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs) Sunan Drajat Kedungasantren, Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro Kota saat berhasil diwawancara Jawa Pos Radar Bojonegoro, Minggu siang (28/12).
Pelajar akrab disapa Cakra itu menceritakan perjalanannya dalam dunia olahraga. Meski belum terkenal seperti atlet lainnya, ia berhasil menabung medali di rumahnya. Dari medali emas di ajang silat Bojonegoro Championship kategori seni tunggal tangan kosong tingkat pra remaja.
Dan, dua medali perunggu di Unesa Pencak Silat Challenge Competition III kategori tanding dan seni tunggal. Cakra mengaku, sebelumnya sempat menekuni beberapa cabor. Di antaranya bulutangkis, panahan, bahkan karate.
"Tapi, setelah saya melanjutkan pendidikan di Ponpes Sunan Drajat Kedungsantren mengikuti ekstrakurikuler pencak silat Gaspi (Gabungan Silat Pemuda Islam) Bojonegoro sampai sekarang," katanya.
Pelajar kelahiran Jakarta Timur yang berdomisili di Kecamatan Bojonegoro Kota itu juga bercerita bagaimana prosesnya meraih prestasi. Bagi dia, menang kompetisi adalah cara untuk melatih mental dan jiwa. Sesuai ajaran kedua orang tuanya. Menurut dia, juara adalah bonus.
Untuk meraih juara harus melalui berbagai proses. Dari latihan-latihan dan evaluasi. Setiap kesalahan harus diperbaiki. "Meraih juara seyogyanya adalah proses akumulasi dari latihan, latihan, dan latihan serta evaluasi. Serta, dengan arahan dari pelatih yang memberi semangat dan dukungan orang tua," ujarnya.
Bahkan, lanjut Cakra, setelah kompetisi selalu diajarkan untuk melatih jiwa kompetitor dan kepemimpinan. Evaluasi untuk lebih baik lagi ke depannya. Dia juga mengaku, ada kejutan tersendiri dari orang tua saat menang kejuaraan. Tapi, saat kalah tentu ada konsekuensi. "Minimal push-up lah," ujarnya tersenyum.
Dia percaya, kegagalan hanya sesuatu yang tertunda. Jika selalu menang tidak akan merasakan kegagalan. Dipastikan akan mudah tumbang di kemudian hari. "Sebelum kompetisi kami disarankan pelatih untuk jaga pola makan dan tidur agar berat badan tetap terjaga. Fisik tetap fit dan tidak mudah sakit, selalu siap kapanpun," ucapnya.
Cakra menambahkan, mungkin akan mencoba cabor baru ke depannya. Tepatnya badminton. Juga, ada keinginan terbesarnya saat ini, yakni menyusun buku sesuai dengan motto ponpes untuk membangun mental juara.
"Semoga sebelum lulus bisa menyusun buku Kunci Sang Juara dengan bimbingan kedua orang tua serta ustaz. Semoga saya bisa memiliki buku daya sendiri terkait itu," harap dia.
Pelatih Gaspi Ponpes Sunan Drajat Kedungsantren Ahmad Ubaidillah Annuri menambahkan, bakat Cakra sudah terlihat dalam olahraga. Tapi, tidak dalam dunia seni bela diri. Namun, berkat potensi dan semangat latihan Cakra berhasil menguasai dan dipilih menjadi peserta kompetisi.
Ubaid, sapaannya melanjutkan, latihan pencak silat itu dilakukan tiga kali seminggu. Dan, memberi jadwal tambahan sebelum kompetisi. Pria domisili Kecamatan Bojonegoro Kota itu mengaku, menjaga ketat pola makan dan tidur anak didiknya. Menjaga kebugaran jasmani atau olahraga ringan setiap hari agar tubuh tetap fit.
Dia berharap, prestasi Cakra tidak membuatnya jemawa. Harus tetap berlatih dan menikmati proses. "Harus tetap semangat dan jangan bosan berlatih. Karena belum tentu semua musuh atau atlet itu pemula. Proses berat akan menumbuhkan hasil yang hebat. Jangan perlihatkan prosesmu kepada orang lain tapi tunjukkan hasilmu karena akan dilihat ketika berhasil," pesan pria 22 tahun itu. (yna/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana