Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Natal di Desa Kolong, Kecamatan Ngasem: 75 Tahun Merawat Kebersamaan Lintas Iman

Dhani Wahyu Alfiansyah • Kamis, 25 Desember 2025 | 16:30 WIB
PERSIAPAN NATAL: Gereja Katolik Stasi Santa Maria Desa, Kolong Kecamatan Ngasem persiapan Natal kemarin.
PERSIAPAN NATAL: Gereja Katolik Stasi Santa Maria Desa, Kolong Kecamatan Ngasem persiapan Natal kemarin.

 

Di sebuah sudut Desa Kolong, Kecamatan Ngasem, suasana menjelang malam Natal terasa hangat dan bersahaja. Rabu (24/12) sore, di Gereja Katolik Stasi Santa Maria, sebuah gereja kecil yang sebentar lagi genap berusia 75 tahun.


DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro


TAK ada hiruk pikuk berlebihan. Yang terasa justru ketenangan. Beberapa warga lalu-lalang, sebagian membantu persiapan misa malam Natal.

Di tempat inilah, nilai toleransi tumbuh dan dipraktikkan secara alami, jauh dari slogan dan wacana.

Andrean, seorang frater asal Kalimantan yang tengah menempuh pendidikan menjadi imam Katolik, mengaku terkesan dengan kehidupan sosial di Desa Kolong.

Baru dua hari berada di desa tersebut untuk bertugas melayani misa malam Natal, Andrean langsung merasakan sesuatu yang berbeda.

“Orang di desa ini benar-benar sudah mempraktikkan toleransi. Bahkan tanpa perlu tahu konsep toleransi sekalipun,” ungkapnya saat ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Andrean bercerita, selama berkunjung ke rumah-rumah warga, ia merasakan ketenteraman dan keterbukaan. Meski mayoritas warga beragama Islam, tak ada sekat yang terasa.

“Warga yang beragam Islam di sini (Desa Kolong) juga tidak lantas tertutup. Justru terbuka soal perbedaan," katanya.

Meski tinggal sementara di gereja, Andrean mengaku kerap dijamu dan diantar warga. “Selama di sini (Desa Kolong) banyak diantar, dijamu warga, dan banyak lagi. Itu sudah merupakan bentuk toleransi,” ujar frater yang kini menempuh studi S-2 di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Malang tersebut.

Di sisi lain, aroma masakan tercium dari dapur gereja. Ketua Stasi Gereja Santa Maria Desa Kolong, Maria Dasri, tampak sibuk memasak untuk persiapan kegiatan malam Natal. “Saat ini masak-masak untuk persiapan nanti malam,” tuturnya sambil tersenyum.

Perempuan yang akrab disapa Bu Dasri itu menuturkan, kebiasaan mengundang tetangga untuk makan bersama saat Natal sudah berlangsung turun-temurun. Saat ini, terdapat 53 kepala keluarga dengan sekitar 100 umat Katolik di Desa Kolong.

“Kalau ada tetangga, kita ajak makan bersama,” katanya singkat.

Tradisi kebersamaan itu, menurut Bu Dasri, sudah berlangsung sejak gereja berdiri dan terus dijaga hingga kini. Bahkan, pada 1 Januari mendatang, bertepatan dengan misa peringatan 75 tahun Gereja Stasi Santa Maria, warga sekitar juga akan diundang.

Bukti toleransi lain tampak nyata dari letak rumah ibadah. Di samping Gereja Stasi Santa Maria, hanya berjarak kurang dari 70 meter, berdiri Masjid Al-Ihsan—tempat ibadah umat Islam Desa Kolong. Kedekatan fisik itu menjadi simbol kedekatan sosial yang telah lama terjalin.

Di Desa Kolong, Natal bukan hanya tentang perayaan umat Katolik. Ia menjelma menjadi peristiwa bersama, tentang saling menghormati, saling menguatkan, dan hidup berdampingan. (dan/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Sosial #gereja katolik #misa #katolik #Ngasem #natal #Santa maria #malam natal #kolong #Toleransi #imam katolik #gereja #Misa Malam Natal