Tekad Djehan Masheila sudah bulat. Berkat ketekunannya belajar anggar sejak kelas 10 membuatnya ingin menjadi atlet anggar nasional dan membanggakan kabupaten tercinta.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
DARI desa yang berjarak lumayan jauh dari kota tak menyurutkan semangat para pemudanya. Layaknya Djehan Masheila pelajar asal Desa/Kecamatan Bubulan. Jarak tak menghalangi impiannya menempuh pendidikan dan mencapai cita-cita menjadi seorang atlet anggar.
"Jarak tak menghalangi impianku. Harus dan tetap terus semangat untuk itu," kata pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri Model Terpadu (SMANMT) Bojonegoro itu. Pelajar akrab disapa Djehan itu mengungkapkan, awalnya tak mengenal apa itu olahraga anggar.
Hingga akhirnya, saat kelas 10 SMA ia mulai mencoba mencari tahu dan tertarik. Karena termasuk dalam ekstrakurikuler di sekolahnya. "Karena anggar ini olahraga yang unik dari lainnya. Di Bojonegoro belum banyak yang tahu olahraga anggar," katanya.
Dia pun bercerita posisi anggar baginya. Meski butuh pengorbanan dan kerap menemui duka tapi ia selalu mengingat suka sebagai semangat. Menurutnya, latihan bersama coach atau pelatih dan temen-temannya dalam berbagi materi menjadi kebahagiaan tersendiri.
Sebab, juga menambah pengalaman "Duka sebenarnya tetap ada, mungkin seperti atlet lainnya. Capek latihan dan bosan, tapi kita harus tahu juga kapan waktunya bangkit dan tetap semangat untuk latihan," ucapnya.
Bahkan, bagi dia, banyak cerita unik yang dialami. Seperti tak tahu cara memakai alat di venue saat kali pertama kompetisi. Dan, tidak dibantu pelatih sampai dianggap benar-benar tidak bisa. Hingga mengorbankan jam pelajarannya saat lomba berlangsung.
Tak ayal badan juga sering memar. "Kalau ada lomba kita ada dispensasi, tapi bisa membuat ketinggalan pelajaran dan tugas. Pengorbanan lainnya itu badan juga harus siap memar karena terkena pedang angga," ujar Djehan.
Meski tak sebanyak atlet lainnya dalam meraih juara, dia mengaku sudah tiga kali ikut kompetisi. Dua di antaranya menang, sedangkan satu lainnya gugur. Yakni, Juara 3 Kejurprov 2024 di Sidoarjo dan Juara 3 Porprov 2025 di Malang. Dan, satu kali gugur saat Surabaya Open.
"Tapi, sayangnya yang di Malang itu ada kesalahan yang mengakibatkan kami tidak mendapatkan juara. Kesalahan event-nya bermasalah. Dan, ini kami beregu," katanya. Pelajar 17 tahun itu mengaku, ingin terus mengembangkan dan menekuni dunia anggar.
Bercita-cita menjadi atlet nasional yang membanggakan keluarga dan mewakili kabupaten tercinta. "Maunya seperti itu, menekuni anggar ini. Rencana ke Unesa (Universitas Negeri Surabaya), kan di sana olahraganya bagus," tuturnya.
Dia menambahkan, dalam meraih impiannya yakin mendapat dukungan orang tua. Sebab, apapun yang disuka pasti didukung. Terlebih, kompetisi anggar sudah pernah ditaklukkan. "Keluarga tipikal mendukung apapun yang saya suka. Apalagi di anggar ini sudah pernah mendapatkan prestasi yang bisa membanggakan keluarga," ujar dia. (yna/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana