Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Angger Bilal Prakoso, Peserta Lari Siksorogo dari Bojonegoro: Kaki Sempat Kram di Dekat Garis Finis

M. Irvan Romadhon • Rabu, 10 Desember 2025 | 16:30 WIB
LARI TERUS: Angger Bilal Prakoso ikut event trailrun Siksorogo 15 kilometer.
LARI TERUS: Angger Bilal Prakoso ikut event trailrun Siksorogo 15 kilometer.

 

Angger Bilal Prakoso baru pertama kali mengikuti event trailrun Siksorogo. Turun di nomor 15 kilometer, Angger ingin mengetahui batas diri. Hasilnya berhasil finis di urutan 144 dalam event trailrun terbesar di Jawa Tengah tersebut.


IRVAN RAMADHON, Bojonegoro


PENUH antusias dan semangat, Angger Bilal Prakoso menceritakan pengelamannya mengikuti trailrun Siksorogo di Kebupaten Temangggung pada 7 Desember lalu.

Walau event trailrun melintasi Gunung Mitis dan Gunung Cemoro tersebut memakan dua korban jiwa.

Angger berhasil finis di urutan 144 dari lebih dari 1.000 peserta di kategori 15 kilometer (KM). Termasuk dua korban jiwa tersebut mengikuti kategori yang sama.

‘’Setelah finis baru diumumkan ada korban meninggal,” ungkap guru SMP Al-Amanah tersebut

Pelari asal Kelurahan Mojokampung, Kecamatan Bojonegoro Kota tersebut start berlari pukul 07.00. Melintasi jalan becek, berlumpur, dan menanjak. Namun justru kondisi tersebut menjadi kenikmatatan.

‘’Tanjakan hingga puncak Gunung Mitis,” jelas pelatih rugby tersebut.

Angger merasakan event lari semua peserta, panitia, hingga warga sekitar yang ramah di Siksorogo. Padahal jumlah peserta ribuan dari seluruh wilayah Indonesia. Keramahan tersebut menjadi motivasi untuk mencapai garis finis.

‘’Baik kenal atau tidak saling memberikan semangat,” terang pelatih anggar tersebut

Siksorogo 2025 ini menjadi pengalaman pertama Angger mengikuti trailrun tersebut. Ingin memacu dan mengetahui kemampuan diri menjadi alasan mengikuti Siksorogo.

Walau sempat merasakan kram jelang finis, Angger mencoba mendorong diri agar mencapai finis.

‘’Awalnya berpikir finis dengan jalan, namun akhirnya bisa finis dengan lari,” jelasnya.

Angger merasa puas dengan pengalaman mengikuti Siksorogo. Terlebih selama ini tidak menjalani latihan elevasi atau ketinggian suatu tempat. Padahal di trailrun tidak hanya jarak tempuh yang dilatih.

Persiapan dilakukan Angger selama tiga bulan untuk mengikuti Siksorogo. Baik menyiapkan fisik maupun perlengkapan hingga asupan makanan. Terlebih persiapan menjadi bagian penting. Termasuk untuk mengetahui kategori yang diikuti.

‘’Ikut kategori 15 km karena sadar diri kemampuan tidak lebih dari itu,” ungkapnya. (irv/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Lari #TrailRun #indonesia #Jawa Tengah #korban jiwa #Korban Meninggal #bojonegoro #siksorogo