Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Nurlaiyla Rahmadhini Wakidjan, Warga Kecamatan Dander Kuliah di Luar Negeri: Ranking 3 Besar sejak SD

Dewi Safitri • Jumat, 5 Desember 2025 | 16:00 WIB
DI LUAR NEGERI: Nurlaiyla Rahmadhini Wakidjan, Warga Kecamatan Dander berhasil kuliah di luar negeri.
DI LUAR NEGERI: Nurlaiyla Rahmadhini Wakidjan, Warga Kecamatan Dander berhasil kuliah di luar negeri.

 

Masa lalu Nurlaiyla Rahmadhini Wakidjan penuh luka. Namun, perempuan 23 tahun ini berhasil membuktikan, bahwa bullyan yang diterima semasa SMA, kini telah berubah menjadi tepuk tangan kebanggaan.


DEWI SAFITRI, Bojonegoro


SEMANGAT terus membara. Layaknya obor yang menerangi di tengah kegelapan. Begitulah Nurlaiyla Rahmadhini Wakidjan dalam mengarungi bahtera impian.

Bersama tekad yang terus membesar, ia memeluk ambisi kuat yang tumbuh sejak kecil. Ambisi yang lahir bukan dari kemewahan. Melainkan dari luka, air mata, dan keteguhan gadis kecil yang terus memilih untuk berjalan meski banyak kaki lain yang menahan.

Sejak dini, peringkat kelas adalah rumah pertamanya dalam berkiprah. Sejak duduk di bangku SD, Layla sapaannya, tidak pernah absen menduduki peringkat 3 besar.

Namun, hidup tidak selalu seindah angka. Dunia SMA menjadi masa kelam yang tidak terlupakan. Mendapati perundungan yang menusuk. Bukan karena tidak memiliki prestasi, justru setiap ujian  selalu menjadi patokan dari teman-teman sekelasnya. Namun, tidak meredakan perlakuan buruk yang diterima.

‘’Dari SMA saya korban bullying, selalu menjadi bahan olok-olokan, muka seperti monyet dan diledek omah lemah abang sama teman sekelas. Saya tidak punya teman sekelas, jadi suka main ke kelas teman dan kakak kelas yang memperlakukanku dengan baik,’’ kisah perempuan 23 tahun tersebut.

Menyadari bukan berasal dari keluarga berada, membuat kaki Layla harus lebih kuat dalam melangkah ke depan. Orang tua yang tidak bisa support secara finansial karena latar belakang ekonomi yang pas-pas. Tidak lantas membuatnya menyerah akan mimpi yang dibangunnya sendiri.

Layla menyimpan setiap sakit yang diterima sebagai bara. Dan, setiap motivasi kecil dari teman sebangku maupun guru sebagai angin yang menjaga bara tersebut tetap menyala.

Tatkala mimpi untuk kuliah di luar negeri terasa jauh. Terlebih, dengan keadaan ekonomi dan hinaan dari keluarga dekat yang merendahkan dengan kalimat ‘’Mau makan saha susah sok-sokan kuliahin anak,’’

Membuatnya sangat teriris. Namun, takdir berkata lain, ia ditautkan dengan harapan baru, yakni diterima sebagai mahasiswa dengan mendapat beasiswa bidikmisi.

‘’Aku tidak putus asa. Papaku selalu support, bahkan mengantarkan ke Bali. Mencari kos jalan kaki membeli keperluan. Semua diusahakan hingga selesai ospek, Papa baru balik ke Bojonegoro,’’ ujar alumni S-1 Universitas Pendidikan Ganesha tersebut.

Bali menjadi rumah baru yang positif bagi Layla. Bertemu teman layaknya keluarga dan selalu support mentalnya. Namun, lagi-lagi masalah ekonomi masih menghantui. Bahkan, ia pernah makan hanya menggunakan nasi dengan sisa kuah mie sisa semalam.

Untuk bertahan hidup, dia bekerja part time, jualan online dan sebagainya. Hingga dengan bangga bisa mengirimkan uang kepada Papa dan Mamanya di Bojonegoro.

Sampai pada kesempatan, terdapat lowongan S-2 dari program kampus percepatan ke Taiwan. Tanpa memberi tahu orang tua, daftar dan diterima. Dengan bantuan support finansial dari kampus dan tambahan dari dosen. Ia bergerak melangkah lebih jauh meraih impiannya.

‘’2023 aku ke Taiwan dan sambil bekerja part time di tahun kedua. Bisa kirim uang ke orang tua dan mengikuti banyak kegiatan,’’ tambah perempuan asal Desa Sumberarum, Kecamatan Dander tersebut.

Sederet prestasi membanggakan berhasil diraih Layla. Di antaranya, menjadi lulusan S-2 Ming Chi University of Technology International Management Business Administration.

Jalur beasiswa fully funded dan program Fast Track S-1 dan S-2 dalam 5 Tahun dengan ipk 4.24 dari 4.25, posisi ranking 2; Finalis lomba thesis Award 18th TOPCO Taiwan; Menjadi salah satu dari 10 perwakilan Mingchi University Technology dalam project Jepang (Shibura Institute Technology dan UNITEN Malaysia) dalam story telling SDG 5 kesetaraan gender; Juara 3 lomba debat tim Bahasa Indonesia tingkat Nasional; dan berbagai catatan prestasi membanggakan lainnya.

Tidak kalah membanggakan baginya, dengan bekerja sebagai marketing specialist di perusahaan Taiwan. Ia memiliki kesempatan liburan ke Korea selama satu minggu dengan gratis. Pergi ke Thailand bersama teman, mengajak kakaknya jalan-jalan ke Malaysia dan Singapore, serta mengajak kedua orang tua jalan-jalan ke Bali.

‘’Selama ada tekad, kemauan, Tuhan dan alam merestui, pasti ada jalan,’’ pungkasnya. (ewi/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kuliah #Pendidikan #bullying #taiwan #Ekonomi #dander #sma #bojonegoro #S-2 di australia #perundungan #korban bullying #peringkat