Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Taqwi Matus Sholikhah, Guru Muda Raih Emas Nasional: Anggap Bahasa Indonesia sebagai Dasar Berpikir

Dhani Wahyu Alfiansyah • Kamis, 30 Oktober 2025 | 16:30 WIB
JUARA NASIONAL: Taqwi Matus Sholikhah berhasil membawa pulang Medali Emas OSP 2025 bidang Bahasa Indonesia.
JUARA NASIONAL: Taqwi Matus Sholikhah berhasil membawa pulang Medali Emas OSP 2025 bidang Bahasa Indonesia.

 

Sebagian orang menganggap Bahasa Indonesia dianggap mudah. Namun, bagi Taqwi Matus Sholikhah, bahasa bukan sekadar alat berbicara, melainkan dasar dari cara berpikir.


DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro


MENGAJAR di madrasah setiap hari tak membuat Taqwi Matus Sholikhah berhenti belajar. Keyakinan itulah yang membawanya menembus ajang nasional dan membawa pulang Medali Emas Olimpiade Sains Pemuda (OSP) 2025 bidang Bahasa Indonesia.

Perempuan berjilbab asal Desa Ngujung, Kecamatan Malo, Bojonegoro itu kini duduk di semester Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri).

Bahkan, di sela kesibukannya mengajar di MI Al-Islam Tulungagung, Kecamatan Malo, dan kuliah. Taqwi masih menyempatkan diri mengikuti berbagai kompetisi.

Terakhir, pada 12 Oktober 2025, ia berhasil menjadi yang terbaik di antara 242 peserta dari berbagai perguruan tinggi seluruh Indonesia, dalam ajang bergengsi yang digelar oleh Presmanesia. 

“Saya tertarik dengan mapel Bahasa Indonesia karena pada dasarnya saya dari prodi PGMI, Bahasa Indonesia itu merupakan fondasi utama literasi di pendidikan dasar,” tuturnya.

Kalimat sederhana itu menjelaskan banyak hal. Sebagai calon guru madrasah, Taqwi meyakini bahwa kemampuan berbahasa menjadi pintu pertama untuk memahami semua pelajaran. Tanpa kemampuan berbahasa yang baik, anak-anak akan kesulitan memahami konsep lain, bahkan dalam sains sekalipun

“Sebagai calon pendidik di MI, saya harus memahami bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai alat berpikir,” katanya.

Pengalaman mengajar membuatnya peka terhadap kondisi di lapangan. Ia melihat, banyak siswa yang bisa membaca namun belum memahami isi bacaan secara mendalam. “Saya sudah memiliki pengalaman mengajar, sehingga saya memahami betul bagaimana kemampuan literasi Bahasa Indonesia anak-anak masih tergolong rendah," ceritanya.

Dari situlah motivasinya tumbuh. Ia ingin memperdalam ilmunya agar bisa menemukan strategi pembelajaran yang lebih efektif. “Dengan mengikuti olimpiade, saya dapat memperdalam kemampuan berbahasa. Agar kelak mampu menumbuhkan kemampuan literasi dan berpikir kritis pada peserta didik,” jelasnya.

Bagi Taqwi, prestasi bukan sekadar angka atau medali. Ia merasa punya tanggung jawab moral sebagai penerima beasiswa untuk memberikan manfaat nyata dari ilmu yang ia pelajari. “Karena saya mahasiswa penerima beasiswa, biar ada hubungan timbal balik,” ucap gadis 22 tahun itu.

Perjalanan Taqwi menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia bukanlah pelajaran sekadar tata bahasa dan tanda baca, melainkan dasar dari seluruh kemampuan berpikir kritis yang harus dimiliki generasi muda. (dan/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Guru #PGMI #malo #indonesia #ajang nasional #olimpiade sains #Pendidikan #madrasah #bahasa indonesia #Pendidikan Guru #unugiri #pelajaran #bojonegoro #tulungagung #pendidikan dasar #madrasah ibtidaiyah