Dari sorotan lampu panggung menuju cahaya layar ponsel, perjalanan Dicky Candra Setiawan menunjukkan seni tak pernah kehilangan ruang untuk hidup. Alumni Jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu kini sebagai kreator konten asal Bojonegoro.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
LAHIR di Bojonegoro pada 27 September 1999, Dicky tumbuh di lingkungan yang tidak begitu akrab dengan dunia seni. Di rumah, pilihan untuk menekuni teater sempat dianggap jalan yang tidak pasti. Namun, justru di situlah tekadnya terbentuk: membuktikan bahwa seni bukan sekadar hiburan, melainkan cara berpikir dan hidup.
“Mungkin karena posisi di rumah background seni itu sulit diterima. Jadi saya ingin mencoba menerapkan ilmu saya di bidang yang lebih relevan,” tutur Dicky dengan tenang.
Selama kuliah di ISI Surakarta, Dicky ditempa dalam dunia teater yang disiplin, dari cara memahami naskah, memaknai karakter, hingga membaca emosi penonton.
Dunia itu membentuknya menjadi sosok yang reflektif dan peka terhadap realitas sosial. Baginya, panggung teater adalah ruang kecil tempat manusia belajar menjadi manusia.
Setelah lulus, Dicky memilih pulang ke kampung halamannya di Desa Banjarejo, Kecamatan Bojonegoro Kota. Memulai berbagi ilmu dengan menjadi pengajar teater di beberapa sekolah.
Hidupnya sederhana namun tetap berirama seni. Hingga suatu ketika, bulan Ramadan datang membawa jeda panjang.
“Awalnya ngajar teater di sekolah-sekolah, tapi karena pas puasa kemarin banyak diliburkan. Akhirnya saya mulai ngonten,” kenangnya sambil tersenyum.
Awalnya sederhana, hanya mengisi waktu luang. Namun dari situ muncul ruang baru bagi kreativitasnya. Ia mulai membuat video pendek dengan gaya komedi dramatikal, paduan antara ekspresi panggung, gestur teater, dan kelucuan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Awalnya ya karena faktor ekonomi juga. Ngajar teater libur,” katanya jujur.
Dengan hanya bermodalkan ponsel dan ide yang terus berputar di kepalanya, Dicky menjadikan media sosial sebagai panggung digital. Ia menulis naskahnya sendiri, mengarahkan dirinya sendiri, bahkan mengedit videonya hingga tuntas.
Konten-konten Dicky tak hanya mengundang tawa, tetapi juga berbagai ajakan pekerjaan dan endorse yang diterimanya. Tak kurang, dengan bermodal gawai ia bisa membuktikan bisa hidup dari seni.
Meski kini dikenal sebagai konten kreator, Dicky tak ingin meninggalkan panggung teater sepenuhnya. Dunia itu masih menjadi sumber energi dan identitasnya sebagai seniman.
“Tidak hanya fokus pada hiburan, saya tetap berkeinginan di panggung teater,” tegasnya. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana