Lahir dari keluarga petani tidak menjadi penghalang bagi Fatikha Mayani untuk mewujudkan mimpi, tekadnya berhasil mengenyam pendidikan dan meraih pengalaman hingga tingkat internasional
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
Tinta tekad dan kesabaran mewarnai tulisan takdir Fatikha Mayani. Sejak kecil, perempuan 22 tahun tersebut telah menatap cakrawala dengan pandangan jauh.
Ia ingin menembus batas, membuktikan bahwa anak desa bisa berdiri sejajar dengan siapapun di ruang akademik bergengsi.
Fatikha lahir dan tumbuh di lingkungan sederhana. Kedua orang tuanya bekerja sebagai petani. Dari kerja keras orang tuanya dari pagi hingga sore untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, ia belajar arti ketekunan yang sesungguhnya.
Dengan tekad kuat, ia ingin membuktikan, bahwa latar belakang keluarga bukan penghalang untuk meraih impian yang telah lama tersulam. Yakni, kuliah di universitas terbaik dan menjadi seorang dosen.
Dan semesta, rupanya mendengar doa dari perempuan yang tiada lelah merangkai mimpi tersebut. Melalui jalur Golden Tiket Ketua Osis, ia diterima di Universitas Airlangga (Unair) pada jurusan Bahasa dan Sastra Inggris pada 2021 lalu.
Fatikha juga menjadi penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK).
Belum puas dengan toga sarjana, gadis asal Desa Wedoro, Kecamatan Sugihwaras tersebut membentangkan mimpi lebih luas lagi. Melalui program Fast Track S-2 Kajian Sastra dan Budaya Unair. Ia melompat menuju jenjang magister, bahkan sebelum wisuda S-1.
‘’Saat ini saya sudah berada di semester 3, sedang menyelesaikan tesis S-2 tentang masyarakat adat Samin di Bojonegoro,’’ ujarnya.
Perjalanan Fatikha di panggung akademik telah melintasi batas negara. Ia aktif mengikuti berbagai program Internasional. Mulai dari joint class antara Unair dan salah satu universitas di Thailand; Joint Class antara Unair dan University Malaysia of Sabah; Joint Classantara mahasiswa Unair dan Thailand; dan berpartisipasi dalam International Program Cultural and Urban Literature for Inclusive Transformation 2025.
‘’Semua pengalaman tersebut membuat saya semakin yakin, bahwa kebudayaan adalah ruang dialog antarbangsa yang bisa memperkaya cara kita untuk melihat dunia,’’ terangnya.
Selain sederet pencapaian tersebut. Fatikha juga aktif menulis opini maupun artikel. Beberapa karya tulisnya, meliputi Isu Normalisasi Kaum Pelangi di Indonesia, Kumparan; Generasi Z dan Krisis Makna: Hidup dalam Pusaran Scroll yang Tak Berujung, Harian Disway; Nyekar Menjelang Lebaran: Tradisi yang Terlupakan atau Tradisi yang Harus Diselamatkan, Harian Disway; Preserving Tengger Language: Challenges and Teaching Integration Strategies at SMPN 4 Tosari; Pakaian Tradisional Sedulur Sikep di Bojonegoro sebagai Medium Pemertahanan Budaya di Tengah Arus Modernitas; The Influence of K-Pop Body Representation on Indonesian Adolescent Girls’ Self-Perception: A Southeast Asian Cultural Context; dan The Use of Role Play as English Pronunciation Teaching Technique for Students at SMP Negeri 2 Sugihwaras Bojonegoro.
Di balik segala pencapaian itu, Fatikha tetap menjejak tanah dengan rendah hati. Ia tahu, di setiap keberhasilannya, ada peluh orang tua yang mengajarkan arti ketulusan. Ia berharap, bisa terus menjadi versi terbaik dari dirinya. Untuk keluarga, masa depannya, juga anak muda di luar sana yang memiliki latar belakang sepertinya.
‘’Saya berharap bisa menjadi dosen dan peneliti bidang kebudayaan yang tidak hanya aktif di bidang akademik. Tapi, membawa manfaat nyata bagi masyarakat,’’ harapnya.
Melalui kisahnya, Fatikha ingin menunjukan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi anak desa. Dengan kerja keras, doa, dan niat baik. Semua hal bisa dicapai. Terpenting, harus berani bermimpi, mencoba, dan tidak mudah menyerah meski jalan tidak selalu mudah.
‘’Anak desa pun bisa menembus universitas besar dan ternama. Bisa menulis, meneliti, dan ikut berkontribusi di level nasional bahkan internasional,’’ pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana